
Mohon maaf karna kisah si kembar aku UP di sini.
Kenapa sih?
Sungguh. Kontrak di NT itu tidak lah mudah. Apa lagi untuk level, susah pake banget yang namanya naik Level. Dan alhamdulillah Level Dia maduku stay di level atas, walaupun bukan paling atas ya.
Jadi Author berfikir ulang untuk membuat novel baru. khawatir kayak cerita yang lainnya gak lanjut karna level tak kunjung naik.
mudah-mudahan masih pada suka ya. Konfliknya ringan aja ko, gak akan ada poligami-poligami lagi, dari mulai kisah Abiyu, sampai si kembar gak akan ada POLIGAMI jadi tenang aja.
HAPPY READING
"Terus..?"
"Ikut aku."
Panji mengulurkan tangannya mengajak Rani ke tempat main lempar bola, seperti yang dia lakukan sebelum panji datang.
"Aa ngapain ajak aku ke sini?"
"Tadi kamu main ini kan?"
Rani mengangguk, "Iya."
"Kamu mau boneka itu?" Panji menunjuk ke arah boneka paling besar, yang terletak di barisan paling atas lemari hadiah.
Rani kembali mengangguk sangat antusias.
"Kalau kita bilang itu harganya 150.000 masuk akal kali ya?" bertanya pada Rani, siapa tau dia mengerti tentang harga.
"Mungkin A," jawabnya sangat polos.
"Doain Aa dapet boneka itu ya."
"Sip."
Uang yang ia pegang sebesar 30.000 tadi, ia serahkan semua pada si pemilik toko permainan lempar bola. Dan pemilik toko itu menyerahkan 6 buah bola pada Panji.
"Kalau bola kamu bisa masuk ring yang paling kecil dan paling atas itu. Kamu bisa bawa boneka yang paling besar sebagai hadiah utamanya," kata si pemilik toko itu memberitahu Panji.
"Ok. Aa pasti dapetin boneka itu Ran."
Panji bersiap-siap ambil ancang-ancang agar bola miliknya bisa masuk ke lubang paling sulit, untuk mendapatkan hadiah utama. Sedang Rani berdiri di belakang Panji sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, mulutnya komat-kamit berdoa, yang entah doa seperti apa yang ia panjatkan.
Pluk.
Bola pertama gagal masuk ke dalam ring target, melainkan jatuh di ring paling depan, juga paling besar dengan hadiah minuman manis bermerek teh Si Asri.
"Lumayan A. Rani haus lagi," hadiah minuman tadi langsung ia tenggak oleh Rani sampai habis.
"Sabar ya Ran. Aa pasti dapetin hadiah utama."
"Bismillah."
Pluk.
Bola kedua belum juga berhasil, kali ini bola itu tidak masuk ring mana pun.
"Yah.. gagal Ran."
"Sabar A. Bolanya masih banyak," kata Rani sambil menepuk-nepuk bahu Panji.
__ADS_1
"Masih ada 4 bola. Kamu jangan berhenti berdoa dong, biar dapet."
"Iya. Aku berdoa terus dari tadi."
"Berdoanya serius, jangan sambil minum es."
"Iya A. Iya," Rani membuang cup yang sudah kosong itu ke sembarang arah.
"Buang ke tempat sampah, Ran," kata Panji sambil mengambil ancang-ancang untuk melempar bola yang ketiga.
Patuh. Rani pun memungut kembali cup yang ia buang tadi ke tanah, lalu memasukan ke dalam tong sampang yang tersedia di dekat kursi panjang sebelah kanannya.
Pluk.
Bola ketiga gagal lagi, sedikit lagi mengenai target, tapi akhirnya jatuh tanpa masuk ke dalam ring.
"Dikit lagi Ran."
Rani yang berdiri di belakang Panji, terus memberikan semangat supaya bisa mengenai target utama, dengan sisa 3 bola lagi di tangan.
"3 lagi Ran," kata Panji sedikit pesimis.
"Bisa A, satu bola lagi juga bisa kalau udah rejeki."
"Iya ya? Aa coba lagi deh."
Pluk.
pluk.
Keempat, bahkan sampai bola ke lima, belum juga mengenai ring target, dan baru mendapatkan boneka kelinci berukuran kecil yang sedang di peluk oleh Rani.
"Baca surat yasin dulu deh A. Siapa tau dapet," kata Rani asal.
"Ngaco kamu. Tahlilan apa."
"Surat yasin kepanjangan Ran."
"Surat Al-baqarah deh."
"Apa lagi itu. 200 lebih. Mau sampai besok?"
"Bukan semuanya Aa. baca ayat kursinya aja."
Panji melirik ke arah Rani dengan mata berbinar.
"Benar Ran. Ayat kursi," mulut Panji mulai komat kamit membaca ayat kursi sebelum melempar bola. Selesai membaca ayat kursi, dia mencium bola itu lalu melemparnya dengan membaca bismillah.
Pluk..
Tepat sasaran. Bola terakhir yang ia lempar masuk ke dalam ring target, dan hadiah boneka besar sebesar ukuran tubuh Rani, berhasil Panji dapatkan.
"Yee.... Aa hebaaaat..."
Mereka saling memeluk senang kegirangan setelah mendapatkan hadiah utama berupa boneka beruang besar yang ukurannya hampir sama dengan tubuh Rani saat berdiri.
"Ayo Ran, kita pulang. Kita bilang sama umi sama ayah kamu, kalau uangnya di beliin boneka ini."
"Iya A."
Panji menggandeng tangan Rani, hendak kembali ke hotel. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, melindungi anak majikannya dari bahaya yang kapan saja bisa menyerang dirinya. Seperti pencopet, atau pelaku pelecehan seksual di tempat umum.
__ADS_1
Usia Panji yang saat ini menginjak angka 13 tahun, cukup dewasa untuk melindungi Rani dari bahaya.
Baru keluar dari wahana bermain, Rani menahan langkah kaki Panji di depan penjual kerak telor.
"Mau ngapain?" tanya Panji terheran. Rani merogoh sakunya, mengeluarkan semua sisa uang yang dia punya.
"Cukup gak A?" tanya Rani dengan polosnya.
"Mau beli apa?"
"Kerak telor."
Panji melirik ke sebelahnya, karna memang ada penjual kerak telor di sana.
"Cukup sih. tapi paling yang dua telur," kata Panji memberitahukan.
"Gak apa-apa. Aa suka pedes?" bertanya pada Panji setelah menyerahkan uang pada abang penjual. Mereka berdua jongkok di depan kompor si abang penjual sambil memeluk boneka tadi.
"Terserah kamu, kamu mau pedes atau nggak," saut Panji seraya membetulkan posisi jongkok Rani yang sedikit kurang sopan, walaupun Rani memakai celana panjang, tetap rasanya kurang etis kalau cewek jongkok di depan umum.
"Pedes ya bang," pintanya pada abang penjual.
"Siap neng."
Rani dan Panji memperhatikan cara si abang penjual memasak kerak telor dengan gerakan yang sangat lincah. Jelas terlihat si abang itu adalah penjual profesiolal dengan kemampuan yang tidak di ragukan lagi oleh pembeli.
"Pasti enak," fikirnya.
Setelah jadi. Rani memebrikan kerak telur itu pada Panji.
"Buat aku?"
"Iya. Anggap aja sebagai hadiah karna udah bantu aku," kata Rani sambil tersenyum.
"Makasi ya Ran."
"Iya A. Ayo kita kembali ke pesta pernikahan om Adlan."
"Ayo."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel, tempat berlangsungnya pesta pernikahan Adlan, dengan membawa dua buah bonek. Satu besar, satu kecil.
"Itu Rani Umi," kata Aisyah sambil menunjuk ke arah pintu masuk utama aula.
Azky dan Fatih pun menoleh ke arah yang di tunjuk oleh putrinya. Dan akhirnya Azky bisa bernafas lega melihat putrinya kembali dalam keadaan baik-baik saja.
"Alhamdulillah.'
JEJAK
JEJAK
JEJAK
LIKE
KOMEN
VOTE
BUNGA
__ADS_1