Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 54


__ADS_3

"Aku nggak mau, Kak."


Aisyah mengibaskan tangan Gilang dari pipinya.


"Aku bukan, Rani. Aku Aisyah." Sekali lagi ia menegaskan saat Gilang hendak mencium bibirnya.


Gilang yang kesadarannya berada di angka 30%, langsung menangis pilu di bahu Aisyah, menangisi dirinya yang bodoh masih mencintai wanita yang sudah membuang dirinya jauh-jauh.


"Kenapa gue sebodoh ini, kenapa gue masih mengharapkan cewek yang udah jelas nggak cinta sama gue, Isya."


Tidak ada gunanya bicara dengan orang yang sedang mabuk, Aisyah langsung menginjak pedal gas, melajukan mobilnya sekencang mungkin menuju rumah.


Begitu sampai di rumah, tanpa bantuan siapa pun, Aisyah membawa Gilang naik ke lantai, membaringkan tubuh sang suami di atas tempat tidur, sedangkan Aisyah memilih membersihkan diri, lalu tidur di atas sofa.


Pukul empat sibuh di kediaman Fatih. Karena sebuah mimpi buruk, Rani terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah, sehingga ia harus mengusap dada, juga menarik nafas agar kembali teratur.


Karena sudah tidak lagi mengantuk, Rani pergi ke lantai bawah hendak mengambil air minum, tetapi entah kenapa ia kembali teringat dengan mimpi buruknya tadi, lalu memutuskan untuk ke ruangan belakang, memastikan kalau mimpi buruknya tidak benar-benar terjadi.


Rani melihat dari jendela, Panji masih tertidur pulas. Karena pintu kamarnya tidak ditutup, ia masuk ke dalam kamar Panji, lalu duduk di tepian ranjang, menatap wajahnya sambil tersenyum.


"Aku takut mimpiku menjadi kenyataan, tapi ternyata nggak, Kamu masih di sini, bahkan masih tertidur pulas ."


Rani mengusap pipi Panji, sehingga si pemilik pun mengerjap terbangun. "Rani, kamu ngapain?"


Maharani tersenyum. "Memastikan kalau Aa nggak kemana-mana."


"Memang Aa mau ke mana, Ran."


"Tadi aku mimpi Aa pergi dari rumah, mangkannya aku langsung ke sini."


"Aa nggak kemana-mana, Ran. Sebaiknya kamu kembali ke kamar ya! nggak enak nanti kalau ada yang liat kita berdua. Nanti dikira kita ngapa-ngapain."


"Iya, A. Tapi sebelumnya aku mau menanyakan mengenai status hubungan kita."


Panji diam membiarkan Rani bicara.


"Sekarang kita pacaran kan, A?" tanya Rani seraya meraih tangan panji, memegangnya erat.

__ADS_1


"Apa status pacaran penting buat kamu?" tanya Panji.


Rani mengangguk cepat. "Sangat penting, dan aku mau Aa segera melamar aku."


Panji menatap wajah Rani sangat intens, semua perkataan pak Broto yang memerintahkan ia untuk meninggalkan Rani, kembali terngiang di telinganya.


"A, ko diem? kenapa?" tanya Rani masih duduk di pinggiran tempat tidur.


Panji menjawabnya dengan senyum. "Nggak apa-apa."


"Cepat kembali ke kamar, nanti bapak keburu bangun, malah repot."


"Aa belum jawab permintaan aku."


"Nanti Aa pikirkan lagi ya, Ran."


"Memangnya masih ada yang harus dipikirkan?"


"Ran, tolong kasih Aa waktu." Kedua tangan Panji menangkup pipi Maharani.


"Sekarang kamu kembali ke kamar ya, takut bapak keburu bangun."


Rani tersenyum. "Iya, A."


Iaberanjak dari tempat tidur milik Panji, lalu keluar dari kamarnya, dengan senyum bahagia.




Kediaman Gilang.



"Maaf."


__ADS_1


Hanya kata itu yang bisa Gilang katakan saat ini, setelah ia terbangun dari tidur di atas ranjang, bukan di atas sofa seperti kemarin.



Aisyah melipat peralatan solat, lalu menyimpan kembali ke dalam lemari.



"Lo marah ya?" tanya Gilang karena Aisyah belum menjawab maaf-nya.



"Marah kenapa?" saut Aisyah berdiri di dekat lemari.



"Karna gue mabuk," jawab Gilang masih duduk di atas ranjang.



Aisyah bergeming malas, mungkin saja saat ini Gilang masih mabuk, dan tidak menyadari kalau dia sedang meminta maaf.



"Gue janji, gue nggak akan mabuk lagi."



"Aku nggak percaya kalau gak ada bukti."



"Mau bukti apa?"



Kayaknya Aisyah mau VOTE, LIKE, KOMENTAR, SAMA BUNGA-nya deh. Ayo dong mana dukungan kalian 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2