
"Di mana Rani, Panji?" tanya Pak Broto kepada putranya yang saat ini masih terbaring lemah di atas ranjang besi klinik sesaat setelah mendapat penanganan medis akibat dari serangan Gilang yang membabibuta.
"Panji nggak tau, Pak." luka di bibirnya menyulitkan dia sekedar untuk bicara, wajahnya babakbelur, memar dibeberapa titik, juga luka di dadanya membuat ia terasa sedikit sesak akibat dari tendangan kaki Gilang yang sangat kuat.
"Seandainya tadi Gilang tidak menghajar kamu, maka bapak lah yang akan menghajar kamu, Panji."
Pak Broto menyadari dari dulu anak dari majikannya itu sangat mencintai putranya, begitupun dengan putranya yang juga sangat mencintai anak dari majikannya itu.
"Kenapa Bapak nyalahin Panji sih, Pak? Panji salah apa?"
Dia yang masih lemah pun harus kuat untuk menghadapi orang-orang yang sudah menyalahkan dirinya, termasuk Bapaknya sendiri.
"Kalau Rani suka sama Panji, Panji bisa apa, semua hal Bapak suruh, Panji udah lakuin. Mulai dari kuliah di Surabaya, padahal universitas negeri Jakarta saja menerima Panji sebagai mahasiswa yang mendapatkan beasiswa."
__ADS_1
"Panji pulang sesuai dengan perintah Bapak, Panji memendam perasaan kepada Rani selama bertahun-tahun karna Bapak melarang Panji menyatakan cinta kepada Rani, Bapak suruh Panji untuk bercermin, tau siapa dia, siapa kita, dan sekarang Rani pergi Bapak nyalahin Panji juga?"
Pak Broto menatap ke arah lain, Panji yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya pun berusaha kuat untuk berdiri, lalu menyambar jaket ia tersimpan di atas nakas.
"Mau ke mana kamu, Panji? tanya Pak Broto seraya mengikuti langkah putranya yang hendak pergi dengan berjalan tertaih-tatih.
"Aku akan mencari Rani, aku tidak akan pulang sebelum menemukan dia, Pak. Aku lelah selalu disalahkan," ucapnya tanpa menghentikan langkahnya, diikuti oleh Pak Broto dari belakang.
Panji tidak tau harus mencari ke mana, hanya saja dengan diam tidak akan memecahkan masalah, apa lagi membuat Rani pulang.
Bukan hanya hatinya yang hancur, terlebih Gilang, Rani yang sudah mengambil keputusan besar saat ini pasti dalam kebingungan, juga rasa bersalah yang sangat besar.
Bayangan Rani bunuh diri, terus saja menyeruak ke dalam pikiran Panji yang saat ini berada di perjalanan menuju suatu tempat yang mungkin saja didatangi oleh Rani.
__ADS_1
"Di mana kamu, Rani? pulanglah, selamatkan aku, aku menjadi tersangka atas kepergian kamu, atas kejadian hari ini," membatin sepanjang jalan, menyusuri kota Jakarta di malam hari, hanya untuk mencari Maharani.
Sedangkan di sana, dia yang sudah membuat kekacauan dengan melarikan diri sesaat sebelum akad dilaksanakan, tidak berhenti menangis, menyadari kekacauan yang sudah ia lakukan, sakit yang teramat dalam, melukai banyak orang, menghancurkan harapan seseorang, mematahkan hati yang tulus diberikan kepadanya.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku sudah menghancurkan hati kamu, hidup kamu. Aku sudah berusaha untuk mencintai kamu seorang, aku sudsh berusaha memberikan hati aku."
"Aku menyerah, Kak. Aku tidak mencintai kamu, semakin aku memaksakan, aku merasa semakin tersiksa, aku tidak ingin memulaj hidup baru dengan kebohongan yang nantinya akan lebih menyakiti perasaan kamu."
"Maafkan Rani, umi, abi, ayah, bunda. Kalian harus menanggung semua kesalahan yang aku perbuat, aku tau kalian terluka, maafkan aku."
Perlahan kakinya mulai melangkah, mendekati bibir pantai, dengan gelungan ombak yang semakin malam, semakin besar. Kakinya mulai basah, air laut mulai menenggelamkan sebagian tubuh Rani, lalu ombak besar berhasil membawa tubuh lemah itu masuk ke dalam dasar laut yang semakin dalam.
"Maharani...!"
__ADS_1