Dia Maduku

Dia Maduku
Bab 45


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah kepulangan Zahfran,membuat hari-hari Shafiah semakin indah.


Shafiah semakin semangat mempersiapkan acara peresmian butiknya yang akan di gelar dua hari lagi.


Beberapa hari ini Shafiah mendapatkan keluhan dari sang mertua bu Melisa karna cucunya Abiyu sering sekali marah-marah krna sag bunda tak kunjung pulang ke Sidney.


Shafiah pun berusaha membujuk Abiyu untuk berhenti merajuk,ia menghubungi putranya melalu Vidiocall. "Assalamualaikum Abiyu sayang..." Shafiah melambaikan tangannya saat sedang Vidiocall.


"Waalakumsalam.tuh...lihat putramu sedang marah." Bu Melisa mengarahkan kameranya kepada Abiyu yang sedang menggulung tubuhnya dalam balutan selimut tebal.


Karna sedang marah,Abiyu tidak ingin melihat wajah Shafiah,ia terus membenamkan wajahnya di atas bantal.


"Kenapa sayang?"


"Bunda lama sekali gak pulang-pulang." Kata Abiyu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sabar ya sayang,minggu depan bunda pulang."


"Selalu minggu depan,ga ada habis-habisnya minggu depan terus."


"Kali ini bunda janji,minggu depan bunda pulang sayang.Ok." Shafiah menunjukan dan menggerak-gerakan jari kelingkingnya di depan kamera.


Tak ingin membalas,Ia malah kembali berkelum di balik selimut tebalnya.


"Ya sudah,sebaiknya minggu depan kamu menepati janji mu Shafiah. Kalau tidak,mamah gak tau deh gimana marahnya putra mu." Kata bu Melisa.


"Ya mah,setelah peresmian butik,aku pulang."


"Sebetulnya mamah ingin menanyakan...."


"Aku tau,jangan bahas di sini ya,nanti Abiyu dengar." Kata Shafiah mengecilkan suaranya seolah berbisik di telinga bu Melisa.


"Baiklah,kalau gitu kamu terusin lagi kerjanya."


"Ya mah,aku titip Abiyu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Shafiah menekan icon berwarna merah,memutus sambungan telfon,lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam laci.


"Mas Zahfran lagi apa ya? Aku pengen telfon tapi mas Zahfran gak punya Handphon." Nampak ia berfikir sejenak bersandar di kursi kebesarannya sambil memainkan bolpaint di tangannya.


"Assalamualaiku." Shifa masuk ke dalam ruang kerja Shafiah.


"Waalaikumsalam." Shafiah menegakan dudunya. "Kenapa Shifa."


"Semua sudah beres mba,persiapan launcing butik mu bisa di laksanakan besok." Kata Shifa berdiri di depan Shafiah.


"Alahmdulillah. Kalau gitu kita makan siang yuk.?" Shafiah bangkit dari duduknya mengajak Shifa untuk ikut dengannya makan siang di luar. Ia menautkan tas di bahunya.


"Bawa tas mba? Memangnya kita mau makan di mana?"


"Kita ke mall." Jawab Shafiah singkat sambil tersenyum.


"Ke mall? Tumben banget makan siang aja di mall mba." Ledek Shifa pada Shafiah,sambil mengekor di belakangnya.


"Mau ikut gak?" Sambil berjalan ia menoleh sejenak pada Shifa yang mengekor di belakangnya.


"Ikut dong,aku boleh makan apa aja kan?" Shifa menautkan tangannya pada lengan Shafiah.lalu merekapun pergi meninggalkan butik menuju salah satu mall terdekat menggunakan taksi online.



Karna mendengar piring pecah,Zahfran keluar dari kamarnya menuju sumber suara pecahan gelas. "Azky,kenapa?" Tanya Zahfran melihat Azky sedang memunguti serpihan gelas yang pecah tadi.



"Maaf mas,aku ganggu tidur mu ya?" Ia bicara sambil memunguti satu persatu pecahan itu. "Aaww.." Azky mengerjap kesakitan menjatuhkan pecahan gelas yang ada di tangannya,karna tangan satunya terluka,darah segar mengalir di jari telunjuknya.

__ADS_1



"Astagfirullah Azky,hati-hati." Ucap Zahfran sambil menarik tangan Azky untuk menjauh dari pecahan gelas yang berserakan di lantai.



Dengan sangat hati-hati Azky melangkah sambil berjinjit menghindari pecahan itu.ia berdiri di belakang suaminya.



"Kita obati dulu lukanya." Zahfran menarik tangan Azky dan membawanya duduk di sofa ruang tamu.



"Di mana kotak obatnya?" Tanya Zahfran yang masih berdiri di depan Azky.



"Di laci bawah TV mas,ada kotak warna hijau."



"Kamu tunggu di sini,aku ambilkan dulu obatnya." Zahfran pun pergi mengambil kotak obat,setelah mendapatkan apa yang ia cari,Zahfran kembali menghampiri Azky lalu duduk di sebelahnya. "Mana tadi tangan kamu yang luka?"



"Ini mas." Azky menunjukan jari telunjuknya.



Sangat telaten ia membersihkan sisa darah yang mengalir di jari telunjuknya. "Lain kali hati-hati." Ucap Zahfran sambil melilitkan perban di jarinya.



"Ya maaf mas,tadi aku buru-buru." Kata Azky yang tak henti-hentinya ia menatap wajah Zahfran tanpa sepengetahuan sang pemiliknya.




"Aku bangun kesiangan mas,jam kuliah ku sebentar lagi."



"Terus kamu mau ngapain di dapur? Kamu bukannya udah rapih,tinggal jalan kan?" Selesai melilitkan perban di tangan Azky,Zahfran menatap wajah Azky,seketika wajah Azky tertunduk ke bawah.



"Aku mau bikin sarapan buat kamu mas."



"Kamu jangan repot-repot,aku bisa masak sendiri ko. Kamu lupa ya,aku pernah tinggal di pesantren selama dua tahun? Cukup buat aku mandiri." Zahfran tersenyum pada Azky.



Melihat senyum simpul Zahfran membuat hati Azky menjadi tenang,bahkan ia lupa dengan jarinya yang terluka.



"Ya sudah,kamu berangkat gih,udh kesiangan kan?"



"Ya mas,kalau gitu aku berangkat dulu." Azky mencium punggung tangan Zahfran. "Assalamualaikum."

__ADS_1



"Waalaikumsalam."



Azky pun berangkat ke kampusnya menggunakan kendaraan angkutan umum.



Di sebuah Mall,nampak Shafiah bersama Shifa sedang berada di dalam sebuh konter hendak membelikan ponsel untuk suaminya.


"Ini bagus mba." Shifa menunjuk ke salah satu ponsel berwarna hitam.


"Hhmm...boleh. Mba,aku mau yang ini ya." Shafiah menunjuk satu ponsel rekomendasi dari Shifa.


"Ya mba,tunggu sebentar ya."


"Ini kartunya mba." Shafiah menyerahkan kartu unlimited nya pada petugas konter untuk melakukan transaksi.


Setelah selesai,petugas konter itu menyerahkan bingkisan yang berisi handphon itu kepada Shafiah berikut dengan kartu yang ia gunakan sebagai transaksi tadi.


Shafiah dan Shifa pun pergi dari konter itu menuju restauran untuk makan siang.Setelah selesai makan siang,Shafiah memutuskan pulang ke rumah Azky,ia sudah tak sabar lagi ingin menemui Zahfran untuk memberikannya hadiah ponsel baru untuk suaminya.


Setelah melakukan perjalanan selama 1 jam menggunakan taksi online,akhirnya Shafiah sampai di depan rumah Azky.


"Assalamualaikum." beberapa kali ia mengucapkan salam,namun tidak ada siapapun menjawab salamnya.


"Kemana ya mas Zahfran? tadi pagi perasaan di gak bilang apa-apa." Tanyanya pada diri sendiri.Shafiah pun duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah,sambil menunggu salah satu dari mereka pulang.Hampir 2 jam Shafiah menunggu di depan rumah.sempat ia tertidur sebentar namun tak ada satu orang pun yang pulang. "Ke mana ya mas Zahfran? Azky pasti lagi kuliah."


Tak lama.setelah itu,Zahfran pulang ia melihat Shafiah sedang duduk bersandar di atas kursi sambil memainkan ponselnya." Assalamualaikum." Ucap salam Zahfran baru datang.


"Waalaikumsalam. Mas Zahfran?" Shafiah bangkit dari duduknya langsung menyalami punggun tangan suaminya.


"Kamu udah pulang? Dari jam berapa?"


"Tadi."


"Lama nunggu.?"


"Lumayan. Kamu dari mana mas?"


"Aku habis cari rumah buat kita." Zahfran mulai membuka kunci rumahnya.


"Udah dapet?"


"Sudah,besok kita bisa pindah." Pintu rumah pun terbuka. "Ayo masuk." Zahfran mengajak Shafiah masuk ke dalam.


Zahfran dan Shafiah duduk di sofa ruang tamu. "Apa itu sayang?" Mata Zahfran tetuju pada bingkisan di tangan Shafiah.


"Oh..iya,ini aku beli handphone buat kamu." Shafiah memberikan bingkisan itu langsung ke tangan Zahfran sambil tersenyum simpul.


"Handphone?" Zahfran mengernyitkan dahinya seolah keberatan di belikan barang mewah oleh Shafiah. "makasi ya,tapi nanti jangan belikan aku barang mewah seperti ini.Ok.?" Kata Zahfran bicara selembut mungkin,agar tidak menyinggung perasaan Shafiah.




"Adlan.?" tanpa sengaja Azky dan Adlan berpapasan di sebuah persimpangan dekat kampusnya.



"Kenapa? kamu malu bertemu dengan ku?" Kata Adlan dengan menatap sinis.


__ADS_1


Azky melangkah pergi,namun tangan kekar Adlan menarik tangannya,hingga ia jatuh dalam pelukan Adlan. secepat kilat juga Azky menampar pipi Adlan sangat kencang. "Plak...


__ADS_2