
"Tuan,sudah lama anda baru menghubungi saya lagi,bagaimana kabar anda?" Tanya sekertaris itu sambil berjabat tangan dengan Zahfran.
"Saya baik-baik saja." Jawabnya singkat.
"Silahkan duduk tuan."
Mereka berdua duduk di sebuah Cafe yang letaknya tak jauh dari kediaman Azky.
"Bagaimana? apa yang membuat anda meminta saya datang ke sini?" Tanya Pak Burhan selaku pengacara pribadinya dulu.
"Saya akan membuat surat kuasa dan beberapa surat penting lainnya." Saut Zahfran.
"Surat kuasa?" Tanyanya terheran.
"Ya,saya akan memberi wasiat untuk istri ke dua saya."
"Memangnya kenapa tuan?"
"Saya akan pergi meninggalkan tanah air,dan mungkin saya akan menetap di Sidney bersama keluarga besar saya."
"Lalu istri kedua anda?"
Mendengar pertanyaan pak Nurhan membuat Zahfran kembali berfikir,ia membenamkan wajahnya pada kedua tangannya sambil kenunduk ke bawah.
"Tuan?"
Zahfran kembali menaikan wajahnya. "Cepat lah mulai merekam wasiat yang akan saya berikan untuk istri kedua saya."
"Baik tuan."
Segera ia mengeluarkan recorder untuk mulai merekam wasiat yang akan di sampaikan.
Selepas menemui pak Burhan,Zahfran kembali menemui Azky di rumahnya untuk yang terakhir kalinya.
"Assalamualaikum." Ucap salam Zahfran di depan pintu rumah Azky.
"Waalaikumsalam." Saut Azky.
"Jglek.. Mas." Menyambut kedatangan suami dengan senyum manis di bibirnya. Azky mencium punggung tangan suaminya.
"Kamu sudah cantik,mau ke mana?" Tanya Zahfran saat melihat Azky berpenampilan sedikit berbeda.
"Gak ke mana-mana ko mas,aku kan mau menyambut kedatangan mu." Saut Azky dengan tersenyum.
"***Azky..kenapa di saat terahir aku menemui mu,kamu malah bersikap seperti ini? kamu tidak tau kalau ini terahir kalinya aku datang menemui mu. jangan lakukan ini Sayang,ini membuat ku sulit untuk melepaskan mu***." Batin Zahfran bergumam sambil menatap intens wajah cantik sang istri.
"Mas.."
Diam.
"Mas Zahfran?" Kembali memanggil.
"Ya sayang?"
"Ko malah bengong? ayo masuk." Ia menggandengan tangan Zahfran membawanya masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruang tamu yang letaknya tak jauh dari puntu masuk.
"Mas mau aku bikinin kopi atau teh? atau..mau susu?" Tanya Azky yang duduk di sampingnya.
"Bawakn mas Air hangat aja sayang."
"Hanya air hangat?"
"Ya,air hangat aja."
"Baiklah.tunggu sebentar ya mas." Ia pun bangkit dari duduknya pergi ke dapur mengambil air hangat untuk suaminya.
"***Ya Allah,bagaimana cara aku memberitahunya***?" ia mengacak rambutnya frustasi.
Tak lama Azky kembali dari dapur membawa segelas air hangat. "Ini mas air hangatnya." menyerahkan langsung ke tangan suaminya.
"Terimakasi sayang." Ucapnya dengan tersenyum,lalu ia menenggak minumnya sampai habis dan menyimpan gelas kosong itu di atas meja.
__ADS_1
Merasa lelah dengan semua kejadian hari ini,Zahfran menyandarkan tubuhnya di atas sofa,banyak hal yang berkeliaran dalam pikirannya,terutama menjelang kepergiannya dengan Shafiah ke Sidney.
"Mas,kamu kenapa sih? banyak bengong." Tanya Azky merasa ada yang aneh dengan sikap diam suaminya itu.
"Hhmm.." Saut Zahfran tanpa berucap,ia masih memejamkan matanya menyandarkan tubuhnya di atas sofa.
"Mas sudah makan?"
"Sudah." Jawabnya singkat.
"Mas mau mandi di sini gak? kalau mau aku siapin bajunya."
"Gak perlu Azky."
"***Mas Zahfran kayaknya hari ini lagi gak mood banget***." Batin Azky bergumam.
"Mas,kalau mau ustirahat lebih baik di dalam. Aku beresin tempat tidurnya ya." Ucapnya sambil berdiri.
Namun,sangat cepat Zahfran memegang tangannya. "Siapakan pakaian untuk ku sayang,aku ma mandi."
j
"Ya mas." jawab Azky dengan senyum.
Lalu ia pun masuk ke dalam kamar guna mengambil handuk milik Zahfran di dalam lemari.
Tak lama ia keluar membawa handuk. "Ini handuknya mas."
"Terimakasi sayang." Zahfran meraih handuk yang di berikan Azky.
Zahfran bangkit dari duduknya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri lalu mencium singkat bibirnya. "Tunggu aku di kamar sayang." Bisik Zahfran di telinga Azky setelah mencium bibirnya.
Setelah selesai mandi,Zahfran kembali menemui Azky di dalam kamarnya,nampak ia sedang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang.
"Mas.." Panggil Azky pada Zahfran yang baru masuk ke dalam kamar yang masih mengenakan handuk sebatas pinggangnya.
"Kamu sudah shalat asar?" Tanya Zahfran sambil masuk ke dalam lalu mengambil baju di atas ranjang yang sudah Azky siapkan untuk ia pakai.
"Sudah mas,mas udah solat?" Balik bertanya.
"Sudah,tadi mampir ke mesjid dulu sebelum k sini." Jawabnya sambil memakai bajunya.
Setelah selesai,ia naik ke atas ranjang lalu meminta Azky untuk duduk di sebelahnya di atas ranjang. "Kemarilah Azky." Zahfran menepuk sisi kosong sebelahnya.
Mengukuti permintaan suami,Azky pun naik ke atas ranjang lalu duduk di sebelahnya bersandar di atas dadanya yang bidang.
"Sayang,pekerjaan kamu bagaiman?" Tanya Zahfran sambil memeluknya dari samping.
"Alhamdulillah lancar mas."
"Semua orang di sana baik kan sama kamu?"
"Baik." Jawabnya singkat.
"Syukurlah." Ia mngusap bahu sang istri yang masih bersandar di atas dasanya.
"Kalau kuliah mu?" Zahfran kembali bertanya.
__ADS_1
"Kuliah juga baik mas,sebentar lagi aku lulus.setelah lulus aku mau mencari pekerjaan yang lebih baik lagi mas. " Ucapnya dengan tersenyum ia mendongakan kepalanya menatap wajah Zahfran sangat dekat,lalu memberikan ciuman singkat di pipinya.
Zahfran menatap wajah Azky dengan tatapan nanar. "***Maafkan aku Azky,mungkin ini pertemuan terakhir kita,setelah ini,besok,mungkin selamanya kita tidak akan bertemu lagi***.***Dan kalaupun kita bertemu,kamu pasti akan sanga******t*** ***membenciuku***." Batin Zahfran bergumam. Tanpa ia sadari air mata mengalir dari sudut matanya.
"Mas,kenapa? kenapa kamu menangis?" Tanya Azky terheran saat melihat air mata suaminya yang mengalir. Ia merubah posisi duduknya,jadi saling berhadapan.
"Mas gak apa-apa,mas hanya merindukan mu." ucap Zahfran dengan memberi sentuhan lembut di pipinya.
"Mas menyembunyikan sesuatu dari ku?"
"Tidak sayang."
"Mas pasti menyembunyikan sesuatu,aku bisa melihat itu dari mata mu mas."ia menatap intens wajah sang suami.
"Tidak ada."
"Ini pasti ada kaitannya dengan papah mu kan?"
"Sayang."
"Jawab mas."
"Kita bicarakan baik-baik ya?" Zahfran memegang kedua tangan Azky.
"Apa ini ada kaitannya dengan hubungan kita juga mas." kembali ia bertanya dengan sorot mata tajam.
"Sayang,dengarkan aku."
"Jawab aku mas..." Tegas Azky sambil berteriak lalu turun dari ranjangnya dan berdiri jauh dari suaminya.
"Maafkan aku sayang." Zahfran pun bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri Azky,namun Azky melangkah mundur semakin menjauh.
"Apa kamu akan meninggalkan aku mas?"
"Aku tidak ada pilihan lain sayang.aku tidak mungkin meninggalkan Shafiah anak ku dan keluarga besar ku"
"Lalu aku? aku bukan siapa-siapa untuk mu? apa artinya aku buat kamu mas?"
"Buka begitu Azky,kamu sangat berarti bagi ku. tapi aku tidak memiliki pilihan lain,kalau aku tidak ikut dengan mereka,papah akan mengurus perceraian ku dengan Shafiah,dan dia akan menikahkan Shafiah dengan laki-laki lain Azky. Aku mohon,mengerti lah. Ini hanya sementara,aku aka kembali lagi sayang."
"Kalau begitu ceraikan aku mas,karna sampai kapan pun orangtua mu tidak akan merestui hubungan kita.berikan aku talak saat ini juga."
"Tidak sayang,aku akan berusaha bagaimanapun caranya untuk menemui mu nanti.ini hanya masalah waktu."
"Aku tidak mau. Ceraikan aku mas." Ucap Azky dengan berteriak.
"Sayang. aku...
Nah looh..kasih gak nih permintaan talaknya?🤔
Atau gantung begitu aja tanpa penjelasan?🤔
Stay terus ya.love you Reader ku 😘😘
Seperti biasa,setelah baca,jangan lupa jempolnya di tekan 👍👍
Dan komentar sebanyak-.banyaknya.
Author selalu menerima masukan dari para Reader.
Terimakasi banyak yang sudah memberikan Vote untuk karya author yang sederhana ini.
__ADS_1
Vote dari yang lainnya Author tunggu ya.
Semoga Allah mebalas kebaikan reader semua.😘🙏,