Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 49


__ADS_3

"Lepaskan tangan Maharani, Panji."


Panji berusaha melepaskan tangannya, tetapi Rani malah semakin mengeratkan genggamannya, dan Gilang menyaksikan itu sendiri.


"Sayang..." Rani mengelak saat Gilang menangkup pipi dengan kedua tangnnya.


"Gilang, menjauhlah dari Maharani, kamu sudah punya istri, Nak." Fatih coba mengingatkan dengan meraih bahunya.


"Tidak, Om. Rani pulang untuk saya, Panji yang sudah menghalangi semuanya."


"Berhenti menyalahkan A Panji, Kak. Aku nggak cinta sama, Kakak. Tolong jangan siksa aku dengan cara seperti ini!" Rani terus menegaskan tetapi Gilang tetap tidak mau mendengar, malah kembali memeluk Rani, walaupun ia menolak.


"Lepasin aku, Kak!" Rani menggerakan tangan yang terhimpit oleh tubuh Gilang, tetapi ia malah semakin mengeratkan pelukannya.


Bu Anna yang melihat kejadian itu dari luar, langsung turun dari mobilnya, memanggil putranya dengan berteriak.


"Gilang!"


Semua menoleh ke arah sumber suara, semua terkejut dengan kehadiran Bu Anna yang tiba-tiba.


"Lepaskan Rani!" hardik Bu Anna kepada putranya yang tidak mau melepaskan pelukannya.


"Kakak, lepaskan aku. Kamu menyakiti aku, Kak."


"Lepaskan Maharani, Gilang."

__ADS_1


Saat Panji berucap, Gilang melepaskan pelukannya, tetapi malah melayangkan pukulan tepat di pipi pria yang menurutnya sudah mengacaukan hubungan mereka, hingga pria itu tersungkur, luka yang semalam belum kering, kembali mengeluarkan darah, dengan rasa sakit yang lebih dari sebelumnya.


"Aa..."


Gilang memegang tangan Maharani yang hendak menghampiri Panji. Pak Broto yang ada di sana, membantu Panji untuk berdiri.


"Gilang berhenti bersikap bodoh!" teriak Bu Anna.


"Dia sudah mengacaukan semuanya, Mom." Hardik Gilang sambil menujuk ke arah Panji yang saat ini berdiri bersama Pak Broto.


"Tapi kamu sudah menikah dengan Aisyah," timpal Bu Anna masih dengan suara berteriak.


"Aku hanya menginginkan Maharani, Mommy."


"Gilang, lepaskan tangan Maharani! kalau tidak, Om yang akan memaksa kamu melepaskan tangannya." tegas Zahfran.


Maharani menangis, tanpa Gilang sadari genggamanya sudah menyakiti tangan gadis yang sangat ia cintai.


"Kakak sakit, lepaskan aku."


Zahfran tidak bisa tinggal diam, dia menghampiri Gilang, lalu mendorong tubuh menantunya itu agar melepaskan tangan sang putri yang terus menangis kesakitan.


Gilang jatuh tersungkur, Azky menghampiri sang putri, lalu memeluknya seraya menenangkan.


Bu Anna membantu Gilang untuk berdiri, sekaligus memegang putranya yang hendak menghampiri Maharani.

__ADS_1


"Sadar kamu, Gilang. Kamu sudah menikah, Aisyah istri kamu ada di sini."


Bu Anna terus memberi pengertian, tetapi sepertinya Gilang tidak mau mendengar, sehingga dengan sangat terpaksa Bu Anna melayangkan satu tamparan keras di pipinya.


Plak!"


"Mommy." Gilang terkejut, ini kali pertama ia ditampar oleh sang ibu yang selama ini selalu bersikap lembut, bahkan selalu memanjakan dirinya setelah ia kehilangan kasih sayang dari sang ayah yang sibuk dengan selingkuhannya.


"Jaga sikap kamu, Gilang. Aisyah istri kamu ada di sini, hargai dia."


Aisyah yang saat ini berada dalam pelukan Shafiah, menagis terisak sambil memeluk Bundanya. Bukan karena Gilang tidak bisa menjaga sikapnya, tetapi atas semua kejadian yang menimpa keluarganya.


"Kenapa semua jadi seperti ini, Bun?"


Hiks.. Hiks.. Hiks..


"Tenang, Sayang. Ada Bunda di sini." Shafiah terus memeluk sang putri sambil mengusap punggungnya seraya menenangkan.


Sedang Gilang yang saat ini berada di samping Bu Anna, terus menatap Rani seraya berkata. "Aku akan menceraikan Aisyah."


"Apa?"


Semua terkejut, semua menoleh ke arahnya.


"Tidak," tegas Bu Anna.

__ADS_1


"Aku akan menceraikannya, Mommy."


"Berani kamu menceraikan Aisyah, maka besok kamu akan melihat tubuh Mommy terbujur kaku menjadi mayat.


__ADS_2