
"Mba,aku tau ini sangat berat buat mba menerima keadaan seperti ini,aku juga tau gak mudah buat mba bicara sesantai ini dengan ku. kenapa mba nggak berusaha mencegahnya saat itu?" Tanya Azky seraya menatap sendu wajah istri pertama dari suaminya itu.
"Ada pahala di dalamnya Azky." Kata Shafiah sambil mengawasi Abiyu bermain bola dan sesekali ia melambaikan tangan pada Abiyu.
"Banyak pahala yang bisa kita raih selain dari menerima poligami mba." Azky merubah posisi duduknya menatap Shafiah dari samping.
"Aku tau,tapi mungkin ini jalan yang Allah berikan untuk ku menuju surganya."
"Bnyak pintu menuju surga mba,aku sih gak mau melalui pintu itu." Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Azky."
"hhmm..?" Jawabnya tanpa berkata.
"kamu belum memberikan hak mas Zahfran?"
"Hak apa?"
"Hak dan kewajiban suami istri?"
"Belum,dan aku tidak mau mba,aku tidak mencintai suami anda, aku akan menyerahkan mahkota yang paling berharga, pada pria yang aku cintai.?"
"Tapi dia suami mu sekarang,apa yang ada di dalam diri mu,semua itu adalah miliknya.dan kamu wajib melayani mas Zahfran."
"Aku nggak mau mba."
"Mas Zahfran sangat mencintai mu."
"Dia tidak mencintai ku,dia menikah dengan ku karna nafsu."
"Kalau dia menikahi mu karna nafsu,mungkin dari awal dia akan memekasa mu memenuhi haknya, tapi sampai sekarang dia tidak memaksa mu kan? dia menunggu sampai kamu benar-benar memberikannya dengan sepenuh hati."
"Tapi dia menikahi ku karna nafsu mba,kalau karna sunnah,kenapa dia hanya menjalankan sunnah poligami saja? kenapa dia tidak melaksanakan solat 5 waktu?" Sarkasnya sangat kesal.
"Itu lah Azky,kamu harus membantu aku untuk merubah sifat mas Zahfran."
"Aku gak tau mba,aku benar-benar tidak bisa menerima jalan pikiran mu."
Shafiah terdiam. "Bukan mudah bagi ku menerima keadaan ini Azky,tapi aku akan selalu berusaha. Ingat Shafiah,janji Allah itu adalah benar. Bersabarlah Shafiah." Ucap Shafiah dalam hati.
"Kemana mereka?" Tanya Bram pada diri sendir saat mobilnya menepi di tepi jalan guna mencari keberadaan kedua istri tuannya.
Matanya berkeliing mencari sekitar taman,tetap dia tidak menemukan. Bram memutuskan untuk turun dan mencarinya sambil berjalan. "mereka pergi bersama Abiyu,apa mungkin dia ada di taman yang sering di gunakan untuk bermain bola? ya..mungin di sana." Bram mempercepat langkahnya menuju taman itu. Dan akhirnya dia menemukan mereka. "Syukurlah kalian ada di sini."
Bram menghampiri Shafiah dengan sedikit berlari. "Nyonya." Ucap Bram dengan nafas terengah-engah.
Shafiah menoleh. "Bram? kamu kenapa?"
"Kamu kemana aja?" Tanya Bram tanpa ia sadari ia sudah melakukan kesalahan tidak memanggil Shafiah dengan panggilan nyonya di hadapan orang lain.
Shafiah terdiam.lalu menatap Azky. Begitupun dengan Bram baru menyadari kalau Azky ada di antara mereka.
"***Kamu***?" Batinnya.
"Maaf. Maksud saya nyonya Shafiah."
"Kenapa?"
"Ada tuan besar di rumah nyonya."
"Maksud mu papah sama mamah?" Tanyanya sangat antusias.
"Ya nyonya."
"Kalau gitu, ayo kita pulang Bram,aku sangat merindukan mereka."
"Tunggu nyonya."
"Kenapa?"
"Aku hubungi tuan dulu."
"Buat apa Bram?"
__ADS_1
Bram segera menghubungi Zahfran tak lama panggilan itu tersambung. "Tuan,saya sudah menemukan istri anda."
"Cepat bawa Shafiah dan Abiyu pulang,dan bawa Azky ke apartemn ku."
"Baik tuan." Bram memutus sambungan telfon lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Nyonya,ayo kita pulang." Tuan besar menunggu anda.
"Apa yang kamu bicarakan dengan mas Zahfran?"
"Suami anda meminta saya membawa nyonya Azky ke apartemen miliknya."
"Kenapa?" Tanya Shafiah terheran.
"Anda tidak mau kan,kalau mertua anda tiba-tiba terkena serangan jantung saat tau putranya menikah lagi?"
"Kamu benar Bram,aku hampir lupa.Cepat antar Azky ke apartemen mas Zahfran."
"Tidak mba. Antar aku ke rumah om Herman saja,aku mau menemui mereka." kata Azky.
"Kamu yakin?"
"Ya mba, udah lama aku gak ketemu sama mereka."
"Bram,berapa lama papah akan tinggal?"
"Ntah lah nyonya.mereka membawa koper besar,aku rasa mereka akan tinggal lebih lama dari biasanya."
"Aku gak apa-apa mba. untuk sementara aku akan tinggal bersama om Herman."
"Sudahlah nyonya,kita fikirkan lagi itu nanti,sekarang cepatlah ikut saya pulang,semua orang menunggu anda."
"Benar mba,sebaiknya mba cepat pulang." Timpal Azky
Shafiah mengangguk setuju lalu memanggil Abiyu. "Abiyu..." panggil Shafiah dari kejauhan.
"Ya bunda?" saut Abiyu sambil memegang bola di tangannya.
"Ayo pulang nak."
"Tidak bunda,Abiyu masih mau main bola."
"Di rumah ada nenek sama kakek nunggu kita."
"Kakek dan nenek? benarkah?"
"Ya sayang."
Mendengar kedatangan kakek dan neneknya,Abiyu berlari menghampiri sang bunda dengan sangat antusias."Aku rindu dengan kakak dan nenek,ayo kita pulang bunda." Ucap Abiyu dengan mata berbinar.
"Azky,biar pengawal mas Zahfran mengantar kamu ke rumah om Herman ya?"
__ADS_1
"Tidak perlu mba,aku bisa naik taksi atau angkot."
"Jangan macam-macam kamu,kamu mau kabur dan berbuat masalah?" Ucap Bram dengan sorot mata tajam.
"Aku mau kabur ke mana tuan Bram? sekalipun ke ujung dunia,majikan anda akan dengan mudah menemukan ku." Ucap Azky mendengus kesal.
"Kalau begitu jangan membantah perintah ku,dan pergi bersama pengawal itu."
"Baiklah tuan Arogan." Azky menyerah,agar cepat selesai.
"Mari nyonya." Ucap Bram mempersilahkan Shafiah dan Abiyu jalan lebih dulu,di ikuti oleh Bram dari belakang.
"Bram. Kapan papah datang?" Tanya Shafiah sambil berjalan menuju mobil.
"Belum lama nyonya,baru stengah jam yang lalu." Ucap Bram sambil membuka pintu mobil di sisi sebelah kiri Shafiah dan Abiyu duduk di kursi penumpang.
"Hati-hati bawa mobilnya Bram."
"Baik nyonya." Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kemana menantu dan cucu kesayangan mamah?" Tanya Bu Melisa selaku ibu dari seorang Zahfran malik.
"Shafiah lagi di taman mah,sebentar lagi juga pulang."
"Mamah gak sabar mau bertemu mereka." Kata bu Melisa sambil merebahkan diri di atas sofa.
"Eli.bawa koper-koper ini ke kamar atas." Titah Zahfran pada salah satu pembantunya.
"Baik tuan."
"Gak..gak.. papah mau di kamar bawah aja.papah gak mau naik turun tangga."
"Kamar tamu maksud papah?"
"Ya,kemana lagi?" kata pak herlambang sambil melepas jasnya lalu memberikan jas itu pada salah satu pengawal Zahfran yang berdiri tepat di belakangnya.
"Gawat,barang-barang Azky masih ada di sana,terlebih pakaiannya." Batin Zahfran ketakutan.
"Bawa koper saya ke ruang tamu." Titah pak Herlambang.
"Tunggu...tunggu.." cegah Zahfran ada pembantu yang akan membawa koper milik orangtuanya itu.
"Kenapa sih? kamu ko kayak ketakutan gitu dari tadi?" Terheran.
"Tau,kamu gak suka ya kami datang berkunjung." sambung bu Melisa.
"Bukan gitu mah pah.Kan gak mungkin dong papah sama mamah tidur di kamar tamu"
"Memangnya kenapa?"
Belum sempat Zahfran menjawab pertanyaan sang ayah,tiba-tiba Abiyu memanggil sang kakak yang sangat ia rindukan itu. "Kakek...!" Teriak Abiyu dari kejauhan dan langsung berlari menghampiri sang kakek.
"Jagoan kakek." Pak Herlambang langsung mengulurkan tangannya saat Abiyu berlari ke arahnya.lalu menggendongnya. "Dari mana saja jagoan kakek?"
"Habis main di taman kek."
"Sama bunda?"
"Ya,sama tante juga."
"Tante?"
"Ya,tante Azky kakek."
"Tante Azky? Siapa? Siapa yang Abiyu maksud Zha?" Tanya pak Herlambang pada Zahfran.
Semua orang yang mendengar pertanyaan papahnya, membuat mereka terdiam mematung dalam letakutan dan kebingungan masing-masing, terlebih Zahfran. Ia takut keburukannya di ketahui oleh orangtuanya,dan dapat di pastikan itu akan berdampak pada kehidupannya.
~
~
~
~
Kira-kira apa jawaban Zahfran saat mendapat pertanyaan dari pak Mahendra.
Mau ketauan di Bab berikutnya atau gak niih?
"Jangan lupa tingggalkan jejak para reader setiaku ya.
💝 Like
💝 Komen
Membangun semangat Author.
__ADS_1