
"Hallo, Kak," sapa Kiran.
"Hai Bidadari kecil ku," saut Gilang.
"Umi keluar dulu ya. Teleponnya jangan lama-lama," ucapnya seraya mengusap rambut Maharani, mencium keningnya, Azky pun keluar.
"Mau ngapain?" ketus Rani.
"Galak banget sih..."
"Jangan bercanda, Kak. Lagi gak mood."
"Kenapa?"
"Kakak gak perlu tau."
"Ya udah kalau gak mau kasih tau. Tapi, kalau gue kasih coklat mau?" tawar Gilang.
"Nggak." Lagi-lagi Rani menyahuti obrolan dengan Gilang singkat.
"Kalau es cream?" tawarnya lagi terus berusaha.
"Nggak, Kak. Aku gak mau apa-apa. Aku mau istirahat."
"Ya udah, gue ke rumah lo kalau gitu."
"Apa?"
Gilang langsung memutus sambungan telepon.
"Gak jelas," ujarnya. Ia meninggalkan ponselnya, dan kembali berbaring di atas tempat tidur.
Tidak lama kemudian, saat Rani memutuskan akan tidur, samar-samar ia mendengar suara keramaian di lantai bawah, membuat Rani penasaran lalu keluar dari kamar untuk melihat.
__ADS_1
"Kak Gilang?"
Di atas meja penuh dengan makanan. Beberapa coklat batang, beberapa kotak es cream, juga kue kering buatan ibunya, dan Azky, Aisyah, Daffa, termasuk Fatih menikmati semua makanan yang dibawakan oleh Gilang.
Gilang tersenyum saat Rani menuruni anak tangga menghampiri mereka, lalu duduk di samping Abinya.
"Liat Abi. Gilang senyum sama aku," kata Rani berbisik, Fatih pun melihat ke arah Gilang, dan Gilang langsung merapatkan mulutnya menjadi salah tingkah.
"Nggak ah," saut Fatih terus menatap ke arah Gilang.
"Abi mah gak tau aja." Rani menautkan dagunya di atas bahu Fatih, tetapi matanya terus menatap wajah Gilang sambil tersenyum puas.
"Emang enak," ucapnya dalam hati.
Setelah menikmati beberapa camilan, Gilang pun berpamitan pulang pada semuanya, dan kebetulan Fatih memerintahkan Rani mengantar Gilang sampai ke depan pintu.
"Gimana? asik gak?" tanya Gilang di depan pintu utama , dan ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan mengobrol langsung dengan Rani.
"Asik kenapa?" saut Rani.
"Biasa aja tuh."
"Jujur aja kali," ledek Gilang.
"Iih... lagian Kakak nekat banget sih dateng ke rumah aku."
"Habisnya malam ini lo jutek sih, ngeselin lgi."
"Ngeselin gimana?" tanya Rani.
"Udah gak penting. Yang penting gue udah ngeliat lo, udah ngobrol secara langsung, udah cukup buat gue nyenyak tidur."
"Idih.. Gombel," Rani berusaha menyembunyikan senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Gombal, Sayang." saut Gilang membetulkan.
"Suut...
Rani meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Kakak. Nanti kalau kedengeran umi sama abi gimana coba!"
"Gak bakal. tante Azky sama om Fatih kan di dalem. Kecuali Panji." Wajah Gilang berubah masam.
"A Panji?" Rani terkejut lalu menoleh ke belakang.
"Aa ngapain di situ?" tanya Rani pada Panji.
"Mau nyari bapak di garasi," saut Panji.
"Mau ngapain?"
"Mau minta tanda tangan bapak buat formulir pendaftaran, Non."
"Ya udah, sana cari!" titah Rani ketus.
"Iya, Non. Permisi." Panji berjalan melewati mereka berdua sedikit membungkuk, dan terus berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang mencari keberadaan Pak Broto yang kebetulan sedang mengecek mobil majikannya.
"Panji. Ada apa?" tanya Pak Broto saat Panji datang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Gak apa-apa, Pak."
"Bapak sibuk?" tanya Panji.
"Ini biasa, Ji. Takut ada yang rusak."
"Kamu mau ngapain ke sini?" tanya lagi.
"Ini buang sampah."
__ADS_1
Panji membuang lembaran kertas ke dalam tong sampah, yang ia jadikan sebagai alasan kepada Rani saat ia kepergok oleh Gilang.
"Besok. Aku akan pergi, aku akan meninggalkan semua kenangan yang terjadi di rumah ini."