Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 48


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar kalau Rani sudah ditemukan, Gilang bersama Aisyah kembali ke hotel, setelah sebelumnya sedikit berdebat dengan sang istri karena Gilang menginginkan pulang ke rumah, dia tidak ingin tertinggal kabar kedatangan Maharani barang sedetik pun.


Aisyah seorang gadis yang memiliki pemikiran yang cukup dewasa, berhasil membujuk Gilang pulang ke hotel karena tidak ingin menambah keributan kalau mereka pulang ke rumah Gilang, di mana mommy-nya pasti akan marah.


Pagi hari, Aisyah hanya tertidur selama dua jam karena ia harus bangun pukul setengah lima untuk melaksanakan solat subuh, sedangkan Gilang masih tertidur pulas bahkan saat ini waktu sudah menunjukan pukul enam pagi.


"Katanya nggak mau ketinggalan, tapi sekarang masih tidur." Bergumam sambil berdiri di depan Gilang, tidak lama pria yang saat ini sudah menjadi suaminya itu, menggeliat perlahan membuka mata, melihat Aisyah masih berdiri di dekatnya.


"Isya, lo udah bangun?" ucapapnya masih berbaring.


Aisyah mengangguk, lalu ia mengambilkan segelas air putih untuk sang suami, yang memang sudah ia siapkan sebelumnya. "Minum dulu, Kak."


Gilang pun bangkit dari tidurnya, menerima segela air putih dari sang istri, lalu menenggaknya sampai habis. "Makasih ya."


Aisyah meresponnya dengan senyum, berlalu hendak merapihkan tempat tidur.


"Ada kabar lagi mengenai Maharani?" tanya Gilang sambil berjalan menuju lemari, mengambil handuk hendak mandi.


"Belum," jawab Aisyah tanpa menghentikan aktivitasnya, melipat selimut, menatanya dengan rapih seperti semula, tetapi tidak dengan taburan bunga mawar berbentuk hati yang Gilang siapkan untuk Maharani.

__ADS_1


"Berarti mereka belum pulang?" tanyanya lagi seraya melilitkan handuk di lehernya, berjalan menghampiri sang istri dengan bertelanjang dada, sontak hal itu membuat Aisyah terkejut.


"Astagfirullah, Kak. Kenapa nggak pake baju?" protes Aisyah seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, dengan mata terpejam.


Sedetik itu juga Gilang menutup bagian tubuh yang terbuka oleh handuk, berlalu pergi ke dalam kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, juga sudah berpakaian rapih, Gilang bersama Aisyah bergegas pulang ke rumah Azky berharap Rani sudah pulang, dan mereka tidak tertinggal lama.


Begitu sampai di kediaman Aisyah, mereka langsung disambut oleh Azky, Fayih, Zahfran, juga Shafiah di depan pintu utama.


"Assalamualaikum," ucap salam Aisyah berlari menghampiri Azky, memeluknya erat.


Setelah memeluk Azky, Aisyah memeluk Fatih, Shafiah, lalu ayah kandungannya, Zahfran. "Kamu baik-baik aja kan, Nak?" tanya Zahfran masih memeluk putrinya.


Aisyah mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. "Aku baik-baik aja, Ayah." ucapnya dengan senyum.


"Rani belum pulang, Om, Tante?" tanya Gilang setelah bersalaman dengan mereka.


"Belum, Lang. Mungkin sebentar lagi," saut Fatih.

__ADS_1


"Gilang, sekalipun Rani pulang, kamu..."


Belum selesai bicara, terdengar suara pintu gerbang utama terbuka secara perlahan, terlihat mobil milik Fatih memasuki gerbang utama secara perlahan.


"Rani?"


Kebahagiaan terbesar Gilang saat ini adalah bertemu kembali dengan Rani, berharap bisa memperbaiki kekacauan yang sempat terjadi.


Mobil itu sudah berhenti, tetapi mereka belum keluar karena Rani masih merasa takut bertemu dengan keluarganya.


Panji berusaha membujuk, sehingga akhirnya Rani pun bersedia keluar dengan sisa keberanian yang ada.


"Kakak..."


Luka yang Rani gores seakan tidak terasa sakit, begitu melihat gadis yang ia cintai ada di depan mata, saat itu juga Gilang menghampiri Maharani, lalu memeluknya.


Semua terkejut, melihat sikap Gilang yang saat ini bukan lagi seorang bujang, melainkan suami dari Aisyah yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Sayangku, Rani. Kamu kembali untuk aku bukan?" bukan hanya Rani, Gilang pun ikut menangis bahagia. Namun, kebahagiaan itu memudar saat ia melihat tangan Rani menggenggam erat tangan Panji, ia pun melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Lepaskan tangan Maharani, Panji."


__ADS_2