Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 33


__ADS_3

"Kak Gilang nyariin kamu, Ran."


Aisyah mengekor di belakang Rani yang saat ini sedang menaiki anak tangga, setelah selesai belajar dengan Panji.


"Kata siapa?" tanya Rani tanpa menghentikan langkahnya menuju kamarnya.


"Tadi aku ketemu kak Gilang di luar, katanya hari ini kamu belum kasih dia kabar."


Rani membuka pintu kamar, lalu mereka pun masuk ke dalam, menutup kembali pintunya, Aisyah duduk di pinggiran tempat tidur, sedang Rani mengambil baju tidur di dalam lemari hendak berganti.


"Aku lupa, Kak."


"Ya udah, sekarang kamu hubungin dia." titah Aisyah walaupun tidak terlalu memaksa.


"Iya, Kak, nanti aku hubungin dia."


Setelah berganti pakaian, Rani naik ke atas ranjang meraih ponselnya, hendak mengirim pesan untuk sang kekasih, akan tetapi ponselnya mati kehabisan baterai.


"Yah. Mati malahan."


"Apanya yang mati?" tanya Aisyah yang masih duduk di sana.


"Handphone aku. Aku cas dulu deh, nanti aku chat Kaka Gilang."


"Benar ya! kasian loh dia nungguin kamu."


"Siap Kakak ku yang cantik," ucapnya sambil berbaring.


"Kakak mau bikin jus, mau nggak?"


"Boleh deh, campur madu ya, Kak."


"Iya."


Aisyah keluar dari kamar sang adik hendak membuat jus, lalu ia mendapati Panji yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan sedang mempersiapkan lamaran untuk besok.


"Belum selesai A lamarannya?" tanya Aisyah yang baru saja datang, mengambil buah alpuket di dalam kulkas, lalu mengambil blender di dalam lemari.


"Belum, Non. tadi ngurusin persyaratan-persyaratan dulu ke polres, sama dokter."


"Itu tinggal apa?" tanyanya lagi, sambil memasukkan alpuket yang sudah ia kerik ke dalam blender.


"Tinggal nyusun aja sih," saut Panji.


"Padahal dari tadi bisa loh Aa ngerjainnya, Jadi beres kan sekarang."


Panji tersenyum. "Sibuk," jawabnya.


"Sibuk dikerjain Rani ya?" ledek Aisyah, membuat senyum Panji semakin mengembang.


"Seharusnya kalau Kakak sibuk, bilang aja sama Rani kalau Aa nggak bisa nemenin dia."


Selesai membuat jus, ia menuangkan jus itu ke dalam gelas secara bergantian, lalu duduk di kursi meja makan hendak menanyakan sesuatu hal kepada Panji.


"A..."


"Kenapa, Non?"


"Iisshh... Kakak mah, jangan panggil non terus. Nggak enak didengernya."

__ADS_1


Lagi-lagi Panji tersenyum. "Iya, Ran."


"Eh.." seketika ia menutup mulutnya yang salah menyebut nama Aisyah.


"Maaf," ucapnya dengan senyum.


"Hhmm... Aisyah, A. bukan Rani."


He.


He.


"Iya, tadi kan Aa udah minta maaf."


"Iya, iya."


"Tadi mau tanya apa?" kata Panji mengingatkan.


"Oh, iya. Hampir lupa."


"Apa?" tanyanya sambil memasukkan semua berkas ke dalam map, memasang telinganya lebar-lebar mendengar apa yang akan Aisyah katakan.


"Jawab pertanyaan aku dengan jujur ya A."


"Ok. Aa denger."


"Aa suka sama Rani?"


Deg.


Pertanyaan itu membuat tangan Panji berhenti beraktivitas lalu bengong menatap wajah Aisyah.


"Ng_nggak." jawab Panji sedikit tergugup.


"Bohong."


"Kamu aneh, Aisyah. Rani itu punya pacar, mana mungkin aku suka sama Rani." Panji terus menyangkal. Namun, semakin ia menyangkal, maka semakin terlihat jelas jawabannya yang bohong.


"Suka nggak masalah kali, Kak. yang penting kita tidak ada niat untuk memiliki, atau merebutnya."


Panji bergeming, lalu ia mengalihkan pembicaraan dengan jus alpuket yang Aisyah buat.


"Jusnya, Isya. Nanti keburu cair loh es nya."


"Hhmm... ngeles, deh.


Panji tersenyum lagi. "Udah sana naik. Rani nungguin kamu tuh. Nanti dia ngamuk lagi."


"Iya, Aa benar juga. Tapi ko dia nggak manggil-manggil ya? jangan-jangan, dia tidur lagi?"


"Ya udah, sana liat!" titah Panji agar Aisyah segera pergi, dan mengakhiri pertanyaan yang mampu membuatnya panas dingin.


Setelah mengakhiri percakapan dengan Panji, Aisyah pun naik ke lantai atas sambil membawa dua gelas jus alpuket.


"Jangan tidur, Ran. Kamu pasti belum ngehubungin Kak Gilang." Bergumam sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamar sang adik.


Jglek.


Pintu itu terbuka secara perlahan, dan benar saja ia mendapati Rani sudah memejamkan matanya, dengan kondisi lampu juga TV yang masih menyala.

__ADS_1


Aisyah tetap masuk ke dalam, meletakkan kedua gelas itu di atas nakas, lalu berusaha membangunkan sang adik.


"Ran. kamu udah hubungin kak Gilang belum?"


"Hhmm..." jawabnya tanpa berkata.


"Udah?" tanya Aisyah lagi


"Besok aja kak, aku ngantuk banget. Kalau nggak, Kakak aja deh yang kirimin dia pesan pake HP aku."


"Ya nggak bisa dong, Ran."


Dari ujung matanya, Rani melihat jus di atas nakas, ia menyempatkan meminum jus itu sampai habis, lalu kembali berbaring.


"Ran. Sebentar aja kirimin Kaka Gilang pesan, kasian dia nungguin kamu."


Rani mencabut handphone yang sedang ia cas, lalu memberikan handphone itu kepada sang Kakak langsung ke tangannya.


"Kakak tolongin aku ya. Kirim pesan ke Kak Gilang, pake handphone aku." titah Rani, dari sanalah Aisyah mulai mengirim pesan untuk Gilang.


Aisyah : "Malam, Kak. Seharian ini Kakak nggak ada kabar, Kakak ke mana aja? aku kangen."


Dia duduk di atas sofa sambil menikmati jus buah yang ia buat tadi sambil menonton TV.


Gilang yang saat ini sedang duduk di atas balkon, sangat kegirangan mendapatkan pesan dari sang kekasih yang sudah ia tunggu-tunggu sejak pagi.


Ia langsung menyambar benda pipih berwarna hitam, yang ia letakkan di atas meja, saat mendapat sebuah notifikasi pesan baru dari gadis pujaan hatinya, lalu ia pun mulia mengetik balasannya.


Gilang : "Sayang. akhirnya kamu ngehubungin aku juga."


Ada sedikit rasa bersalah sudah menuruti perintah sang adik untuk berbohong, tetapi ia juga merasa kasihan dengan Gilang yang terus menunggu kabar dari Rani.


Aisyah : "Maaf, Kak. Aku baru sempet kasih kakak kabar."


Gilang : "Kenapa baru kasih aku kabar? kamu sibuk sama si Panji?"


Aisyah : "Nggak, Kak. Aku sibuk banyak tugas, tadi ada ayah juga sama bunda datang ke rumah, aku sibuk sama keluarga."


Gilang : "Kangen, Sayang"


Sejenak Aisyah tertegun dengan pesan satu ini, membuat ia ingin menyudahi berpura-pura menjadi Rani, segera ia mengetik membalas pesan dari Gilang.


Aisyah : "Lain kali, kalau aku nggak ngasih kamu kabar, kamu kan bisa hubungin aku duluan, sekarang aku bukan anak SMA lagi, Kak. Tugas ku banyak."


Gilang : "Iya, Sayang. Maaf ya."


Aisyah : "Aku ngantuk, Kak. Aku tidur duluan ya."


Gilang : "Tunggu. Aku lagi ada di balkon. Keluar sebentar dong. Aku pengen liat wajah kamu, Sayang."


Deg.


"Gimana ini? Rani udah tidur pules lagi."


Karena tidak mendapat balasan, Gilang kembali mengirim pesan, melihat lampu kamarnya pun belum dimatikan, menandakan kalau penghuni kamar itu masih terjaga.


Gilang : "Sayang. Sebentar aja. Seharian ini aku belum liat wajah kamu."


"Nggak mungkin, gimana ini?"

__ADS_1


__ADS_2