
"Ada apa, Fatih? sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting sampai mengajak aku untuk bertemu?" tanya Zahfran memulai percakapan, Ia memenuhi panggilan Fatih untuk bertemu dengannya di sebuah kafe.
"Iya, ini sangat penting," Fatih menjawab setelah menyeruput secangkir kopi, lalu meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
"Apa?"
"Ini tentang putri kita, Rani."
"Kenapa dengan Rani?”
"Dia ingin menikah secepatnya."
"Kenapa? kalian yang memaksa dia untuk segera menikah? karna Panji tinggal di rumah kalian?"
"Berhenti menuduh sembarangan! Dan apa yang kamu katakan barusan? kalian? maksudmu aku dengan Azky? kamu pikir kami yang memaksa mereka untuk menikah secepatnya?" tanya Fatih dengan kening mengerut, wajahnya berubah merah padam menahan emosi.
"Aku tidak mengatakan itu. Sepertinya kamu tersinggung."
"Jaga bicara kamu, Zahfran. Aku mengajak kamu ke sini, untuk berdiskusi perihal pernikahan putri kita. Bukan saling menuduh."
Zahfran menyeruput kopinya, lalu mengangguk sambil meletakkan kembali gelas itu di atas meja. "Aku juga tidak sedang ingin berdebat denganmu, Fatih. Mari kita lanjutkan."
"Satu hal yang pasti, Zahfran. Panji tidak lagi tinggal di rumahku. Dia tinggal di rumah kontrakan yang nantinya akan ia tempati setelah menikah."
Mendengar putrinya akan tinggal di sebuah kontrakan setelah menikah, Zahfran langsung melayangkan protes keras. "Apa kamu bilang? kontrakan? putriku akan tinggal di sebuah kontrakan? Ayah macam apa kamu ini, Fatih. kamu akan membiarkan Rani tinggal di sebuah kontrakan?"
"Ini sudah menjadi kesepakatan bersama, Zahfran. Ini peraturan yang om Herlambang berikan sebagai bentuk hukuman untuk Rani yang sudah membuat kesalahan besar."
Zahfran bergeming menatap ke arah lain.
"Aku tidak pernah mau menghukum Rani. Kalau saja peraturan itu tidak dibuat oleh om Herlambang, aku pasti akan memberikan semua yang mereka butuhkan, sama seperti Gilang yang akan aku berikan restoran untuk ia kelola," ungkap Fatih.
Zahfran menyadari apa yang sudah Rani lakukan adalah salah. Ia mengangguk setuju dengan apa yang Fatih katakan, menikahkan Rani sesuai dengan keinginannya, tanpa memberikan sepeserpun harta warisan yang mereka punya.
Bukan tidak sayang, pak Herlambang melakukan itu demi kebaikan Rani yang selama ini selalu bergelimang harta, juga menghargai Panji yang nantinya akan menjadi suami Rani, bertanggung jawab atas dirinya, dunia akhirat.
__ADS_1
Zahfran mengangguk setuju. Ia pun bertanya, "Kapan Rani ingin menikah?"
"Minggu depan. Kita akan segera mengurus segala keperluan."
"Satu minggu? mana cukup?" saut Zahfran.
"Rani ingin menikah di kantor urusan agama. Hanya acara sederhana setelah ijab kabul."
"Baiklah. Nanti aku mampir ke rumah untuk bicara dengan Rani juga Panji."
"Tidak perlu," tolak Fatih.
Dia yang baru saja hendak memasukkan makanan ke dalam mulut, terhenti saat mendapat penolakan dari Fatih. "Kenapa?" kue yang sudah di tangan, kembali ia letakkan di atas piring.
"Untuk saat ini kamu tidak saya izinkan datang ke rumah. Nanti biar Rani yang datang ke rumahmu."
"Kenapa aku tidak boleh datang ke rumahmu?"
"Aku tidak mau kamu bertemu dengan istriku." Fatih menjawab secara terang-terangan, membuat Zahfran tersenyum.
"Kamu tidak mau aku bertemu dengan Azky? kenapa? kamu cemburu? kamu takut? seperti istriku saja," ucap Zahfran seraya menyantap kue yang tersaji di atas meja, ia duduk dengan santainya.
Setelah menghabiskan satu kue, ia mengusap mulutnya dengan tisyu. "Berhenti berpikir seperti wanita. Kalau kamu percaya istrimu tidak akan berpaling, Kenapa harus takut Azky bertemu denganku? kita kan sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Aku percaya dengan istriku. Tapi, aku tidak percaya denganmu, Zahfran."
Zahfran mengangguk-anggukan kepalanya, seraya memakai jas yang tadi ia simpan di sandaran kursi. "Sepertinya pembahasan kita sudah berakhir. Kalau kamu tidak mengizinkan saya ke rumahmu, secepatnya beri tahu Rani untuk menemuiku di rumah!" pinta Zahfran, lalu ia pun berdiri berpamitan. "Aku pulang, Shafiah pasti sedang menungguku."
"Baiklah. Terim kasih untuk waktunya."
"Sama-sama. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelahnya Zahfran pun pergi meninggalkan Fatih sendirian. Tidak bisa dipungkiri kalau ia merasa khawatir setiap kali mereka dipertemukan dengan alsan apa pun. "Bukan aku tidak percaya kepadamu, Azky. Hanya saja masa lalu kalian yang begitu rumit, membuat aku harus sangat berhati-hati dengan Zahfran. Aku hanya ingin menjaga agar rumah tangga kita jauh dari gangguan, utuh sampai maut yang memisahkan kita.
__ADS_1
***
Hal berbeda terjadi pada pasangan pengantin yang belum lama resmi menjadi suami istri. Siapa lagi kalau bukan Gilang dengan Aisyah. Sikap sang suami yang kian hari kian berubah, mampu membuat jantung Aisyah berdebar saat berada di dekatnya.
Sejak saat ia ingin belajar solat, Gilang selalu melibatkan Aisyah dalam hal apa pun. Bahkan dalam mengambil keputusan menerima restoran dari Fatih, ia meminta pendapat darinya.
Kalau ada yang bertanya apakah Gilang sudah melupakan Rani atau belum? jawabannya adalah belum. Aisyah menyadari itu. Ia tidak meminta kepada Gilang untuk segera melupakan Rani. Ia hanya meminta kepada Gilang untuk menghargai ia sebagai istri, juga berpindah tempat tinggal. Gilang menyetujui itu. Dia mengabulkan permintaan Aisyah, kini ia tinggal di sebuah apartemen yang baru saja Gilang beli dari uang hasil tabungannya.
"Aku bahagia," gumamnya pelan.
"Kenapa?" tanya Gilang yang saat ini sedang berjalan di depan Aisyah sambil menyeret koper masuk ke dalam apartemen yang baru hari ini mereka tempati.
"Ti–tidak," jawabnya terbata. Terus berjalan mengikuti langkah kaki Gilang dari belakang menuju kamar utama, Gilang meningglkan kopernya di depan pintu.
"Ini kamar kamu, dan kamarku ada di sana." Menunjuk ke sebuah ruangan yang berada di dekat ruang keluarga. "Jadi, kamu bisa mengeringkan rambut dulu sebelum memakai kerudung," kata Gilang.
Selama tinggal di rumah sang mertua, Aisyah selalu mengenakan hijab dengan rambut dalam keadaan basah. Pasalnya, ia tidak berani membuka hijab lagi, khawatir Gilang menganggap dirinya sebagai Rani, bukan sebagai Aisyah, karena kejadian saat itu cukup menjadi pelajaran untuk dirinya.
"Kamu mu beres-beres sendiri atau mau aku bantu?" tawar Gilang sebelum ia pergi ke kamarnya.
Aisyah menggelengkan kepalanya. "Tidak. Biar aku sendiri yang membereskannya."
"Baiklah, kalau begitu aku ke kamarku dulu, ya."
"Iya, Kak."
Setelahnya Gilang pun pergi. Aisyah merapihkan baju-baju, memasukannya ke dalam lemari, menyusun semua baju dengan rapih. Saat ia hendak menyusun tumpukan terakhir, ia melihat sesuatu di dekat pintu sebuah buku cukup tebal tergelak di lantai. Karena penasaran, Aisyah pun mengambil buku itu, dan tertera nama pemiliknya.
"Kak Gilang?" ia membaca judul buku itu, lalu sang pemilik lngsung merebutnya. "Kakak?"
"Kamu udah baca ya?" tanya Gilang dengan wajah memerah.
Aisyah tersenyum. "Kenapa Kakak baca buku seperti itu?"
Buku dengan judul. Cara mengajak istri yang baru dikenal untuk melakukan malam pertama.
__ADS_1
***
Buat aku semangat readers. Banyak like banyak komen, banyak update.