Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 51


__ADS_3

Sejak hari diman Kiran menolak untuk diantar jemput oleh Adlan, ia tidak pernah lagi menemui Kiran biar hanya sekedar mengobrol, atau sengaja menemuinya untuk memberi sebotol minuman di tengah kegiatannya yang biasa Adlan lakukan.


Adlan memilih menjauh dari Kiran, demi menetralkan perasaan yang menurutnya tidak wajar. Ia tidak mau terlalu jauh mencintai, khwatir perasaannya semakin dalam, dan malah membuat ia semakin sulit untuk melupakan.


Perubahan Adlan bisa Kiran rasakan. mereka jarang bertemu. Sekalinya bertemu pun, Adlan hanya tersenyum ramah, sama seperti bertemu karyawan lainnya. Adlan memang dikenal sebagai bos yang ramah, juga baik terhadap karyawan-karyawan lainnya.


"Dia memang orang yang baik," katanya dengan suara pelan. seraya menatap jauh kedepan.


"Siapa?" tanya Ajeng.


"Pak Adlan lah, siapa lagi?" saut Kiran biasa saja.


kebetulan mereka berdua saat ini berada dalam satu Shift. Mereka duduk di pinggiran jalan sambil menikmati nasi goreng pak Aceng yang menjadi langganannya.


"Tapi sekarang dia beda ya sama lo, agak cuek, gak kaya kemaren-kemaren," lanjut Ajeng sambil menyendokan nasi ke dalam mulutnya.


"hhmm... biasa aja sih kalau kata gue."


"Beda tau. Biasanya kan kalau lagi Shift dua kayak gini, pasti nyamperin lo."


"Ya nggak lah. Kita ngobrol bareng, karna kebetulan aja dia lewat, terus nyapa, seyum, Gitu aja. Iya kan?"


"Masa sih?" matanya menatap bingung.


"Udah ah, jangan ngomongin pak Adlan terus?" saut Kiran sambil mengelurkan uang di dalam saku baju, untuk membayar. Selesai makan, mereka kembali masuk ke dalam Mall bersiap-siap lanjut bekerja.


Kali ini Kiran tidak sedang menjaga konter. Dia sedang ditugaskan untuk merapihkan produk-produk yang berantakan di dalam rak.


Kiran berada di depan rak tempat menyimpan berbagai macam sabun. Tiba-tiba saja seorang wanita menabrak Kiran dengan trolinya saat ia sedang berjongkok di bawah.


"Brak


"Aaww..."


Menyadari trolinya menabrak seseorang di bawah, wanita itu langsung menghampiri Kiran lalu meminta maaf.


"Maaf, ya. Aku gak sengaja," ucap wanita itu sambil membantu Kiran untuk berdiri.


"Gak apa-apa mba," sautnya sambil merapihkan bajunya.


"Tapi kamu gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa ko."


Adlan yang kebetulan melintas, melihat kejadian itu, langsung datang menghampiri Kiran. Dan bukan menanyakan keadaannya, dia malah menyapa wanita yang menabrak Kiran dengan trolinya.


"Shifa...?"


"Mas Adlan...?"

__ADS_1


Kiran terkejut kalau ternyata Adlan mengenal wanita yang ada di depannya.Tidak bertanya pada Kiran, Adlan langsung bertanya pada Shifa.


"Kenapa Fa?"


Ia berjalan melewati Kiran, dan berdiri di samping Shifa.


"Ini mas, barusan aku nabrak pegawai mu, aku gak sengaja ko. Maaf ya. Siapa nama kamu?" Shifa melihat nametake dalam ID Cardnya.


"Kirania?"


Kiran mengangguk, "Iya."


"Iya, dia Kiran. Belum sebulan kerja di sini," timpal Adlan.


"Oh..." Shifa menganggukan keplanya.


"Kamu gak tau ya? kalau Kiran ini sebelumnya kerja sama Abiyu loh, sempet tinggal di rumah mbak Shafiah juga. Iya kan Ran?"


"Iya mba. Saya pernah kerja sama mereka, jadi pengasuh Kayla."


"Oh... jadi gitu. Ya ampun, aku sampai gak tau ya?"


"Kalian kan memang belum sempet ketemu," kata Adlan.


"Iya sih, aku ke rumah mba Shafiah aja jarang bgt. Sekali lagi, maf ya Ran?"


"Iya mba, gak apa-apa."


"Udah sih. Tinggal bayar ke kasir."


"Ya udah, ayo aku anter," ucapnya seraya membantu Shifa mendorong trolinya.


"Pake di anter segala, pasti ada maunya nih."


"Ngapain ada maunya. Ya udah nih, dorong sendiri," Adlan melepaskn trolinya.


"Iya, iya. Ngbekan ih."


Adlan kembali mendorong troli, mereka berdua jalan beriringan menuju kasir sambil tertawa ringan, entah apa yang mereka bahas, yang jelas Kiran terus menatap jauh ke depan, melihat keakraban Adlan dengan Shifa yang seperti tidak ada jarak.


"Iya. Pak Adlan berubah, lo bener Jeng. Dia berubah." batin Kiran bergumam.


Seketika Kiran memukil kepalanya sendiri, "Bodoh, dia gak berubah. Dia memang seperti itu, dia baik sama semua orang, lo nya aja yang aneh."


Tak mau pusing dengan perubahan sikap Adlan, Kiran memilih kembali bekerja, dari pada memikirkan kedekatan managernya dengan Shifa.


Waktu terus bergulir, jarum jam saat ini berada di angka 12. ojek yang biasanya sudah standbay di depan gerbang, kebetulan belum datang. Mungkin telat, fikirnya.


Karna belum datang, Kiran memilih menunggu duduk di Halte depan Mall, sambil memainkan ponsel jadulnya. Belum lama menunggu, ia mendapat pesan dari mang Ucup kalau istrinya mau melahirkan dan tidak bisa mengantar pulang.

__ADS_1


"Yah... aku gimana nih?" Kiran melirik jam yang melingkar di tangannya. 00.30.


"Jam segini mana ada lagi ojek."


Dia baru ingat, kalau dua kilometer dari tempat ia berdiri, dia pernah melihat ojek di persimpangan jalan saat ia pulang kerja.


Menunggu? tidak ada yang ditunggu. Jalan sejauh dua kilo meter lebih baik dari pada menunggu pangeran datang menjemput dengan kudanya. Mustahil.


Adlan yang saat ini sudah tertidur pulas, tiba-tiba terbangun saat mendapat pesan dari Fatih yang meminta Adlan mampir ke apartemennya untuk mengantar si kembar ke sekolah.


"Kemana Azky?" tanya Adlan membalas pesan dari Fatih.


"Dafa sakit, lagi rewel di rumah, gak mau di tinggal umi nya lagi," kata Fatih yang saat ini sedang tugas di luar kota.


"Iya. Besok aku anter mereka."


"Ok. Terima kasih."


Kebetulan ia sudah bangun, sekalian Adlan mengirim pesan ke mang Ucup menanyakan apakah Kiran sudah di antar dengan selamat? dan jawaban mang Ucup yang mengejutkan, membuat Adlan langsung berdiri menyambar mantel juga kunci mobil di dalam laci.


"Kenapa gak bilang dari tadi sih Mang?" tanya Adlan dalam sambungan telepon sedikit kesal.


"Maaf pak, saya lupa."


Adlan tidak bisa menyalahkan mang Ucup, dalam kondisi seperti itu semua orang bisa melupakan semuanya. Yang ia lakukan adalah segera melajukan mobilnya mencari keberadaan Kiran yang saat ini entah di mana.


Ponsel Kiran yang tidak bisa di hubungi, membuat kepanikan Adlan semakin menjadi. Apa lagi Kiran sudah tidak menunggu di halte. Adlan terus menyusuri jalan secara perlahan, dan akhirnya gadis itu terlihat sedang berjalan cepat sambil menunduk.


"Tiiid."


Kiran menghentikan langkahnya. Adlan menepikan mobilnya di bahu jalan, lalu menurunkan kaca mobilnya.


"Kiran. Cepat naik!"


"Om? ko bisa ada di sini?"


"Udah cepet masuk dulu."


Kiran menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Kenapa?"


"Aku naik ojek aja."


"Gak ada ojek, Ran."


"Ada di depan," jawabnya kekeh. ia kembali berjalan cepat meninggalkan Adlan.


"Kiran.." Adlan berteriak, "Masuk ke dalam mobil sekarang juga. Ini perintah atasan mu."

__ADS_1


Kiran menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.


"Cepat masuk. Ini perintah, bukan tawaran."


__ADS_2