
Rani sengaja keluar dari pesta itu karna bosan. Ia memilih mengunjungi pasar malam yang tadi di lewatinya saat perjalanan menuju hotel. Di sana lebih menarik fikirnya. Wahana permaian, kuliner khas Jakarta, dan yang paling menarik perhatiannya adalah permainan tong setan yang di dalamnya terdapat satu atau lebih motor mengeili dinding dengan kemiringn 70-90°.
Wow.. ini mengagumkan, gadis yang masih duduk di bangku sekolah SD itu memiliki kesenangan yang jauh berbeda dengan kakak kembarnya yang terlihat lebih kalem, dan tidak pernah melakukan hal yang aneh seperti adiknya. Asiyah Maharani.
Panji yang juga di perintahkan untuk mencari keberadaan Rani, akhirnya berhasil bertemu. Terlihat Rani sedang mengantri di depan loket tong setan hendak menyaksikan pertunjukan yang sebentar lagi akan di mulai.
Panji berlari sekencang mungkin menghampiri Rani, dan langsung menarik tangannya tepat saat dia akan menyerahkan uang pada kasir.
"Apa-apaan sih ini?" Pekiknya terkejut, sekaligus marah saat tau tangannya di tarik oleh panji.
"Kamu ngapain di sini?" kata panji khawatir, nafasnya masih terengah-engah karna berlari.
"Aku mau nonton pertunjukan."
Nama yang sangat jelas terpampang nyata di depan pintu masuk. TONG SETAN. Dari namanya saja sangat mengerikan, tapi tidak sedikitpun Rani merasa takut, justru dia sangat antusias untuk masuk. Mungkin kalau di ajak main ke wahana menyeramkan, tidak akan masalah.
"Kenapa ke sini?"
"Ya aku maunya ke sini ko. Di sini seru, pesta di sana ngebosenin tau."
"Itu pernikahan Om kamu Ran," kata Panji.
"Tau."
"Mangkannya ayo pulang. umi sama abi kamu nyariin loh."
"Nggak, nggak, nggak," Rani mengerucutkan mulutnya menatap ke arah lain.
Mereka masih berdebat berdiri di depan pintu masuk, menutupi jalan orang, lalu Panji bergeser sambil menarik tangan Rani untuk bicara lebih nyaman tanpa mengganggu jalan para pengunjung yang mau masuk.
"Lepasin. Aku mau masuk," kata Rani berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Panji.
"Gak bisa," semakin Rani berusaha melepaskan tangannya, Panji semakin mengeratkan genggamannya.
"Aku mau masuk, A," memaksa pun percuma, Panji terus menahan Rani untuk tidak masuk ke dalam.
"Di sana bahaya Ran. Kamu tau di dalam sana gak semua orang mau nonton, emang kamu berani jamin, kalau orang yang berdiri di sebelah kamu adalah orang baik?"
Rani menggelengkan kepalanya sambil cemberut.
"Nggak kan? Kalau ternyata penculik, atau pencopet, emng kamu bakal tau?"
Lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mangkannya. Pulang yuk! kasian nyonya sama tuan nyariin kamu."
"Aku gak mau pulang," kata Rani merengek hampir menangis.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku takut di marahin umi sama abi."
"Gak bakal, asal kamu pulang sekarang sama aku."
Kekeh. Rani tetap tidak mah pulang karna sesuatu hal.
"Apa sih yang di takutin? Aku gak bakal ngadu sama nyonya sama tuan kalau kamu pergi ke pasar malam." Panji terus merayu Rani untuk pulang. Tapi terus saja menolak.
"Aku takut A," ia kembali merengek, dan kali ini air matanya berhasil lolos dari pelupuk mata. Panji menghela nafas dalam sebelum kembali bicara dengan Rani dengan sabar. Khuuf...
"Kamu kenapa gak mau pulang?" ia bertanya dengan sangat lembut, karna tidak ingin membuat Rani semakin menangis.
"Uang jajan ku buat besok udah habis, ini tinggal segini," hiks..hiks.. menunjukan uang tiga lembar di tangannya, dengan digit empat nol di belakang angka satu.
"Umi pasti marah, karna aku menghabiskan uang jajan buat besok."
"Ya ampun... cuma masalah uang jajan? Berapa sih emangnya uang yang kamu habisin?"
"duaratus ribu."
"Apa...?" Panji terkejut. Baru sebentar berada di pasar malam, sudah menghabiskan uang sebanyak itu?
Wahana permainan di sana paling cuma 20.000 sekali naik, kalau di hitung dari sisa uang yang ada di tangannya, setidaknya dia sudah naik wahana permainan sebanyak 8 kali. tapi mustahil naik wahana 8 kali dalam waktu singkat, cuma 30 menit?
"Kamu pakai ke mana aja uang itu?" tanya Panji penasaran.
Panji mengerutkan keningnya, "lempar bola?"
Rani mengangguk, "iya."
"Lempar bola yang mana?"
"Itu," menunjuk ke arah belakang Panji, tepat di pojok dekat wahana bermain kuda-kudaan.
"Semua uangnya kamu habisin buat lempar ***?"
"Iya A," Rani terus menangis tanpa henti, malah tangisnya semakin kuat ketakutan di marahi orangtuanya.
"Cup, cup. Jangan nangis lagi," kali ini Panji yang mengusap air mata Rani dengan tangannya. Ia merasa kasian melihat Rani terus menangis ketakutan, padahal dia tau kalau umi sama abinya gak akan marah. Tapi biarlah, biar Rani belajar menggunakan uang dengan bijak, sekalipun orangtuanya kaya.
Tangisnya mulai berhenti. Panji membelikan Rani air mineral, untuk menghentikan sesegukannya karna menangis cukup lama.
"Ini. Minum dulu," kata Panji seraya menyerahkan sebotol air mineral. Dia membawa Rani duduk di atas trotoar pinggir jalan dekat pedagang kerak telor.
"Makasi A."
Dia langsung menenggak minuman, yang tutup botolnya sudah di buka lebih dulu oleh Panji. tenggorokan Rani mungkin sangat kering, ketahuan dari cara minum dia yang langsung menghabiskan setengah bolot air mineral.
"Haus neng?"
__ADS_1
"Banget A," kata Rani sambil menyerahkan botol minuman pada Panji. Panji kembali menutup botolnya, lalu meletakan botol itu di sampingnya.
"A. Uangnya gimana?" kata Rani masih kebingungan.
"Aa gak punya uang buat gantiin uang kamu, Ran."
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan uang sebanyak yang Rani punya.
"30.000?" kata Rani.
Panji mengangguk.
"Kalau di gabung, jadi berapa A?"
"Baru 60.000," kata Panji sama-sama kebingungan.
"Gimana dong? umi nanti marah ga? mungkin gak kali ya?" fikirnya, uminya sangat baik, mana mungkin marah cuma karna uang 200.000 aja. Dengan dia pulang saja, pasti umi bersyukur banget. Ya kan?
Tapi dalam sekejap ia teringat dengan sifat keras ayahnya. yang mungkin dia akan kena marah dari ayahnya.
"Tapi ayah beda A, ayah pasti marah," kata Rani yang hampir kembali menangis.
Lagi dan lagi Panji harus berfikir keras untuk membela Rani di depan orangtuanya. Nampak ia terdiam, seraya berfikir, memikirkan cara untuk menyelmatkan Rani dari rasa takutnya.
"Aa punya cara."
Seketika Rani tersenyum duduk menyamping menghadap Panji.
"Caranya gimana A? Aa bisa gandain uang? atau main tebak kartu? kayak mereka, tebak kartu dapet uang banyak."
"Bukan Ran, tebak kartu itu namanya j*di."
"Terus..?"
Kita mulai dari sini ya. mulai di munculkan semua peran yang terlibat dengan keluarga Azky.
Jejak
jejak
jejak
LIKE
KOMEN
VOTE
BUNGA
__ADS_1