
"Rani sayang. Anak kecil kan gak boleh bohong ya? ayo jujur sama Kakak, apa ini uang Rani semua? khm..?" tanya Gilang menatap intens wajah Rani.
Rani yang kecurangannya dapat terendus oleh Gilang, membuat tubuhnya gemetar, menatap wajah Gilang ketakutan.
"Aku.."
"Khhmm.. Kenapa? uang ini milik kamu semua?" kembali Gilang bertanya.
Tidak tau apa yang harus ia jawab, kebohongan tidak pernah dibenarkan dalam hal apapun. Itu lah nasehat yang selalu ia dengar dari Azky.
Rani melirik ke arah Aisyah. dan Aisyah menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat untuk tidak berkata jujur pada Gilang.
"Tolong. Berbohonglah untuk kali ini, Rani." batin Aisyah bergumam.
Rani yang merasa kebingungan atas pertanyaan Gilang, dan akan menjawab apa? kembali menatap wajahnya, ketakutan.
"Ayo Ran, uang siapa ini? ini uang kamu semua? atau milik Panji."
Rani pun mengangguk ragu, dan akhirnya ia berkata jujur.
"Iya. Itu uang A Panji."
Mendengar pengakuan Rani, membuat senyum di wajah Gilang semakin mengembang bahagia. Dia menurunkan tangannya dari bahu Rani lalu mengacak puncak rambutnya seraya berkata.
"Anak pintar." saut Gilang terus tersenyum, lalu Aisyah menyahutinya.
"Jangan gitu dong Kak. Kakak ko jahat sih?" kata Aisyah dengan mengerutkan dahinya, menatap tidak suka.
"Loh.. jahat gimana? Kakak kan cuma minta Rani jujur. Harusnya kamu bangga dong sama kejujuran adik kamu, Isya."
"Terus Kakak mau apa sekarang?" kali ini Rani yang bertanya.
"Sesuai perjanjian. Kamu harus jadi pacar Kakak."
Deg.
Deg.
Deg.
Jantungnya berdegup kencang menatap wajah Gilang dengan mengerutkan keningnya, ia pun menggelengkan kepalanya.
"Nggak."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kakak apa-apaan sih? aku ini anak kecil Kak. Aku gak boleh pacaran sama umi sama abi," kata Rani berusaha menolak.
"Kan lo bisa bohong, dan Isya juga jangan bilang sama umi sama abi kalian."
"Nggak. Aku gak mau bohong. Aku bakalan cerita sama umi sma abi kalau kakak maksa Rani jadi pacar Kak Gilang," saut Aisyah penuh emosi.
"Iya. Aku juga sama. Baru tadi Kakak bilang jadi anak gak boleh bohong, kenapa sekarang kakak nyuruh aku berbohong?"
Skakmat.
Gilang terjebak dengan perkataannya sendiri, dan harus kembali berfikir bagaimana caranya agar Rani tetap menjadi keksihnya.
Rani dan Isya akhirnya bisa tersenyum saat melihat Gilang kebingungan.
"Kita menang," Aisyah berbisik di telinga Maharani.
Jangan sebut namaya Gilang Wira kalau dia mau mengalah begitu saja. Siswa yang baru satu tahun memakai seragam putih abu itu, kembali tersenyum setelah mendapatkan cara untuk tetap menjadikan Rani kekasihnya.
"Ok. Kita gak jadi pacaran sekarang. Kita pacaran nanti pas lo udah lulus SMP. Lebih tepatnya, pas lo masuk kelas satu SMA. Gimana?"
"Iih.. Kakak mah tambah ngelantur," saut Aisyah.
"Ngelantur gimana? gue udah kasih keringanan lagi loh itu."
"Nggak. Pokoknya nggak."
"Rani. Kamu ngomong apa sih?" kata Aisyah kembali mengerutkan dahinya.
"Suut.." Rani meletakan jarinya di mulut.
"Kakak diem dulu."
Aisyah pun diam, dan membiarkan Rani kembali bicara dengan perasaan was-was.
"Aku setuju. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat? apa syaratnya?"
"Aku gak mau denger ataupun ngeliat kakak tauran lagi."
Gilang terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Tauran itu harga diri gue, gue gak mungkin lari dari mereka yang terus menginjak nama baik sekolah sama temen-temen gue. Itu namanya gue pengecut."
"Aku gak ngerti sama apa yang Kakak omongin. Yang aku tau, tauran itu gak baik. aku gak mau punya pacar suka tauran."
__ADS_1
"Tetep gak bisa. Gue tetep bakal bela temen-ten gue."
"Terserah. Kalau Kakak sanggup sama persyaratan aku, aku juga sanggup jadi pacar Kakak saat aku kelas satu SMA nanti."
Kali ini Gilang tidak bisa lagi berkata. Persyaratan yang Rani minta sangat berat, karna dengan tidak lagi ikut serta dalam tauran, sama saja dia mengkhianati teman-temannya.
Rani sangat yakin kalau Gilang tidak akan menyetujui persyaratan yang ia ajukan, itu jelas terlihat dari raut wajahnya.
Karna Gilang terus diam, Rani dan Aisyah pun pergi meninggalkan Gilang dalam kebingungan yang sangat berat.
Saat Rani hendak menutup pintu gerbangnya, saat itu juga Gilang berteriak.
"Gue sanggup."
Tangannya tertahan saat mendengar teriakan Gilang.
"Gue sanggup sama syarat lo. Gue agak akan ikut tauran lagi. Dan lo juga harus tepatin jani lo, Rani. Gue bakal nemuin lo, saat lo masuk kelas satu SMA. tunggu gue. Gue pasti datang."
Tak ingin mendengarkan lagi perkataan Gilang, Rani kembali menutup pintu gerbang, lalu menguncinya. Saat Rani memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah, di sana sudah ada Panji yang juga mendengar apa yang Gilang teriakan tadi.
"Aa salah denger kan Ran?" tanya Panji dengan deru nafas yang memburu, berharap apa yang ia dengar tadi adalah tidak benar.
Perasaan juga pikiran Rani saat ini sedang tidak baik-baik saja. Rani meninggalkan Panji begitu saja, tanpa menjawab pertanyaannya.
Aisyah yang langkahnya terhenti karna Panji menarik tangannya, memilih diam tidak menjawab, dan masuk ke dalam rumah bersama adiknya. Sedang Panji diam termanggu menatap mereka berdua yang melangkah semakin jauh.
Semenjak perjanjian itu terjadi, baik Rani maupun Aisyah, tidak pernah bertegur sapa lagi dengan Gilang, dia bahkan semakin jarang berada di rumahnya.
Pernah beberapa kali ia memergoki Gilang pulang ke rumahnya, itu pun cuma terlihat di sabtu pagi, dan minggu sore. Selain hari-hari itu, Gilang tidak pernah terlihat lagi.
Karna penasaran, Rani pernah bertanya pada pak Darwin mengenai Gilang yang sangat jarang terlihat berada di rumah. Dan ternyata selam ini Gilang tinggal di rumah tentenya. Alasannya kenapa? pak Darwin pun tidak tau, karna saat dirinya bertanya pun Gilang tidak pernah mau menjawab.
Cukup aneh memang, tapi Rani tidak perduli dengan semua itu. Dia malah merasa senang karna bisa saja selama mereka tidak bertemu, Gilang akan memiliki kekasih, dan akan melupakan perjanjian dengan dirinya.
Waktu terus berjalan. dan ini tahun ketiga Gilang tinggal di rumah tantenya. Kalau di hitung, tahun ini Gilang lulus sekolah, sedang Rani baru kelas dua SMP.
Mngkin Gilang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kuliah. Entahlah, Rani tidak tau, dan tidak juga mencari tahu.
"Aku berharap, Kak Gilang udah gak perduli lagi sama perjanjian dulu kak," kata Rani pada sang Kakak sambil menautkan tangannya, pada lengan Aisyah berjalan di sebuah supermarket bersama kedua orangtuanya.
"Pasti. Kamu tenang aja," saut Aisyah.
Mereka terus berjalan, memilah-milah makanan yang akan mereka beli. saat Rani mengambil snack yang jatuh, saat itu juga ada anak kecil memberikan sepucuk surat padanya.
"Dari siapa?" tanya Rani. bukannya menjawab, anak kecil itu malah berlari menghindar. Dia bahkan tidak sedikit pun menoleh saat rani memanggilnya. Rani yang juga penasaran dengan isi surat itu, langsung membukanya dan langsung membacanya.
__ADS_1
"Hai..."