
"Jangan mengungkit masa lalu, Azky. Kita sedang membicarakan putri kita," tegas Zahfran.
"Kenapa?" Suara Azky membentak. "Kamu takut? kamu merasa bersalah? atau, kamu menyesal?"
"Aku tidak pernah menyesal, karna aku tidak pernah merasa melakukan kesalahan."
"Cih..." Azky tersenyum menyeringai.
"Ya, aku lupa. Seorang Zahfran Malique tidak pernah bersalah, anda selalu benar."
"Kamu tidak tau bagaimana aku hidup membesarkan mereka, kamu tidak tau bagaimana sakitnya aku melahirkan anak-anak tanpa kamu, kamu tidak tau rasa sakit setiap kali mereka menanyakan siapa ayahnya, kemana ayahnya. Kamu tidak tau sakitnya aku mendapat penghinaan dari semua orang, kamu tidak tau itu, Mas Zahfran. Sekarang kamu bilang aku sudah gagal menjadi seorang ibu? kamu fikir, kamu sudah berhasil menjadi seorang ayah?"
Mas Zahfran bergeming, matanya terus memandang Azky mendengarkan semua ungkapan isi hati yang tidak pernah ia dengar selama ini.
__ADS_1
"Azky..."
"Aku sskit, aku menderita, sedangkan kamu bahagia tanpa tau bagaimana rasa sakit yang aku alami saat itu, aku yang membesarkaj mereka dengan kasih sayang, bukan kamu. Masih mau bilang aku tidak mengerti mereka?"
Sakit. Zahfran telah menggores kembali luka yang sudah lama sembuh. Ia menangis, bukan karena masa lalu, dia menangis karena sudah dianggap gagal menjadi seorang ibu, dia merasa bersalah karena tidak tahu apa yang diinginkan putrinya, dialah orang yang paling menderita saat ini, menyaksikan penderitaan kedua putrinya jauh lebih menyakitkan dari apapun.
Fatih sang suami, memeluk Azky, terus berusaha menenangkan, sedangkan Zahfran yang merasa bersalah, pergi meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar tamu, menyesali semua kesalahan di mana lalu, dia merasa gagal menjadi seorang ayah, karena tidak ada diantara mereka saat mereka membutuhkannya.
"Maafkan aku, Azky. Aku menyesali atas semua yang terjadi," ucap Shafiah penuh penyesalan, atas semua yang terjadi di masa lalu.
Shafiah meneteska air mata, Fatih melihat ada rasa sakit yang tidak bisa Shafiah ucapkan, tapi sorot mata itu mengungkapkan apa yang tidak bisa diungkapkan.
"Kamu sakit, Shafiah. Bukan perkara mudah hidup dengan seorang pria yang hatinya sudah terbagi untuk wanita lain, hanya saja kamu selalu diam, dan merasakan sakit itu sendirian," batin Fatih.
__ADS_1
Di tempat lain, Maharani yang baru saja berhasil diselamatkan, terus menangis dalam pelukan Panji dengan kondisi menyedihkan.
"Rani nggak cintai sama Kak Gilang, A. Rani cinta sama Aa.
Hiks.. hiks.. hiks..
Sudah tidak ada pilihan lagi, memendam perasaan cinta bertahun-tahun cukup membuat ia menderita, sehingga akhirnya Rani pun mengatakan isi hatinya.
"Nggak, Ran. Itu perasaan yang salah, tidak seharusnya kamu mempertahankan perasan itu. Kamu mencintai Gilang, dan akan selamanya akan mencintau dia," pungkas Panji masih memeluk tubuh lemah itu dengan kondisi baju mereka yang sama-sama basah.
"Berapa kali aku bilang, aku nggak cinta sama kak Gilang, A. Aku udah berusaha mencintai dia, dan di dalam hati aku cuma ada Aa," ungkap Maharani walau dengan tangis terisak, lalu ia pun melepaskan diri dari pelukan Panji.
"Aa juga cinta kan sama aku? kita bisa memulai semuanya dari awal, A. Kita saling mencintai," ujar Maharani mentap wajah Panji lekat-lekat.
__ADS_1
"Iya, aku sangat mencintai kamu, tapi kita tidak bisa bersatu, Ran. Sampai kapan pun kita tidak akan bisa bersatu."
"Kenapa, A?