
"Mam," sapa Gilang.
"Hei.. Aisyah ya?" sapa Mamih Anna ramah.
Aisyah tersenyum. "Iya, Tante."
"Sini, Nak!" ajak Mamih Anna seraya meraih tangan Aisyah. Aisyah pun mendekat berdiri di sampingnya.
"Ko sepi, Tante? ibu-ibu yang lain pada kemana?" tanya Aisyah saat melihat sekeliling, hanya ada dia sendiri sedang memanggang daging.
"Ibu-ibu yang lain pada berhalangan hadir, jadi kita-kita aja deh," saut Mamih Anna.
"Oh..." Di depan Mamih Anna, Aisyah berpura-pura tidak tau.
Begitu melihat Gilang datang berdua dengan Aisyah, Mamih Anna langsung menyukai Aisyah sebagai sosok wanita yang menjadi pilihan putranya, apa lagi dengan hijab yang Aisyah kenakan, membuat Mamaih Anna semakin yakin kalau pilihan putranya tidak akan salah.
Bukan dia tidak menyukai Maharai, hanya saja momen tadi tidak sesuai yang direncanakan Gilang membuat Mamih Anna salah sasaran.
Cukup lama menunggu, Akhirnya mereka pun datang. Rani jalan beriringan di depan bersama Gilang, sedang Azky jalan beriringan di belakang dengan Daffa juga Fatih yang baru saja pulang malah ikut dengan Azky ke rumah Gilang, untuk memastikan perkumpulan apa yang Azky lakukan, apakah bermanfaat atau tidak.
Halaman depan rumah Gilang nampak ramai dengan kehadiran Azky dengan Fatih, juga tiga anak mereka yang sangat energik.
"Seneng punya anak banyak kayak jeng Azky," saut Mamih Anna memulai percakapan.
"Alhamdulillah, Jeng. Mereka luar bisa semua, saya bangga sama anak-anak saya."
"Pasti, Jeng. Saya berharap putra saya bisa mendapatkan jodoh sebaik putri jeng Azky."
Azky dengan Fatih saling berpandangan, lalu melempar senyum.
"Jeng Anna bisa aja," saut Azky.
Meninggalkan percakapan antara orang tua, Rani yang saat ini sedang bermain dengan Daffa juga Aisyah, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Gilang ke suatu tempat dimana hanya ada mereka berdua.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Rani terheran.
Gilang terus mempercepat langkahnya membawa Rani melihat keindahan halaman belakang rumah Gilang yang hanya bisa dinikmati saat malam hari.
Membuka sela-sela rumput tinggi yang sengaja Gilang prlihara, untuk tempat bersemayamnya kunang-kunang, cahayanya sangat indah, membuat Rani berdecak kagum melihatnya.
"Wow Kak Gilang, keren."
Rani memasukkan satu tangannya ke dalam, dan ada salah satu kunang-kunang yang hinggap di tangannya, membuat Rani semakin tersenyum bahagia.
"Dari kapan ini ada?" tanya Rani penasaran.
"Sekitar dua minggu yang lalu," saut Gilang.
"Sengaja loh, Ran. Kalau ini buat lo. Lo seneng kan?"
Rani mengangguk cepat. "Seneng banget, Kak."
Meninggalkan kunang-kunang, Gilang mengajak Rani ke bawah pohon besar, untuk mengukir nama mereka di batang pohon menggunakan pisau dapur yang sengaja Gilang simpan di sana.
Gilang Wira. Begitulah nama yang Rani ukir atas perintah Gilang.
"Itu Kakak yang nyuruh ya, bukan aku."
"Biarin?" jawabnya singkat.
__ADS_1
"Aku kasih love ya."
"Terserah Kakak."
Di bawah ukiran simbol HEART, Gilang mengukir nama Rani begitu indahnya.
"Mulai sekarang kita resmi pacaran ya, Ran!" ucap Gilang penuh harap.
"Ih... ko langsung pacaran aja?" protes Rani.
"Iya lah. Lebih dari sebulan loh gue nunggu. Harusnya dari dua minggu kemaren kita resmi pacaran."
"Gak bisa gitu dong!"
"Mangkannya gue nungguin lo pulang. Biar ada ijab kabul," selorohnya membuat Rani refleks memukul tangan Gilang.
"Kakak!"
Gilang tertawa bahagia. "Iya maaf."
Keseruan mereka berlangsung singkat karena tidak ingin menimbulkan kehebohan dengan tidak adanya mereka di sana.
Aisyah masih bermain dengan Daffa, dan para orang tua sudah mulai mempersiapkan hidangan untuk makan malam.
Makan malam dua keluarga yang Gilang susun sangat sesuai dengan apa yang diharapkan, hanya sedikit kesalahan saat ia masuk berdua bersama Aisyah, dan Gilang malah melupakan hal itu, hal yang membuat Mamih Annna salah menduga.
"Mamih gak nyangka kamu suka sama anaknya Jeng Azky," saut Mamih Anna sambil berjalan masuk ke dalam setelah mengantar keluarga Azky ke depan pintu gerbang.
Gilang tersenyum, tersipu malu. "Dan kita udah resmi pacaran, Mam."
"Wah.. bagus itu, mamih setuju banget."
Wanita yang Gilang maksud, berbeda dengan wanita yang Mamih Anna maksud.
"Tumben."
Gilang mengirim pesan untuk Rani, namun tidak ada jawaban, padahal ia melihat kontaknya masih online. Semakin penasaran, akhirnya Gilang menghubungi Rani melalui panggilan telepon.
"Tuuut...
Pada layar ponselnya tetulis 'Sedang sibuk'
"Sibuk?" Gilang dibuat semakin penasaran. Lebih dari tiga puluh menit Gilang menunggu sambil memandangi kamar Rani dari kejauahan.
"Siapa yang lo hubungin malam-malam gini?"
Tak lama pesan yang Gilang kirim mendapat balasan.
Rani : "Kenapa, Kak?"
Gilang cepat-cepat membalas pesan dari Maharani.
Gilang ; "Ko bangun tengah malem? kenapa?"
Rani : "Balesin chatnya A Panji, kak."
Gilang : "Dia chat kamu malem-malem?"
Rani : "Nggak. Aku yang chat dia duluan."
__ADS_1
Gilang mengerutkan keningnya mulai marah.
Gilang : "Malem-malem kayak gini?"
Rani : "Nggak, Kak. Aku chat dia dari tadi sore, cuma Aa baru balesin tadi jam setengah satu."
Gilang : "Chat apa?"
Rani : "Cuma nanyain kabar."
Gilang: "Tapi tadi aku telepon ko sibuk?"
Rani : "Iya, tadi Aa telepon sebentar."
Gilang : "Gak sebentar, Ran. lama. Gue nungguin lo dari tadi.
Rani : "Cuma setengh jam, Kak."
Tak ingin memperpanjang masalah, akhirnya Gilang pun mengalah.
Gilang : "Ya udh, sekarang kamu tidur ya!"
Rani : "Iya, Kak."
Gilang : "Love you, Maharani."
Pesan terakhir yang Gilang kirim, tidak mendapat jawaban, bahkan sampai lampu kamar Rani sudah di matikan, hampir saha Gilang kembali marah, tak lama ada pesan masuk balasan dari Maharani.
Rani : "Love you to, Kak Gilang.
Setelah mendapat balasan dari Rani, Gilang pun kembali tidur.
Keesokan harinya, Gilang menjemput Rani pulang sekolah, sudah pasti atas izin dari Azky. Dia menunggu di depan gerbang sambil berdiri mengenakan kacamata abu, di dekat mobil sport hitam miliknya.
Dia berdiri sangat gagah, banyak siswi melirik Gilang, menatap kagum dengan ketampanannya, Rani yang mengetahui akan hal itu tidak merespon apa pun hanya tersenyum.
"Kenapa?" tanya Gilang.
"Gak apa-apa. Ayo kita pulang!"
Rani masuk ke dalam mobil, begitu pun dengan Gilang. Perlahan ia melajukan mobilnya, meninggalkan sekolah.
Dalam perjalanan pulang, saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Rani berdering. Gilang melihat nama Panji tertera di sana.
"Aku angkat teleponnya dulu ya, Kak."
"Panji?" tanya Gilang.
"Iya. Sebentar ya!"
"Hhmm..." jawab Gilang tanpa berkata.
"Assalamualikum, A."
Jangan lupa jejaknya ya.
__ADS_1
selalu LIKE
selelu KOMEN