
"Gilang hentikan!"
Tidak ada yang bisa menghentikan emosi dari seorang Gilang Wira yang saat ini emosinya sedang membabi buta karena sudah ditinggalkan oleh calon pengantin tepat di hari pernikahannya.
Sejak awal Gilang tertarik dengan Rani, Dia merasa Panjilah yang menjadi penghalangnya selama ini, bahkan disaat Panji mengenyam pendidikan di luar kota pun, tidak membuat Gilang tenang, dan sekarang disaat pernikahan itu aka berlangsung, dia harus kehilangan Rani, ia juga merasa kalau Panjilah yang menjadi biang dari semuanya.
Pak Dadwin, Fatih, juga Zahfran coba memegang kuat tangan Gilang yang tidak berhenti memukul Panji bahkan saat ia sudah tidak berdaya karena sama sekali tidak melawan.
Mereka masih memegang tangan Gilang yang terus berontak, sedangkan Panji dilarikan ke rumah sakit karena luka di wajahnya yang cukup parah.
Menangani emosi Gilang yang tidak bisa tenang, terpaksa Pak Darwin melayangkan satu tamparan keras di pipi putranya.
Plak.
Tamparan itu sangat kencang, sehingga ia jatuh tersungkur, juga darah segar mengalir di sudut bibirnya. Bu Anna yang tidak tega dengan kondisi putranya yang kacau, menghampiri Gilang membawa ia ke dalam pelukannya.
Bu Anna tidak bisa menahan lagi air mata dengan melihat kondisi putranya saat ini. "Keterlaluan kamu Rani, kenapa kamu sejahat ini? kesalahan apa yang Gilang lakukan sampai kamu tega berbuat seperti ini kepada putra ku?"
__ADS_1
Hiks
Hiks.
Hiks.
Azky, Fatih, Zahfran hampir tidak memiliki wajah di depan keluarga Pak Darwin, beruntung Aisyah berbesar hati mau menggantikan sang adik yang melarikan diri, setidaknya sedikit mengobati rasa kecewa keluarga Gilang, walaupun sesungguhnya ini sangat keterlaluan.
Dengan bantuan sang Ayah juga Bu Anna, Gilang bersama Aisyah masuk ke dalam kamar pengantin, mendudukan Gilang di atas Sofa, sedang Aisah terus memeluk Azky sama sekali tidak ingin melepaskannya.
Azky berhasil membujuk Aisyah untuk bermalam dengan Gilang di hotel, meninggalakan mereka berdua, dan harapan satu-satunya saat ini ada Aisyah, berharap dia bisa menenangkan hati Gilang yang sedang kacau.
"Apa kesalahan gue, Isya? sampai Rani tega ngelakuin ini sam gue?" tanya Gilang tanpa mengalihkan pandangannya, menatap kosong ke depan.
"Kakak nggak salah, tapi pernikahan ini yang terlalu dipaksakan. Kakak sadar kalau Rani mencintai A Panji, tapi Kakak memaksa menikahi Rani padahal dia sendiri saat itu sudah bilang, kalau dia belum siap," ujar Aisyah membenarkan kalau saat itu Rani memang pernah mengatakan hal itu.
"Kalau gue mengulur waktu, gue takut kehilangan dia, Isya."
__ADS_1
"Lalu, apa bedanya dengan sekarang? Kakak tetap kehilangan dia kan?"
Seketika Gilang menatap Aisyah yang masih berdiri di sampingnya, lalu ia pun berdiri, melihat ke arah tempat tidur yang sudah dihiasi dengan bunga mawar bertabur membentuk hati.
"Di sana," tunjuk Gilang dengan jarinya mengarah ke arah tempat tidur. "Seharusnya malam ini gue tidur di sana dengan Rani, Isya."
"Seharusnya gue menghabiskan malam panjang sama dia."
"Gue merancang semuanya sedemikian rupa, gue sendiri yang menata bunga di situ, Isya. Demi dia, supaya dia tidur nyaman, gue bahkan udah siapin paspor untuk bulan madu, dia tau itu, dia gak bisa pergi begitu saja, Isya."
"Lalu apa yang akan Kakak lakuin?"
"Gue harus cari Maharani. Di luar terlalu berbahaya buat dia."
"Jangan! Jangan seperti ini, Kak."
"Gue harus cari Rani, Isya."
__ADS_1