Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 9


__ADS_3

"Aaaa....." Rani berteriak sekencang mungkin saat kakinya di urut oleh tukang urut yang di panggil pak Broto dari kampung sebelah.


"Pelan-pelan mak," ucap Rani sambil melototi mak urut yang sedang mengurut kakinya yang terkilir. Rani duduk di atas sofa sambil memeluk Azky.


Sedang Isya duduk di samping Rani sambil memegang tangannya juga ikut menangis tidak tega melihat saudara kembarnya kesakitan.


"Umi sakit." hikss...hikss..


"Sebentar, Nak. Bentar lagi juga udahan ko."


"Coba di gerakin kakinya neng," kata mak urut setelah selesai mengurutnya. Rani pun coba menggerakan kakinya.


"Udah enakan kan?"


"Sedikit," ucapnya sambil sesegukan, Isya pun merasa lega saat Rani tidak lagi kesakitan. Dia mengusap sendiri air matanya. Azky mencium puncak rambut Isya saat melihat putri kembarnya ikut menangisi adiknya.


"Adek udah gak apa-apa sayang, jangan nangis ya!"


Isya mengangguk sambil terisak.


"Mak olesin minyak tawon dulu ya neng, biar anget terus kakinya. buat hari ini jangan dulu banyak jalan. takut mingsel lagi uratnya, soalnya baru sih," kata mak urut sambil mengoles minyak tawon pada kaki Rani.


"Tuh dengerin," saut Azky bicara pada Rani yang terus memeluk, enggan untuk melepaskan.


"Iya Umi."


Setelah selesai mengurut, pak Broto mengantarkan mak urut ke rumahnya. Tak lama Fatih pun pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya.


"Ada apa Umi?" tanya Fatih yang juga merasa panik saat tau putrinya ada dalam bahaya saat pulang sekolah tadi. Apa lagi sekarang dia melihat wajah Rani sembab habis menangis. Dia meletakan tasnya di atas meja, lalu duduk di samping Rani.


"Sampe lupa ngucapin salam," kata Azky mengingatkan.


"Maaf Umi, lupa. Assalamualikum."


"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Rani gak apa-apa sayang?" Fatih bertanya sambil mengusap rambut putrinya. Rani menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Setelah menanyai keadaan Rani, Fatih melihat Isya juga berwajah sembab habis menangis.


"Isya kenapa?" tanya Fatih sambil menarik tangan Aisyah untuk duduk di sebelahnya. sama seperti Rani, ia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Isya ikutan nangis, liat adeknya nangis," kata Azky.


"Uuhh.. sayang banget ya sama adek, sampe ikut nangis juga? udah ya jangan nangis lagi, adek kan udah gak apa-apa."


Isya pun mengangguk, lalu Fatih merapihkan rambut putrinya yang sedikit berantakan.


"Nyonya. Ada telepon dari tuan Zahfran," kata salah satu ART sambil membawa telepon rumah pada Azky.


"Oh..iya. Sini bi!"


ART itu menyerahkan telepon pada Azky.


"Assalamualikum," ucap salam Azky setelah meletakan telepon di telinganya.


"Waalaikum salam," saut Zahfran membalas salam Azky.

__ADS_1


"Gimana Rani? dia gak apa-apa kan?" tanya Zahfran panik. Dia sampai menunda metting saat mendengar kabar perihal putrinya.


"Rani cuma keseleo mas. Tapi udah di urut ko, udah mendingan sekarang."


"Oh..syukur deh kalau udah mendingan. Mana coba, aku mau ngomong sama Rani."


"Bentar ya mas."


"Nak. Ayah mau ngomong nih."


Rani pun melepaskan pelukannya, lalu meraih telepon dari tangan Azky, dan ia kembali menangis sambil mengucapkan salam pada sang ayah.


"Assalamualaikum. Ayaaah..." hikss.. hikss.. Azky mengusap air mata Rani yang sedang mengadu pada ayahnya.


"Waalaikumsalam. Ko nangis lagi? kata Umi tadi udah baikan?"


"Tapi masih kerasa sakitnya, aku gak bisa jalan, Ayah."


"Jangan dulu jalan sayang. Kan baru di urut. Rani istirahat aja ya?" kata Zahfran berkata selembut mungkin.


"Iya ayah. Ayah mau ke sini gak?"


"Ayah ada metting sayang. Besok ya?"


"Gak mau. Rani mau sekarang."


"Kalau sekarang ayah gak bisa, Nak. Besok ayah janji, ayah pasti datang."


Rani merajuk, karna keinginannya tidak bisa di penuhi, "ayah jahat. Ayah gak sayang sama Rani."


Rani langsung menyerahkan teleponnya pada Azky karna kesal. Lalu Azky yang melanjutkan bicara pada Zahfran.


"Marah?" tanya Zahfran.


"Iya mas."


"Aku ada metting, kalau gak ada, aku pasti ke sana nemuin anak-anak."


"Iya gak apa-apa, mas. Nanti aku kasih dia pengertian."


"Ya udah. Isya ke mana?"


"Ada ini, lagi nempel sama mas Fatih."


"Oh.. ada Fatih?"


"Ada. Mas mau ngomong sama mas Fatih?"


"Aku ngomong sama Aisyah dulu deh."


Azky menyerahkan teleponnya pada Aisyah.


"Ayah..?" saut Aisyah merengek manja.


"Putri kesayangan ayah. Isya baik-baik aja kan?"


Aisyah mengangguk, "iya ayah. Ayah kapan mau ke sini? Isya kangen."

__ADS_1


"Besok nak, besok ayah janji ke sana."


"Janji?"


"Iya, ayah janji. Besok mau di bawain apa?"


"Mekdi, yang jumbo ya ayah. jangan pakai saus cabe, saus tomat aja. sama minumnya..."


"Aku juga mau, ayah," saut Rani menyela pembicaraan.


"Aku mau dua, yang jumbo, tapi aku mau di kasih saus cabe ya?" pintanya setengah berteriak, karna saat ini teleponnya sedang di pegang oleh sang kakak.


"Aku juga mau dua." Isya tidak mau kalah dari sang adik, meminta mekdi yang jumlahnya sama dengan adiknya.


"Iya.. ayah besok beliin banyak buat adik, sama kakak."


"Untuk Daffa?"


"Pasti dong. Ayah pasti beliin buat semuanya. Kasih teleponnya ke abi ya!" pintanya, Aisyah pun menyerahkan teleponnya pada Fatih.


"Iya Zha?" saut Fatih, masih memeluk Aisyah.


"Kamu tegur pak Broto tuh. Jangan sampai dia ngulangin kesalahan yang sama," kata Zahfran sedikit kesal, karna terlambat menjemput, kejadian yang mengerikan hampir melukai putri kesayangannya.


"Iya. Nanti aku tegur."


"Maaf Fatih, aku cuma gak mau anak-anak kenapa-napa."


"Iya. Gak apa-apa Zha. Aku ngerti ko."


"Terima kasih ya."


"Iya Zha."


"Ya udah, saya mau ada metting dulu. titip anak-anak ya. Assalamualaikum."


"Waalaikimsalam."


Setelah mengakhiri panggilan, Fatih menyimpan teleponnya di atas meja, lalu kembali berbincang bersama kedua putri kembarnya.


Fatih terus bertanya perihal kejadian tadi siang pada Rani, dan Rani menceritakan semuanya. bahkan tangan Gilang yang terluka akibat sabeta senjata tajam pun ia ceritakan.


"Gilang tetangga kita?" tanya Fatih penasaran. Rani pun mengangguk mengiyakan.


Hari-hari terus berlalu, dan ini hari kedua Rani tidak masuk sekolah karna masih terasa sakit saat banyak berjalan. Ia bahkan tidak keluar rumah walaupun sekedar bermain di taman.


Apa dia tambah sakit? Fikir Gilang, karna sudah dua hari juga dia belum bertemu lagi dengan Rani. Dia terus memperhatiakan halaman depan rumah Rani yang biasanya ramai oleh teriakan mereka berdua.


Masih belum kedengeran, padahal ini udah hari ketiga. Bergumam sambil memotong rumput depan halaman rumahnya.


"Abang. Tunggu, aku mau," Rani berteriak di depan gerbang rumahnya memanggil penjual bakso.


Entah kenapa, saat mendengar teriakan Rani, Gilang lari kegirangan, melempar gunting rumput ke sembatang arah, lalu membuka gerbang lebar-lebar demi bertemu dengan Rani.


Dia ada di depan mata, Rani tersenyum ke arahnya, begitupun dengan Gilang membalas senyum Rani dengan ramah.


"Udah sehat kak?" sapa Rani di sebrang jalan. Gilang mengangguk iya.

__ADS_1


Baru saja dia akan melangkahkan kakinya menghampiri Rani, tiba-tiba panji datang, menggandeng Rani masuk ke dalam rumahnya, menatap sinis ke arah Gilang.


"Anjrit tuh orang." batin Gilang bergumam.


__ADS_2