
Aisyah tidak bisa berhenti tersenyum tatkala mengingat judul buku yang Gilang miliki. Berpikir kalau pria seperti Gilang pasti sudah sangat pintar dalam hal demikian, ternyata tidak.
"Berhenti tertawa, Isya. Aku terlihat semakin bodoh dan itu memalukan." Gilang melayangkan protes dan merasa malu.
Dia yang saat ini tengah mengaduk-aduk makan malamnya, langsung merapatkan bibirnya dan berusaha berhenti tertawa. Ia menghela napas dalam, lalu bicara. "Baiklah. Lagian juga buat apa sih Kak Gilang punya buku kayak gitu? Kak Gilang buta akan hal seperti itu?" Dia bertanya penasaran.
"Aku ini bukan bayi baru lahir yang tidak tahu apa-apa. Mungkin anak ustadz saja mengerti, dan aku pasti jauh lebih mengerti," Gilang menjawab santai sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
"Lalu kenapa ada buku seperti itu di kamar Kakak?"
"Aku cuma mau tahu cara yang baik seperti apa. Hanya Itu."
"Dan sekarang kakak udah tau?"
"Lumayan. Mau kita praktekin?"
Aisyah yang sedang menelan makanan pun sampai terbatuk saat mendengar kata-kata suaminya.
"Hei, hati-hati, Isya." Sangat cekatan Gilang memberikan segelas air minum.
Satu tangan Aisyah memegang dada, satunya lagi menerima gelas berisi air minum dari Gilang, lalu ia meminumnya sampai habis.
"Kakak sih." Aisyah menyalahkan sang suami, sambil menyimpan gelasnya di atas meja makan.
"Loh, kok aku? Kamunya aja yang kurang hati-hati."
"Udah ah jangan bahas kayak gitu. Bikin selera makan ilang aja." Aisyah berkata dengan malu-malu.
Gilang tahu itu, lalu ia berkata lagi. "Emangnya kenapa? Gak mau ya?"
Seketika tangannya berhenti saat ingin menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Tidak tahu harus menjawab apa, Aisyah pun diam.
***
Di tempat yang berbeda, saat ini Azky tengah duduk di depan meja rias, sendirian larut dalam lamunan.
Fatih yang baru saja pulang bekerja, menghampiri sang istri, lalu mengucapkan salam dari dekat. "Assalamualaikum, Istriku."
Azky terkejut, menjawab salam dengan terbata. "Waalaikumsalam, Mas." Ia berbalik, lalu mencium punggung tangan sang suami.
"Kamu kenapa?" tanya Fatih penasaran. Wajah Azky tampak sedang tidak baik-baik saja.
Azky menggelengkan kepalanya. "Nggak kenapa-kenapa, Mas." Dia berkata sambil tersenyum dipaksakan.
"Jangan bohong. Aku tau kamu pasti lagi mikirin sesuatu. Bilang aja, siapa tau perasaan kamu bisa tenang."
Setelah mengatakan itu. Fatih berjongkok di depan Azky, meletakkan kedua tangannya di atas pangkuannya.
"Aku kepikiran anak kita, Mas. Aku takut Rani gak bahagia kalau udah nikah."
__ADS_1
Mendengar perkataan sang istri, dahi Fatih mengerut, lalu bertanya, "Kenapa kamu takut? Dia akan menikahi pria yang dia cintai. Kenapa kamu takut Rani gak bahagia?"
Bukan masalah menikahi pria yang ia cintai, tetapi ada hal lain. "Bukan gitu, Mas. Kamu tau gimana sifat Rani? Dia sedikit berbeda dengan Aisyah. Rani ingin semua serba ada dan terpenuhi, terus gimana kalau ...."
Belum selesai bicara, Fatih memotongnya. "Karena Panji hanya sebagai Office Boy? Begitu?"
Azky terdiam seraya menghela napas dalam.
Fatih mengerti akan kekhawatiran Azky. Walau bagaimanapun, seorang ibu perasaannya pasti lebih mudah tersentuh kalau mengenai kebahagiaan putri-putrinya. Fatih sebagai suami, coba memberikan pengertian secara perlahan.
"Kita sebagai manusia tidak bisa mengukur rejeki orang lain. Ada Allah yang mengatur semuanya. Katakanlah sekarang Panji berpenghasilan minim. Tapi, kita sebagai manusia yang pengetahuannya sangat terbatas, tidak akan pernah tau nasib setiap orang kedepannya akan seperti apa. Bisa jadi, Rani yang selama ini semua keinginannya selalu terpenuhi, nanti setelah menikah dia bisa dengan dewasa menghadapi rumah tangga yang jauh dari kata mewah."
"Aku tau, Mas. lagian bukan maksud aku mengukur rejeki orang kok. Aku cuma takut sama sifat Rani. Aku takut dia berubah setelah tau bagaimana sulitnya berumah tangga dengan ekonomi minim. Aku takut dia berubah."
Azky mengatakan itu, karena dia tahu bagaimana sifat satu persatu putri kembalinya.
Fatih mengerti dan dia kembali bicara. "Udah, kamu tenang aja, Rani pasti bisa menyesuaikan diri. Kamu percaya kan sama anak kamu?"
"Tapi, Mas."
"Azky, Rani gak akan kekurangan. Ada kita. Bukan mau membantu perekonomian dia, tapi kita akan membantu suport dan terus membimbing. Lagi pula, aku percaya sana Panji, Panji pasti bisa mendidik Rani dengan baik."
"Kamu yakin, Mas?" tanya Azky masih ragu.
"Aku yakin." Fatih menjawab dengan keyakinan penuh.
***
Keesokan harinya, saat jam makan siang, Rani pergi ke perusahaan Fatih, membawa box makan siang untuk sang calon suami. Siapa lagi kalau bukan Panji yang memang bekerja di sana sebagai office Boy.
Dia yang baru saja sampai di perusahaan, menjadi pusat perhatian saat turun dari mobil mewahnya sambil menentang box makan siang.
Beberapa orang yang mengenalnya menyapa dengan ramah. "Siang, Mbak Rani."
Rani membalas sapaan mereka dengan sebuah anggukan sambil tersenyum.
Setelahnya dia terus berjalan, menaiki anak tangga di depan pintu utama, lalu tiba-tiba dia berhenti, tersenyum saat melihat Panji sedang bekerja.
"A," panggil Rani.
Panji menoleh, raut wajahnya terlihat aneh.
"Emangnya belum jam istirahat ya?" Rani bertanya sambil berdiri di depan tangga besi, yang mana saat ini Panji sedang berada si atasnya, sedang mengganti lampu yang mati.
Sebelum menjawab, Panji melirik jam dinding di dalam kantor, lalu menjawab, "Bentar lagi. Ini belum selesai."
"Tinggal aja dulu. Kita makan dulu!"
Rani berpikir ini perusahaan ayahnya, tidak akan masalah kalau Panji istirahat di jam awal. Tetapi, semua tidak semudah itu. Dia tetap harus profesional dalam bekerja.
__ADS_1
Mendengar Rani berkata demikian, teman Panji yang juga ada di sana, mengerutkan dahinya seakan tidak suka.
Panji mengerti itu, lalu dia pun turun dari tangga. "Tunggu sebentar ya. Aku bicara dulu sama pacarku."
"Calon istri, A." Rani menegaskan.
Panji melirik Rani, lalu temannya. Dia langsung meraih tangan sang kekasih, membawanya sedikit menjauh dari teman-temannya untuk bicara.
"Ran. Kamu jangan bilang kayak gitu di depan temen kerja aku! Aku gak mau mereka berpikir yang enggak-enggak. Nanti, dibilangnya mentang-mentang calon suami bos besar, Aku dengan bebas melakukan apa aja," jelas Panji selembut mungkin. Agar tidak menyinggung perasaannya.
"Loh, tapi kan kamu gak kayak itu," protes.
"Iya. Tapi, mereka akan berpikir demikian. Aku nggak enak sama mereka."
Rani diam coba berpikir, lalu mengangguk. "Oke. Kalau gitu aku tunggu di sini. Kita makan siang bareng."
Rani begitu penurut, Tidak terlalu sulit menasihatinya. hanya saja sifatnya masih sedikit kekanak-kanakan, tidak seperti Aisyah yang pemikirannya lebih dewasa.
"Baiklah."
Setelah bicara dengan Rani, Panji pun kembali bekerja dan waktu lima belas menit itu tidak terasa sudah terlewati, hingga akhirnya jam istirahat pun tiba.
Panji menghampiri Rani setelah mencuci tangan, lalu duduk di atas pembatas jalan, menikmati makan siang bersama. Namun, belum juga selesai makan, tiba-tiba ada sosok pria tinggi berdiri di depan mereka sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Siapa lagi kalau bukan Zahfran.
"Ayah." Rani menyapa sambil tersenyum.
Panji yang terkejut pun langsung berdiri dan menyapa penuh hormat. "Siang, Tuan."
Zahfran membalas dengan suara dingin. "Siang."
Bukan hanya Panji, Rani pun ikut berdiri. "Ayah mau ngapain ke sini?"
"Ayah mau ketemu sama abi kamu. Ada urusan."
"Oh. Ya udah, ayah masuk aja. Abi kayanya ada di ruangannya," kata Rani yang memang belum ke dalam. Jadi, dia kurang tahu persis sang ayah sedang apa.
"Bukan cuma ayah. Tapi, Panji juga harus ikut dengan ayah menemui Abi mu."
Dahi Rani mengerut. "Untuk apa?"
"Ada sesuatu yang harus dibicarakan."
"Aku ikut!" pinta Rani.
"Tidak, Rani. Ini urusan para laki-laki."
"Tapi, aku juga mau tau."
"Rani putri ayah, tolong jangan membantah. Setelah kamu selesai makan siang, sebaiknya kamu pulang dan ayah mendapat pesan, Bunda Shafiah mau bertemu denganmu. Jadi pulanglah ke rumah bunda."
__ADS_1