Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 38


__ADS_3

Hari itu mungkin sudah berlalu, tapi tidak bagi Kisya yang masih menyimpan amarah pada Kiran, dan rasa malu yang Kiran rasakan masih sangat terasa, ia bahkan tidak memiliki keberanian lagi untuk duduk di meja makan bersama keluarga besar Abiyu, sejak kejadian itu, Kiran selalu makan di dapur, padahal Shafiah dan Zahfran selalu meminta ia bergabung bersama


"Aku terlalu malu nyonya, aku sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk dekat dengan kalian, apa lagi kak Abiyu sendiri enggan untuk bicara dengan ku." Ujarnya.


Bukan benci, Abiyu samasekali tidak membencinya, justru ia merasa iba, kasihan karna sudah di permalukan istrinya di depan keluarganya, tapi apa yang bisa ia perbuat, membelanya? Itu tidak mungkin, ada hati yang harus ia jaga. Kisya.. Di atas segalanya, Abiyu tak ingin melukai perasaannya.


"Secepatnya lupakan aku Kiran, kamu berhak mendapat pria jauh lebih baik dari aku, mempertahankan cinta untuk ku, hanya akan menyiksa perasaan mu." Batin Abiyu bergumam, saat Kiran menyiapkan makan Kayla, setelah itu ia pun kembali ke kamarnya, dan memilih makan di sana, begitu lah hari-harinya.


Kayla yang saat ini sudah bisa makan sendiri, buru-buru menyelesaikan makannya demi bermain dokter-dokteran dengan Kiran di dalam kamarnya. Begitupun dengan Audy, walaupun usia Audi lebih tua satu tahun dari Kayla, bermain dengan Kayla masih terasa menyenangkan, walau kadang ada berantemnya juga.


"Aku udah selesai bunda." Kata Kayla, sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Aku juga." Timpal Audy, yang sama-sama cepat menyelesaikan makannya.


Mereka berdua lari menuju washtaple berebut untuk mencuci tangan lebih dulu. "Aku Aunty.."


"Aunty duluan." Kekeh.


Hikss...hikss... "Bunda.." Kayla menangis berebut mencuci tangan dengan Audy.


"Sebentar ko, aku udah selesai." Saut Audy sambil mengerucutkan mulutnya. Tapi Kayla masih merajuk dan menangis, mengadu pada bundanya.


"Audy sayang, Audy kan lebih tua dari Kayla, harus ngalah ya, Kayla kan masih kecil, kasian tuh nangis." Saut Shafiah menghampiri putrinya yang juga hampir menangis.


"Maaf bunda." Ucapnya penuh penyesalan.


Suara tangis terdengar sampai telinga Kiran, ia pun buru-buru keluar dari kamar bermaksud menemui Kayla.


"Itu kak..Kayla.."


"Kakak.." Kayla melepaskan tangan Kisya lalu berjalan sambil mengucek matanya menghampiri Kiran lalu memeluknya. "Aunty nakal." ucapnya mengadu pada Kiran.


"Audy gak nakal bunda." Saut Audy sambil mendongakan kepalanya menatap wajah sang bunda, ia takut kalau bundanya marah, ia pun menangis. Hikss..hikss..


"Looh..ko jadi paduan suara gini?" Saut Shafiah sambil memeluk Audy yang juga memeluk perutnya.


"Nyonya..biar mereka main sama saya, kalian bisa lanjut sarapannya." Kata Kiran sambil menunduk, tak memiliki keberanian lagi menatap wajah Kisya.


Sebetulnya Shafiah biasa mengatasi mereka berdua, tapi karna melihat Kiran tidak memiliki kegiatan apapun cuma mengasuh Kayla, dan itu pun sudah di batasi oleh Kisya, Kiran banyak diam bahkan kadang ia bingung mau mengerjakan apa lagi saat tugasnya semua selesai, akhirnya Shafiah membiarkan Kiran mengajak Audy dan Kayla bermain.


Kiran terlihat sangat bahagia. "Terimakasih nyonya." Ia pun mengajak dua gadis kecil itu ke dalam kamarnya, setelah berhasil mencuci tangan Kayla.


Kisya menatap punggung Kiran dengan sorot mata tajam. "Sya.." Shafiah menepuk pundaknya pelan.


"Iya bun."


"Ayo.. selesaikan sarapan kamu, kamu mau berangkat kuliah kan?"


"Iya bun." Setelahnya mereka pun kembali ke meja makan untuk menyelesaikan sarapannya.

__ADS_1


Kisya kembali duduk di samling Abiyu. "Mau nambah nasinya?"


"Udah Yank, cukup." Sautnya.


Abiyu nampak terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu, tidak ada yang tau apa yang sedang ia fikirkan, yang jelas ia menatap kosong nasi di atas piringnya. Tidak nyaman, mungkin itu yang Abiyu rasakan.


Selesai sarapan, Abiyu pun berangkat ke Restauran tempat ia bekerja, dan Kisya berangkat ke kampus menggunakan mobil sendiri, mobil yang di belikan Abiyu tempo hari. "Kasih aku kabar kalau udah nyampe Yank." Selalu Abiyu mengirim pesan pada Kisya, hanya untuk memastikan kalau sang istri sampai ke kampus dengan selamat.


"Aku udah di kampus Biy.." Balasan dari Kisya, setelah membaca pesannya, Abiyu kembali menyimpan ponselnya ke atas meja, ia duduk bersandar di atas kursi kebesarannya sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Kenapa harus ada kejadian kayal gini sih?"


"Bikin gak nyaman aja."


"Kiraann...kenapa kamu bisa suka sama aku."


"Siapa aku?"


"Aku cum pria biasa yang gak kaya-kayak amat" Terus ia bergelut dengan pikirannya, sampai ketukan pintu pun tidak terdengar.


"Abiyu.." Suara Bram menyadarkannya dari lamunan.


"Kenapa om?"


"Ko kenapa?"


"Ini kita gak jadi metting?"


Bram menghela nafas dalam. "ini pura-pura lupa atau gimana ya?" Kata Bram.


Abiyu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sambil cengengesan, dan itu membuat Bram sedikit geram.


"Abiyu...."


"Iya, iya om.." Ia pun bangkit dari duduknya. "Kasih tau aku metting tentang apa?"


"Aku lagi banyak pikiran tau di rumah."


"Mikirin apa lagi sih?" Tanya Bram sedikit kesal.


"Nanti aja ceritanya, ayo sekarang kita Metting dulu." Ia sudah kembali mengenakan jasnya, rapih.


"Metting apa?" Tanya Bram untuk lebih memastikan.


"Tau om tau, masalah rambut di nasi kan?"


Akhirnya Bram bisa bernafas lega, ingtan Abiyu kembali pulih. "Iya.." Jawabnya singkat. Akhirnya mereka pun pergi untuk mengadakan metting karna sempat mendapati komplain dari pengunjung yang kedapatan rambut ni nasinya tempo hari.


Keramaian terjadi di dalam kamar Kiran. Audy dan Kyla bermain dokter-dokteran. Kiran menjadi pasiennya, Kayla dan Audy menjadi dokternya.


Kayla meletakan stetoskop minannya di atas dada sebelah kiri Kiran. "Ini paru-paru kakak." Kata Kayla asal.

__ADS_1


"Salah." Saut Audy. "Itu bukan paru-paru, itu jantung."


"Tapi di dalam sini juga ada paru-paru Aunty."


"Tapi bukan di simpan di sana, kamu salah."


"Nggak, aku betul ko."


"Salah kan kak?" Tanya Audy menatap Kiran yang terduduk bersandar di kursi, sedang mereka berdiri di samping kiri kanannya.


"Dua-duanya benar. Di sini." Menunjuk ke dadanya. "Benar ada jantung ada paru-paru, tapi jantung hanya terletak di sebelah kiri, bukan di sebelah kanan." Saut Kiran menjelaskan singkat, sesingkat-singkatnya. yang penting mereka paham.


Tapi Kiran cukup heran juga dengan pengetahuan Audy, yang tau di mana letak jantung berada. Penasaran, ia pun bertanya. "Audy tau dari mana letak jantung ada di sini?" Tanyanya sambil menunjuk ke dada sebelah kiri Audy.


"Dari yutub tante."


"Aku suka lihat organ tubuh manusia, semua tersusun rapih di dalam."


"Tante tau, di dalam sini." Menunjuk ke arah perutnya. "Banyak cacing yang makan perut kita, kalau makan gak cuci tangan dulu." Setengah berbisik di telinga Kiran.


"Oh..ya..?" Mungkin maksudnya adalah bakteri. Kiran mencium kening Audy, dan Kayla pun meminta Kiran untuk mencium keningnya juga.


"Kakak sayang kalian."


"Sangat berat meninggalkan kalian, kalian sangat menggemaskan, bermain dengan kalian membuat hari-hari ku berwarna, maaf, mungkin kebersamaan kita gak akan bertahan lebih lama, karna kakak harus segera pergi dari kehidupan kalian." Tak terasa Kiran meneteskan air mata sambil memeluk Kayla dan Audy bersamaan.




Jejak


jejak


jejak



LIKE


KOMEN


VOTE


BUNGA



🙏🙏🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2