Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 10


__ADS_3

"A. Aku mau bakso. Kenapa di suruh masuk?" tanya Rani terheran yang tiba-tiba tangannya di tarik Panji masuk ke dalam gerbang. Dia bahkan mengunci pintu gerbang dari dalam.


"Biar Aa yang pesenin. kaki Rani kan masih sakit."


Rani melipat kedua tangannya cemberut, "Udah tau kaki aku sakit. Maen tarik aja lagi. Harusnya tadi di gendong kayak kak Gilang."


"Di gendong? Gilang gendong kamu?" tanya Panji dengan mengernyitkan dahinya. Rani pun mengangguk.


"Iya lah. Kalau gak di gendong, gimana kita bisa keluar dari semak beluar?"


"Semak belukar? kamu di umpetin di semak belukar sama si Gilang?"


"Bukan di umpetin A, kita kan lari dari kejaran polisi, pasti lewat perkebunan, biar gak ketangkep," kata Rani dengan entengnya.


Panji terkejut dengan pengakuan Rani. Gilang memang bener-bener bukan pria baik. Menjauhkan Rani dari gilang adalah tindakan yang tepat. Fikirnya.


"Udah sana. Aku mau bakso. beliin A!" pintanya merengek.


"Ya udah. Aa bliin. Rani tunggu di sini ya?" Panji membawa Rani duduk di kursi taman, sementara ia kembali keluar membeli bakso sesuai dengan apa yang di minta.


"Bakso sama sayuran aja ya bang, jangan pake Mie. Kuahnya juga bening gak pake kecap."


"Iye tong. Siap. Tunggu bentar."


"Maksud lo apa?" tiba-tiba saja Gilang menghampiri Panji lalu mendorongnya cukup kuat.


"Apa-apaan ini?" Panji kebingungan dengan sikap Gilang yang terkesan kasar pada dirinya.


"Maksud lo apa bawa Rani masuk ke dalam?" tanya Gilang penuh emosi.


"Kenapa emangnya?"


"Lo sengaja kan jauhin Rani dari gue?"


"Ngapain? kurang kerjaan banget."


"Wah.. songong banget ini bocah. Lo berani sama gue?"


Panji tersenyum ketir, "kenapa gue mesti takut? siapa lo?"


"Lo yang siapa khah? seenaknya lo jauhin gue dari Rani. Lo itu cuma tukang kebun di rumah itu. Ngerti lo?"


Panji mengangguk, "Iya. Gue cuma tukang kebun. Tapi gue di beri wewenang buat jaga keselamatan anak majikan gue. Terutama dari cowok berandal kayak lo."


"Berandal? gue?" ia menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya.


"maksud lo apa?" kembali Gilang mendorong Panji dan kali ini dia benar-benar jatuh tersungkur. Dalam hitungan persekian detik Panji pun kembali berdiri sambil merapihakan bajunya.

__ADS_1


"Gue peringatkan sekali lagi. Jangan coba hindarin gue dari Rani. Dia milik gue. Ngerti?"


"Dan gue akan pernah biarin lo deket-deket sama Rani. Denger itu."


"An**ng nih anak, bener-bener ngajak ribut."


Sangat kuat Gilang mencengkram baju Panji, tangan yang sudah mengepal sudah melayang di udara, siap melayangkan pukulan keras ke arah panji. Beruntung penjual bakso yang ada di sana, melihat kejadian itu, dan langsung melerai perkelahian mereka.


"Kagak usah berantem dimari tong, ente berdua mau di tangakep satpam?" kata abang penjual bakso, memperingatkan.


Panji melangkah mundur, sambil merapihkan kerah bajunya. Sedang Gilang yang sedang ditahan oleh abang penjual Bakso itu terus berusaha ingin menyerangnya.


"Dengar Panji tukang kebun. Lo bakal nyesel berurusan sama gue."


"Gue gak perduli."


Saat mereka masih berdebat, saat itu juga mobil yang menjemput Isya pulang sekolah melintas dan berhenti di depan mereka. Isya turun lebih dulu dan langsung menghampiri Panji.


"Ada apa A?" tanya Isya penasaran.


Pak Broto selaku bapaknya pun bertanya pada putranya. Dan panji hanya menggelengkan kepalan sebagai jawaban. Tapi tidak untuk Gilang. Dia menjawab pertanyaan pak Broto penuh emosi.


"Bilang sama anak bapak ini, nasehatin dia untuk tidak bersikap kurang ajar."


Gilang terlihat sangat emosi, dan Pak Broto memilih mengalah tidak mau memperpanjang masalah ini, dia meminta panji untuk meminta maaf, lalu pergi masuk ke dalam rumah.


"Lama banget A," Rani melayangkan protes begitu Panji datang.


"Maaf Ran. Tadi antri," kata Panji memberikan alasan bohong.


"Ya udah. Sini! Aku laper banget." selorohnya sambil mengulurkan tangan. Panji menyerahkan mangkuk berisi baso itu langsung ke tangan Rani, dan dia langsung menyantap baksonya dengan lahap, sedang Panji kembali dengan aktivitasnya menyiram tanama, sesekali juga ia melirik Rani dengan ujung matanya. Dia tersenyum. Senyum yang sulit untuk di artikan.


"Siapa lo? lo cuma tukang kebun yang kebetulan berteman sama anak majikan lo."


Kata itu kembali terngiang dalam ingatannya, segera ia menepis perasaan yang selama ini ia pendam. sedikitpun dia tidak berniat mengungkapkan perasaannya, dia cukup tau diri. Siapa dia? dan siapa Rani?


"Kita bagai langit dan bumi. sangat mustahil untuk bersatu." Batinnya bergumam.


"A." suara Rani menyadarkan Panji dalam lamunan.


"Iya Ran? kenapa?"


"Aa mau?" ucapnya sambil menyodorkan mangkuk berisi bakso di depan panji. Panji melihat masih tersisa tiga butir, ia merespon dengan menggelengkan kepala.


"Makasih. Kamu habisin aja baksonya."


"Tau aja A kalau aku masih mau," he..he.. ujarnya sambil tertawa.

__ADS_1


Tak lama Isya pun datang berlari menghampiri Rani dan langsung duduk di sebelahnya.


"Udah pulang Kak?" tanya Rani.


Isya pun mengangguk sambil melihat ke arah Panji, "Udah dek."


"Aa.." panggil Isya pada Panji. Panji pun menoleh, menghentikan sejenak aktivitsnya.


"Iya Non?"


Karna masih penasaran dengan kejadian tadi, Isya kembali bertanya.


"Tadi kenapa sih di depan? Aa ko ribut sama kak Gilang?"


"Nng.. gak, Non. Tadi cuma ada sedikit salah faham aja." sautnya sedikit terbata.


"Ribut? sama kak Gilang? kapan? ko aku gak tau?" pertanyaan Rani bertubi-tubi karna terkejut sekaligus penasaran.


"Iya dek. Barusan A Panji ribut sama kak Gilang di depan. Tau apa yang mereka ributin."


Bukannya bertanya perihal keributan, Rani ternyata lebih penasaran dengan keadaan tangan Gilang yang terluka.


"Dia udah sembuh Kak?" bertanya pada sang Kakak.


"Gak tau tuh. Kalau udah bisa berantem, berrti udah sembuh Ran."


"Aku udah lama gak ketemu kak Gilang, aku juga belum ngucapin terima kasih lagi. Aa sih tadi narik aku msuk ke dalem, aku jadi gak tau kan keadaan kak Gilang sekarang."


"Maaf Ran." ucapnya sedikit menunduk.


Gilang masih merasa kesal dengan sikap Panji terhadap dirinya. Ia menendang tong sampai sampai terbalik, sampah yang dengan susah payah ia kumpulkan, harus kembali berserakan karna ulahnya sendiri.


"Sial. Ini gara-gara si Panji tukang kebun nih."


Terus dia mengumpat kesal, seseorang yang ingin dia temu tiba-tiba memanggil namanya dari kejauhan.


"Kak Gilang..!"


Gilang yang tau dengan pemilik suara itu, langsung menoleh ke belakang.


"Rani..?"


Mereka saling melempar senyum, lalu Rani melambaikan tangan ke arah Gilang. Gilang yang merasa jiwanya terpanggil, berlari ke arah Rani dengan perasaan gembira.


"Ran..?" Gilang menyapa sambil ngos-ngosan.


Rani tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2