
Cincin pemberian dari sang kekasih, berhasil melingkar di jari manisnya, bahkan tanpa ia memberikan jawaban mau atau tidak menikah dengannya, karena diamnya Maharani, bagi Gilang adalah setuju.
Rani hanya bisa terdiam saat Gilang mengajaknya untuk menikah, bahkan sampai cincin itu melingkar di jari manisnya.
Namun, entah perasaan apa yang tengah ia rasakan? dia tidak terlihat bahagia, bahkan raut wajahnya terlihat kebingungan.
"Ada apa dengan ku? kenapa aku seperti ini?" Batin Rani terus bergumam sepanjang jalan.
Gilang tidak menyadari akan ha itu, dia hanya melihat Rani terus saja mengusap cincin yang ia berikan, dengan tatapan kosong ke depan, lali Gilang meraih tangannya.
"Sayang, kenapa?" tanya Gilang sambil mengecup tangan Rani, dan ia hanya tersenyum.
"Nanti malam boleh orang tua aku ke rumah kamu?"
mendengar hal itu, sontak Rani terkejut. "Buat apa."
"Buat ngelamar kamu," saut Gilang.
"Kak. Aku menerima kamu, tapi kalau untuk ibu kamu ke rumah, apa lagi melamar, nanti dulu deh. Aku juga kan belum bilang sama orang tua ku."
"Aku masih kuliah, Kak. Jadi, masalah pernikahan kita bahas nanti aja ya," pintanya seraya mengusap bahu Gilang.
Nampak ia berfikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya setuju. "Maaf ya, aku terlalu seneng, jadi pengennya buru-buru aja."
"Lagian, dengan menerimanya cincin dari kamu, kita nggak harus buru-buru menikah juga kan kak?" tanya Rani lagi yang masih kebingungan.
"Kalau Kakak minta secepatnya, aku nggak bisa."
"Iya, Ran. Nggak."
Gilang terus menggenggam tangan sang kekasih, enggan untuk melepasnya, bahakan saat mereka sampai di depan rumah Gilang terus memegangnya sangat erat, sampai pada akhirnya seseorang yang sangat mengagumi sosok seorang Rani ada si sana, melihat semuanya.
"Hei, Panji!" Gilang menyapa dengan senyum menyeringai.
Langkahnya terhenti saat Panji akan melewati mereka.
"Dari mana?" tanya Gilang yang penasaran dengan melihat pakaian kemeja yang ia kenakan.
"Habis ngelamar lo?" tanyanya lagi.
"Iya." Panji menjawab singkat, sambil melirik tangan Maharani yang terus digenggam oleh kekasihnya.
Rani terus menggerakkan tangannya, agar terlepas dari genggaman Gilang. Namun, bukannya terlepas, Gilang malah semakin mengeratkannya, lalu mencium jari Maharani yang terdapat cincin yang ia sematkan di jari manisnya.
Gilang menyadari Panji sudah melihat cincin itu, ia pun memanfaatkan kesempatan untuk mengatakan kalau dia sudah melamar Maharani, sekaligus peringatan untuk Panji agar tidak terlalu banyak berharap kepada Maharani.
"Kita akan segera menikah."
Tiba-tiba Gilang mengatakan itu tanpa ada yang bertanya.
__ADS_1
"Kakak!" protes Rani.
"Kenapa, Sayang?"
"Udah dong, buat apa cerita sama A Panji?" tanya Rani merasa tidak enak hati.
"Emangnya kenapa? dia sahabat kamu kan? aku rasa dia berhak tau, bukan begitu, Panji?" ucapnya dengan senyum menyeringai.
Wajah Panji terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Gilang, lalu menatap wajah Maharani, seolah meminta jawaban dia menerimanya atau tidak, dan pertanyaan di dalam benaknya, langsung mendapat jawaban dari Gilang.
"Dia menerima lamaran gue."
Kali ini respon yang berbeda ia tunjukkan di depan Gilang juga Rani. Panji nampak senyum dan berusaha baik-baik saja, dia bahkan memberikan ucapan selamat kepada mereka.
"Selamat ya, Ran."
Rani bergeming.
"Selamat buat kalian."
"Thanks." ucap Gilang dengan senyum penuh kemenangan, lalu Panji pun masuk ke dalam.
"Aku masuk dulu, Ya. Kak."
Saat Rania akan melangkah masuk, Gilang menarik tangannya lagi, sehingga langkahnya kembali terhenti.
"Jangan lupa ya nanti bilang sama orang tua kamu, perihal masa depan hubungan kita." kaya Gilang coba mengingatkan.
"A..." Ia berteriak, berjalan cepat menuju taman.
Dia tidak ada di sana, bahkan di kamarnya pun tidak ada.
"Aa...!"
Terus ia berteriak mencarai keberadaan Panji yang ntah ada di mana, sehingga suaranya yang cukup kencang, membuat Azky yang sedang berada di dalam kamarnya pun keluar untuk mencari tau.
"Ada apa, Nak?" tanya Azky sambil berjalan menuruni anak tangga menghampiri putrinya yang terlihat kebingungan.
"Umi, Aa mana?" tanya Rani dengan deru nafas yang terengah-engah, karena berlari ke sana kemari mencari keberadaan Panji.
"Panji ada di halaman belakang, Nak. Ada apa?"
Tidak sempat menjawab, Rani langsung berlari menuju taman belakang, dan benar saja dia ada si sana.
"Aa..." teriak Rani dari kejauhan, bukan hanya Panji yang menoleh, Pak Broto yang saat ini sedang membetulkan mesin mobil pun ikut menoleh ke arah sumber suara.
"Non.." kata Pak Broto menyapa.
Panji bergeming, hanya sekilas ia melirik, fokusnya kembali pada mesin yang sedang mereka perbaiki.
__ADS_1
"Aa. Denger nggak sih aku panggil?" geram saat panggilannya diabaikan, sehingga Pak Broto yang menyenggol lengan putranya.
"Ji. Itu Non Kiran manggil."
Tidak ingin terlalu menunjukan sikap aneh yang bisa saja menimbulkan kecurigaan, Panji pun merespon panggialnnya seperti biasa.
"Ran, kenapa?" tanya Panji, Rani pun menghampirinya lalu meminta Pak Broto meninggalkan mereka.
Karena sebuah perintah dari anak majikannya, mau tidak mau Pak Broto pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aa dari mana?" tanya Rani sambil berdiri di samping kanan Panji, menyandarkan tubuhnya di badan mobil.
"Habis dari kantor abi Kamu.," jawab Panji tanpa menghentikan aktivitasnya yang saat ini sedang memeriksa kondisi mobil tuannya.
"Terus gimana? Kakak keterima?" tanyanya lagi.
"Batu interview, nanti nunggu panggilan lagi."
Sebenarnya Rani merasa tidak nyaman saat Panji melihat cicin pemberian Gilang melingkar di jari manisnya. Rani pun terus menyembunyikan tangannya ke belakang.
Panji menyadari itu, akan tetapi dia memilih diam dan berusaha tidak perdui walau hatinya ingin sekali bertanya.
"Apakah kamu sungguh mencintainya?"
"Apakah kamu benar-benar akan menikah dengannya?
"Apakah kamu yakin akan menghabiskan sisa waktu dengannya?"
Semua pertanyaan itu ia simpan rapat-rapat dalam benaknya, tidak ada keinginan untuk menanyakannya.
"Seharusnya Aa terima tawaran abi, jadi gampang kan semuanya, Aa nggak perlu antri sama orang banyak," ujar Rani terus mengajak Panji bicara, tetapi yang diajak bicara malah mengabaikannya.
"Aa denger nggak sih aku ngomong apa?"
"Denger, Ran," saut Panji tanpa menoleh ke arahnya.
"Liat aku!" titah Rani, dan Panji tetap fokus pada kegiatannya.
Sebetulnya memperbaiki mobil itu sudah rampung sebelum Rani datang, hanya saja dia sengaja seolah sedang sibuk di hadapan Rani karena suasana hatinya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Aa denger aku nggak sih?" Rani mulai kesal karena merasa terus diabaikan semenjak pertemuannya tadi di depan rumah, lalu ia pun pergi. Namun, baru beberapa langkah, Panji meraih tangan Maharani, sehingga langkah kaki gadis itu terhenti.
"Aku denger," kata Panji, menatap intens wajah Maharani.
"Aku denger apa yang kamu bicarakan dari tadi."
Rani tersenyum bahagia.
"Aa nggak mau tanya mengenai cincin ini?" kata Rani tiba-tiba.
__ADS_1
"Aa nggak punya hak untuk bertanya mengenai cincin itu. Itu hak kamu."