Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 31


__ADS_3

Aisyah : "Duh. Kak Gilang ngapain sih pake chat aku segala? mana nggak boleh bilang sama Rani lagi."


Dia tidak ada maksud berbohong, hanya saja dia tidak mungkin mengadu kepada Rani, perihal pesan itu. Dia yang saat ini sedang bersama Rani, juga Panji, diam-diam membalas pesan dari dari Gilang.


"Aisyah : "Mau ngapain, Kak?"


Gilang : "Ada yang mau gue omongin."


Aisyan : "Mau ngomong apa? aku nggak mau ya ngumpet-ngumpet kayak gini."


Aisyah merasa tidak tenang saat berbalas pesan dengan Gilang tanpa sepengetahuan sang adik. Walaupun tidak ada maksud apa-apa.


Gilang : "Gue nggak bisa, pokoknya nanti malam temuin gue di kafe depan, dan rahasiakan hal ini dari Rani."


Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Gilang, agar Gilang berhenti mengirim pesan, sebelum Rani curiga karna dia sibuk dengan ponselnya, sampai tidak memperhatikan cerita keseruan panji saat kuliah, yang sempat dekat dengan salah satu teman wanita di sana.


Aisyah memasukkan ponselnya ke dalam saku, langsung menyahuti obrolan mereka. "Jadi di sana ada yang suka juga sama Aa?" tanya Aisyah, karena Rani langsung membungkam mulutnya saat Panji menceritakan perihal kedekatan dirinya dengan salah satu teman wanita.


Panji hanya tersenyum mendapati pertanyaan dari Aisyah. "Gini-gini juga Aa bisa buat cewek jatuh cinta," ujar Panji sambil melirik ke arah Rani yang sedang memalingkan wajahnya ke arah lain, seolah tidak ingin mendengarkan ceritanya.


Tin.


Tin.


Terdengar suara klakson mobil hendak masuk ke dalam, Semua menoleh ke arah sumber suara. "Ayah...?"


Rani langsung berlari menghampiri mobil sang ayah yang baru saja masuk melewati gerbang utama.


"Rani, Isya," panggil sang ayah yang baru saja keluar dari mobil, langsung mendapat serangan pelukan dari kedua putri kembarnya.


Muach.


Muach.


Zahfran begitu sangat merindukan sang anak, sehingga ia menyempatkan diri menemui putri kembarnya sebelum berangkat ke kantor.


Puas memeluk sang Ayah, mereka bergantian memeluk Shafiah. "Bunda..."


"Lagi pada ngapain?" tanya Shafiah masih merangkul mereka berdua.


"Lagi ngobrol sama Aa," saut Rani, juga Aisyah bersamaan.


Panji menunduk hormat menyambut kedatangan Zahfran juga Shafiah. "Selamat siang, Tuan, Nyonya."


"Siang," jawab mereka ramah.


Setelah saling menyapa, mereka pun masuk ke dalam, meninggalkan panji sendiri di luar, karena bukan wilayahnya ikut mereka masuk ke dalam, dia lebih memilih kembali ke kamarnya, hendak mempersiapkan beberapa persyaratan melamar di kantor milik Fatih besok.


"Dia anak supir pak Broto kan?" tanya Zahfran sambil melangkah masuk ke dalam di iringi oleh Rani di samping kirinya, sedangkan Aisyah jalan bergandengan dengan Shafiah di belakang mereka.


"Iya Ayah," saut Rani.


"Yang bikin kamu nangis sampai kelojotan?" ejek sang ayah, yang langsung mendapatkan protes berupa pukulan di bahunya.


"Aww.." Zahfran meringis, sambil mengusap bahunya.


"Lagian, ayah seneng banget sih ngeledekin aku." protes Rani, tanpa menghentikan langkah mereka, masuk ke dalam rumah.


"Habisnya, baru ditinggal begitu aja, langsung ngamuk, guling-guling, nginep satu bulan gak mau pulang-pulang."


"Ayah..." lagi-lagi Rani harus protes atas ejekan sang ayah terhadap dirinya yang saat itu memang seperti orang kehilangan arah saat panji pergi.


Azky yang tau kalau Zahfran dan Shafiah akan datang, saat ini sedang memasak sesuatu yang spesial untuk makan siang bersama.


Ia melepaskan clemeknya, mencuci tangan, lalu menghampiri mereka, saling menyapa.


"Mba."

__ADS_1


"Azky."


"Mas Zahfran."


Zahfran menjawab sapaan Azky dengan senyum, lalu mereka berempat berkumpul di ruang keluarga, sementara Azky memanggilkan Fatih yang saat ini berada di dalam ruang kerjanya, tidak lama Fatih bersama Azky menghampiri mereka.


"Zahfran, Shafiah. Udah lama?"


Mereka yang saat ini sedang asik mengobrol, menoleh ke arah sumber suara. "Belum, baru aja."


Fatih duduk di single sofa, sedang Azky duduk di samping Shafiah.


"Audy nggak ikut?" tanya Fatih.


"Audy sama Kayla lagi main ke rumah Kiran. Biasalah, lagi libur, kebetulan Kiran juga butuh temen," saut Shafiah menjawab pertanyaan Fatih.


"Oh, Kayla juga ada di rumah?" tanyanya lagi.


"Iya, soalnya Kisya lagi sakit, gak mau sendirian di apartemen, sedangkan Abiyu harus kerja juga, mangkannya dia ke rumah."


"Sekarang kak Abiyu di mana, Bunda?" tanya Aisyah yang saat ini sedang duduk bersandar di bahu sang ayah, begitu pun dengan Rani yang tidak mau jauh-jauh dari sang ayah karena rasa rindunya.


"Dia lagi nganterin Audy sama Kayla ke apartemen Kiran, Sayang."


"Kapan-kapan suruh kak Abiyu ke sini dong, dia nggak perduli banget sih sama kita. Iya kan, Kak?" kata Rani kepada sang Kakak dengan tiba-tiba, membuat Azky harus menegurnya.


"Rani!"


"Iya, Umi. Tapi, emang gitu ko kenyataannya."


"Kak Abiyu sibuk kali, Ran. Kapan-kapan kita deh yang nemuin dia," saut Aisyah yang lebih sering berfikir positif, berbeda dengan sang adik, yang lebih kritis.





Kayla yang memang sangat dekat dengan Kiran, terus saja menempel seperti perangko sampai Audy merasa kesal karna dia tidak kebagian memeluk Kiran, sehingga ia harus merangkulnya secara bersamaan.



"Udah ya, jangan iri lagi!"



Berada dalam pelukan Kiran, membuat keduanya merasa nyaman, sedang Abiyu yang masih di sana, terus tersenyum dengan keakraban mereka bertiga.



Kiran merasa tidak nyaman dengan kehadiran Abiyu di apartemennya, karena sang suami sedang tidak ada di rumah, mengusirnya pun tidak mungkin.



Sehingga ada sebuah panggilan masuk melalui sambungan telepon dari seseorang, dan betapa terkejutnya saat ia melihat nama sang istri terpampang jelas pada layar ponselnya.



"Siapa, Ayah?' tanya Kayla.



"Bu- bunda, Sayang." jawabnya sedikit terbata, lalu ia pun menjawab telepon itu.



Abiyu : "Iya, Yank?"

__ADS_1



Kisya : "Kamu belum pulang? masih betah di sana? lagi asik ngobrol? temu kangen?"



Abiyu langsung mendapat banyak pertanyaan dari sang istri yang kesal karena ia sangat lama tidak kunjung pulang, padahal dia saja baru sampai.



Abiyu : "Aku baru nyampe, Yank."



Kisya : "Dari tadi, Abiy. Kamu fikir aku nggak tau seberapa lama perjalanan menuju rumah om Adlan?"



Abiyu : "Tadi macet, Yank."



Kisya : "Pokoknya pulang sekarang."



Abiyu : "Iya, ya. Aku pulang."



Setelahnya sambungan telepon pun terputus, lalu Abiyu berpamitan pulang kepada putri, adiknya, juga Kiran.



"Aku pulang sekarang."



Kiran mengangguk. "Iya, Kak. Nanti Kakak nggak usah jemput mereka, biar suami suami ku yang antar mereka pulang." kata Kiran.



"Iya, Ran."



Malam hari.


Aisyah menemui Gilang di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari kediaman mereka.



"Ada apa?" tanya Aisyah yang baru saja datang, lalu Gilang mempersilahkan ia untuk duduk, Aisyah pun duduk di kursi saling berhadap-hadapan.



"Ada apa?" Aisyah mengulang pertanyaan yang sama.



"Gue mau minta tolong, Isya."



"Minta tolong apa?"


__ADS_1


"Hubungan gue sama adek lo."


__ADS_2