Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani Part 52


__ADS_3

"Bapak mau ngapain?" tanya Panji kebingungan saat sang Ayah mengemas semua baju yang ada di dalam lemari ke dalam koper miliknya.


"Kita akan pergi," tegas Pak Broto tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Pergi ke mana?"


"Ke mana saja yang penting kamu dengan Rani harus terpisah."


Sontak perkataan Pak Broto membuat Panji terkejut.


"Bapak mau memisahkan aku dari Rani lagi?" Ia berjalan perlahan berdiri di samping sang ayah.


"Lalu apa mau kamu? menikahi dia?" hardik Pak Broto menatap tajam.


"Kenapa harus mencintai anak dari majikan kita? tidak bisakah kamu menahan perasaan untuk tidak mencintai Maharani? kamu mempermalukan Bapak."


"Mereka orang baik, Pak. Mereka tidak akan mempermasalahkan Itu," timpa Panji seraya merebut kopernya, mengembalikan semua ke dalam lemari, Pak Broto yang terkejut hanya bisa diam mematung.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pak Broto tegas.


"Aku tidak akan pergi dari rumah ini."


Pak Broto menarik Panji, membuat aktivitasnya terhenti. "Kalau kamu tidak pergi dari sini, kamu mau apa? menikahi Maharani?"


Dengan tegas Panji menjawab. "Iya, aku akan menikahinya."'


Pak Broto tersenyum ketir sambil mendudukan diri di pinggiran tempat tidur. "Kamu tidak tau diri Panji. Kamu hanya karyawan di kantor majikan kita, dan sekarang kamu bermimpi ingin menikahi gadis itu? apa kamu bisa membahagiakan dia?"


"Apa hanya harta yang bisa membuat orang bahagia?"


"Lalu, kamu mau membuat hidup Maharani menderita? dia terbiasa hidup mewah, apa kamu tega?"


Panji bergeming, Rani mungkin tidak akan mempermasalahkan itu, tetapi hidup dalam kekurangan, hanya akan menguji kesabaran pasangan kita untuk terpaksa menerimanya.


"Pikirkan itu baik-baik, jangan bawa dia hidup dengan kemiskinan." Kali ini Pak Broto berkata lebih tenang, berharap Panji bisa mencerna semua dengan baik, dengan pikiran jernih.

__ADS_1


Dia meletakkan koper yang sedang ia pegang, menjatuhkan semua isi di dalamnya, lalu pergi meninggalkan rumah, sedangkan Pak Broto hanya bisa diam memikirkan semua kejadian yang juga melibatkan putranya.


"Kita harus pergi, Panji. Lupakan Maharani.




Malam hari, di kediaman Gilang.



Aisyah membantu sang mertua mempersiapkan makan malam, terlihat Gilang sedang menuruni anak tangga menghampiri mereka dengan berpakaian rapih.



"Mau ke mana?" tanya Bu Anna sambil menata piring di atas meja, sedangkan Aisyah sedang menuangkan sayur ke dalam mangkuk.




"Sendiri?" tanya Bu Anna duduk di depan Gilang. Aisyah menghampiri mereka, duduk di samping sang mertua.



"Ini sayurnya, Kak." Aisyah membantu menuangkan sayur ke atas piring sang suami.



"Aisyah kamu ajak?" tanya Bu Anna mengejutkan Aisyah.



"Ikut ke mana, Tante?"

__ADS_1



"Gilang mau pergi ketemu teman-temannya, sebaiknya kamu ikut," ujar Bu Anna dengan senyum.



"Aku mau bertemu teman-teman cowok, Mom.Nanti Aisyah malah ceweh sendirian di sana."



"Kan ada kamu, kamu suaminya." timpal Bu Anna.



"Terserah Mommy lah, Aisyahnya juga belum tentu mau ikut." Gilang mulai menyantap nasi, sambil melihat ke arah Aisyah, di mana Bu Anna saat ini sedang membujuknya.



"Mau kan?"



"Aku nggak terbiasa kumpul sama laki-laki, Tante," saut Aisyah sedikit ragu.



"Kamu kan pergi sama suami kamu, jadi kamu aman, Nak. Gilang akan menjaga kamu," bujuk Bu Anna penuh harap, berharap hubungan mereka semakin dekat, sehingga benih-benih cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.



"Kita akan pergi ke mana, Kak?" tanya Aisyah saat mereka masih dalam perjalanan, menuju suatu tempat.



"Pesta."

__ADS_1


__ADS_2