Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 53


__ADS_3

"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Aisyah dalam perjalanan menuju suatu tempat bersama Gilang.


"Pesta," saut Gilang dengan entengnya.


"pesta?" Aisyah menatap Gilang dari samping.


"Iya. Kenapa? nggak biasa?"


Aisyah bergeming menatap ke luar jendela.


"Padahal tadi bilang aja kalau nggak ikut."


"Kakak tau sendiri kan tadi Mommy Kakak bilang apa."


"Biar gue nggak mabuk?"


Aisyah kembali terdiam, tetapi kali ini Gilang melirik sekilas ke arahnya dengan senyum.


"Lo tenang aja, Isya. Gue nggak bakal mabuk, Ko."


Aisyah mencoba tenang berusaha percaya dengan perkataan suaminya. Tidak lama mereka pun sampai di tempat tujuan.


Pesta yang cukup meriah, sengaja mereka adakan demi mengobati hati Gilang yang sedang terluka. Ia masuk ke dalam rumah temannya, menyapa satu persatu, lalu mengenalkan Aisyah kepada mereka.

__ADS_1


Aisyah yang merasa sangat risih berada diantara para pria, berusaha bersembunyi di belakang Gilang, sambil memegang ujung bajunya.


"Yakin ini Aisyah istri lo?" tanya salah satu teman Gilang memastikan agar tidak salah orang, karena mereka kembar identik, walaupun penampilannya jauh berbeda.


"Nggak usah ngaco. Nggak mungkin gue bawa Rani ke sini, sedangkan di pernikahan aja dia ninggalin gue."


"Kak!" Aisyah mendengus saat nama adiknya sisebut-sebut.


"Sorry, Isya. Gue kebawa suasana, mangkannya gue ke sini biar nggak terus mikirin adek lo," ujar Gilang sambil memegang satu gelas minuman beralkohol tinggi di tangannya.


Aisyah benar-benar tidak nyaman, beberapa kali ia meminta kepada sang suami untuk mengantarkannya pulang, tetapi Gilang menolak karena pesta belum berakhir, dia tidak mungkin meninggalkan pesat, yang dibuat khusus untuk menghibur dirinya.


Gilang menghabiskan beberapa gelas minuman, dan kesadarannya mulai terganggu, sehingga kehadiran Aisyah sedikit terabaikan olehnya.


"Kak, sudah jangan minum lagi! nanti Kakak mabuk." cegah Aisyah saat Gilang hendak menuangkan kembali minuman haram itu ke dalam gelasnya.


"Tapi Kakak udah mulai ngelantur. Aku takut, Kak."


Wajah Aisyah terlihat panik, matanya mulai berkaca-kaca, membuat Gilang menaruh kembali botol yang hendak ia tuangkan tadi, di atas meja.


"Mau pulang?" tawa Gilang, sambil duduk menyamping.


Aisyah mengangguk cepat.

__ADS_1


Dengan kesadaran 50% Gilang meminta maaf kepada teman-temannya karena tidak bisa berada di sana sampai selesai, lalu ia Gilang pun menuntun Aisyah keluar dari pesta.


Saat berjalan menuju parkiran, Gilang nampak sempoyongan, sehingga Aisyah harus menahan tubuh sang suami agar tidak jatuh dengan menautkan tangan Gilang ke atas bahunya.


"Aku kan udah bilang, jangan minum terlalu bayak." Aisyah mendengus, membuka pintu sebelah kiri samping kemudi, dengan susah payah ia membantu Gilang masuk ke dalam mobil, hingga akhirnya berhasil.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Gilang terus memanggil nama Rani, tanpa sadar bercerita masa lalu mereka yang menyenangkan, juga hal-hal romantis yang pernah mereka lalui saat masih menjalin kasih.


Di akhir kalimat ia mengatakan. "Aku mencintaimu, Rani." Pandangannya menatap wajah Aisyah dengan penuh cinta.


"Hentikan mobilnya di bahu jalan!" titah Gilang.


Perlahan Aisyah menginjak pedal rem, mobil pun berhenti di bahu jalan. "Mau ngapain?"


Gilang menatap wajah Aisyah dengan berurai air mata, membuat Aisyah kebingungan harus berbuat apa.


"Kamu mau kan buka kerudung kamu."


Permintaan Gilang sangat mengejutkan. Aisyah mengernyit.


"Untuk apa?"


"Aisyah. Aku merindukan Maharani, aku ingin bertemu dengan dia, aku ingin melihat wajahnya." lirih Gilang seraya mengusap lembut pipi sang istri, yang sempat mendapat penolakan.

__ADS_1


"Aku nggak bisa."


"Aku mohon, Isya."


__ADS_2