
Adlan berjanji pada Kiran akan pulang siang ini. Tapi sayang, karna pekerjaannya belum selesai, Adlan tidak bisa pulang cepat karna 10 menit lagi akan ada metting dengan beberapa klien.
"Gak bisa besok aja mettingnya pah?" Pinta Adlan pada pak Herlambang. Pak Herlambang menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa. Mereka itu bukan orang biasa Lan, waktu mereka itu sangat berharga. Mereka berpengaruh besar di perusahaan ini loh," kata pak Herlambang memperingatkan.
Adlan terdiam, ini lah resikonya menjadi seorang CEO. Pasti akan di sibukan dengan pekerjaan, tidak seperti menjadi Manager di tempat ia bekerja dulu. Dia bebas melakukan apapun, karna di sana pekerjaan berat di atur oleh Fatih.
"Enakan kerja sama mas Fatih," ucapnya sambil bersandari di atas kursi kebesarannya, memandangi wajah Kiran di dalam layar ponsel miliknya. Pak Herlambang pun menyahuti.
"Semua pekerjaan ada resikonya Lan. Kamu itu bukan orang biasa. Kamu itu seorang CEO. Wajar lah pekerjaannya berat, karna tanggungjawabnya juga berat."
"Iya tau," jawabnya sedikit ketus.
"Aku ada janji sama Kiran tau, Pah," lanjutnya lagi.
"Janji apa?"
"Janji pulang cepet. Aku mau nemenin dia."
"Nememin dia, atau kamu yang mau di temenin dia?" Kata Pak Herlambang meledek.
"Ya papah ngerti lah. Kita ini baru nikah, bulan madu aja belum, malah keburu sibuk kerja." Selorohnya sedikit kesal, membuat Pak Herlambang tertawa sendiri.
"Udahan ngeluhnya. Cepetan! Temen-temen papah nunggu di ruang metting."
Terpaksa Adlan mengikuti pak Herlambang, karna memang ini lah resikonya menjadi seorang CEO. Mendahulukan pekerjaan di atas segalanya.
Tidak. Keluarga adalah segalanya.
Selesai metting selama 30 menit, Adlan buru-buru meminta ponselnya dari Mira. Karna selama metting, ponselnya di pegang oleh Mira.
"Apa ada panggilan selama saya metting?" tanya Adlan pada sekertarisnya.
"Tidak ada tuan," sautnya menunduk sopan.
"Tidak ada?"
Adlan membuka ponselnya, berfikir akan ada puluhan panggilan, juga pesan dari sang istri karna dirinya tidak bisa menepati janji. Marah, itu sudah pasti Fikirnya.
Cekrol sampai bawah, bahkan paling atas sekalipun tidak ada panggilan masuk atau pesan masuk dari sang istri. Semua masih sama, barisan paling atas adalah panggilan dari Fatih, sampai pesan masuk pun di penuhi pesan dari Fatih.
"Ini ngapain lagi? kenapa semua mas Fatih? memangnya dia istri ku apa?"
Isi pesan :
Fatih : Adlan di mana?
Fatih : Woy kabur ya?
Fatih : Wah.. ngajak ribut nih si Adlan.
Fatih : Giman itu Mall?
Fatih : Kacang lupa kulit.
__ADS_1
Fatih : Aku naikin deh gajinya, tapi balik lagi kerja di Mall ya? mau kan? (Tidak lupa Fatih juga menyertakan emotikon love berbunga)
"Idiih..." Adlan bergidik ngeri melihat semua pesan dari Fatih. Pasalnya Fatih tidak mengizinkan Adlan berhenti bekerja dari Mall miliknya.
"Emang enakan kerja sama mas Fatih, santai, bebas lagi," gumamnya sangat pelan. Pak Herlambang mendengar ocehan putranya.
"Adlan..."
"Iya Pah."
Adlan beranjak dari kursinya, berjalan keluar dari ruang metting sambil menghubungi Kiran. Saat Mira mengikuti Adlan, pak Herlambang mencegah Mira mengikutinya.
"Kenapa tuan?"
"Biarin dia sendiri dulu."
"Tapi kalau tuan butuh sesuatu?" kata Mira.
"Untuk satu jam kedepan, dia tidak akan membutuhkan apapun, karna yang dia butuhkan sudah ada di ruang kerjanya."
Kening Mira mengerut tidak mengerti. Mau diapakan lagi? dia hanya seorang sekertaris, dan pak Herlambang adalah tuan besar yang harus ia patuhi. Mira kembali menutup pintu, lalu duduk di kursi paling belakang, mempersiapakan metting selanjutnya, yang akan kembali di adakan satu jam lagi.
Adlan yang masih berjalan menuju ruangannya terus menghubungi Kiran yang tak kunjung menjawab panggilannya.
"Kemana dia? jangan-jangan marah lagi?"
Tanpa melihat ke depan, Adlan membuka hendel pintu, lalu masuk ke dalam, tapi matanya tak lepas dari ponselnya.
"Astagfirullah."
"Telepon gak di angkat, ko tiba-tiba ada di sini? jangan-jangan halusinasi?" ucapnya sambil mengucek mata, menatap tak percaya.
"Iihh.. halusinasi apaam sih."
"Ya ampuuun... bidadari. Peluk aku sayang," Adlan menghampiri Kiran lalu memeluknya erat.
"Hhmm.. cintaku, hidupku. Sama siapa kesini?"
"Di jemput pak Udin," Kiran menautkan tangannya di atas bahu Adlan.
"Pak Udin? Supirnya papah?"
Kiran mengangguk iya.
"Mas yang nyuruh pak Udin jemput aku?" tanya Kiran penasaran. Pasalnya, tadi pak Udin meminta Kiran untuk masak makanan kesukaan Adlan. Pantas saja dia datang sambil membawa rantang berisi makanan.
"Tapi aku gak nyuruh ko. Itu kan supirnya papah. Bukan supir aku."
Tiba-tiba ponsel milik Adlan bergetar menyala, tanda ada pesan baru masuk.
"Sebentar ya!" merogoh ponselnya di dalam saku tanpa melepaskan tubuh Kiran yang terus menempel bak perangko.
"Papah?" Nama yang tertera di layar ponsel.
Pak Herlambang : Puas-puasin deh tuh. Satu jam lagi kita metting lagi. Pastikan casan kamu full, jangan loyo kayak tadi. Temen papah banyak yang nanyain kamu, karna kamu kelihatan lesu tadi.
__ADS_1
Adlan tersenyum lalu mulai mengetik, membalas pesan dari papahnya.
Adlan : Siap pah. Bilang Mira, aku gak bisa di ganggu untuk satu jam kedepan. Aku mau mimum vitamin dulu.
Pak Herlambang tersenyum melihat balasan putranya. Mira yang melihatnyapun di buat penasaran.
"Mir." panggil pak Herlambang pada sekertaris Adlan.
"Iya Tuan?"
"Kalau ada yang nyariin Adlan, bilang dia lagi sibuk dan tidak bisa di ganggu untuk satu jam kedepan."
"Baik tuan."
Mereka berempat dengan pegawainya, tengah mempersiapkan materi untuk metting selanjutnya.
"Awas aja si Adlan kalau masih loyo," gumam pak Herlambang dalam hati.
"Ternyata papah yang ngirim pak Udin sayang. Buat jemput kamu."
Kiranpun manggut-manggut, "oh.."
"Ya udah. Duduk yuk, aku tadi masak makanan kesukaan Mas Adlan."
Kiran menuntun tangan Adlan untuk duduk di sofa bersama dengannya. Lalu membuka satu persatu isi rantang, dan yang ia bawa benar-benar makanan kesukaan Adlan.
Saat Kiran akan menuangakan nasi ke atas piring, saat itu juga tangan Adlan menyusup masuk ke dalam leher Kiran, menyibakan rambut Kiran ke belakang lalu ia mulai mengecupinya sampai meninggalakan beberapa jejak merah kepemilikan.
"Mas. Tanda kemarin belum hilang."
"Biarin, Mas mau ngasih tanda di semua tempat," ucapnya sambil mendorong tubuh Kiran sampai ia berbaring di atas sofa.
"Makannya?"
"Mas gak lapar, mas mau minum vitamin, sayang..." bisikan suara Adlan terdengar berat saat tangannya menyusup masuk ke dalam baju Kiran, dan menukan suatu kenikmatan di sana.
"Mas mau ini. Boleh?"
Kiran mengangguk, lalu Adlan mulai membuka kancing baju Kiran satu persatu sambil menempelkan bibirnya, menyusupkan masuk ke dalam rongga mulut, melilitkan lidahnya saling berpautan.
"Mas..."
Ini terlalu nikmat, Kiran menggigit bibit bawahnya untuk menahan desahan kenikmatan saat kedua tangan Adlan berada di dua tempat yang berbeda.
"Panggil nama ku Kiran, jangan kamu tahan. Sebentar lagi Jerry ku akan masuk."
"Mas Adlan.."
"Iya sayang?"
"Aku gak tahan."
"Jangan di tahan. Ayo keluarkan," jari Adlan bermain terlalu pintar, membuat Kiran tidak lagi bisa menahan.
"Aahh...aahh.. mas Adlan." tubuh Kiran mulai lemas, kali ini Adlan memposisikan dirinya di atas tubuh Kiran, setelah Kiran melakukan pelepasan pertamanya.
__ADS_1
"Dan kita masih punya waktu 45 menit lagi sayang. Aku akan membuat kamu puas."