Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 23


__ADS_3

Maharani 23


Malam terakhir Panji berada di rumah besar itu. Ia sudah mempersiapkan semua keperluan untuk dibawa ke Surabaya. Berkas, juga semua baju sudah ia masukan ke dalam koper besar miliknya.


Seharusnya besok Panji cukup mengirim semua berkas melalui Pos, dan ada beberapa dokumen yang sudah ia kirim lewat email. Tetapi, ia berfikir kembali kenapa harus pindah nanti? kenapa tidak sekalian saja besok? toh, nanti maupun sekarang tidak ada bedanya, dia akan tetap pergi, dan mungkin harus pergi.


Rani yang masih sangat keberatan atas keputusan yang Panji ambil, masih berada di dalam kamar enggan untuk keluar padahal satu jam lagi Panji akan pergi meninggalkan rumah.


Di balik jendela kamar, Rani melihat Pak Broto sedang memasukkan koper millik Panji ke dalam bagasi mobil. Rasanya ingin sekali ia menarik koper itu, dan mengembalikan isinya ke tempat semula.


Panji yang saat ini sedang berada di kamarnya, berusaha menghubungi Rani lewat sambungan telepon, karena Rani terus menolak saat Panji mengajaknya bicara.


Beberapa kali ia mencoba, namun tidak ada jawaban. Hingga akhirnya Rani mendengar suara Abinya memanggil Panji, barulah ia menjawab panggilannya.


Begitu sambungan telepon terhubung, Rani langsung menangis.


"Aa...!"


Hiks.


Hiks.


Hiks.


Panji menarik nafas lega saat Rani menjawab teleponnya, walaupun isak tangis yang ia dengar.


"Akhirnya," ucap Panji.


"Jangan pergi, A!" Ia duduk bersandar di balik pintu sambil memeluk lutut dengan tangannya.


"Aku gak mau sendiri, aku gak punya temen lagi."


"Ran." Kali ini Panji memanggil Rani dengan namanya bukan panggilan Non yang biasa ia pakai.


"Jangan kayak gini dong, kasih Aa semangat."


Hiks.


Hiks.


"Nggak mau..." Rani terus menangis merasakan kesedihan teramat dalam.


"Aa mau pergi sekarang. kamu mau kan turun nemuin Aa di bawah?" Berharap bisa bertemu dengan Rani sesaat sebelum ia pergi, dan Panji ingin sekali melihat senyum di wajah cantik Rani untuk dirinya.


"Mau kan?"

__ADS_1


"Aku gak mau, A."


"Please, sebentar aja. Aa mau pergi sekarang."


Belum selesai bicara, seseorang mengetuk pintu kamar Panji. Siapa lagi kalau bukan Pak Broto selaku bapaknya.


Tok.


Tok.


Tok.


"Ji. Ayo!" panggilnya dari luar, ia sengaja mengunci pintunya dari dalam, agar ia punya kesempatan untuk bicara dengan Rani.


"Sebentar, Pak," saut Panji.


"Ran. Aa pergi sekarang ya. Gak apa-apa kalau Rani gak mau nemuin Aa. Aa cuma minta Rani belajar lebih giat lagi, nurut sama umi sama abi, dan semoga hubungan Rani sama Gilang berjalan lancar, Aa percaya ko kalau Gilang orang baik, dia pasti jauh lebih bisa jagain Rani dari pada Aa."


Rani tidak berkata apa-apa selain terus menangis, dan panggilan Pak Broto di depan pintu kamarnya tidak berhenti memanggil.


"Ayo cepetan, Ji. Nanti ketinggalan kereta!"


"Iya, Pak."


Karena Rani tidak berkata apa-apa lagi, Panji pun mengucapkan salam sebelum menutup teleponnya.


Setelahnya sambungan telepon pun terputus. Tangis Rani semakin jadi, sedang Panji terus menatap ke lantai dua saat berjalan melewati tangga menuju ke luar, dan sosok Rani yang ia harapkan ada si sana, serta memberikan senyum kepadanya, tidak sedikitpun menampakkan batang hidungnya.


Pasrah. Hanya itu yang bisa Panji lakukan. Seandainya ia memiliki kekuasaan, ia pasti sudah berlari menemui Rani di dalam kamarnya.


Setelah berada di luar, Panji berpamitan dengan Azky Fatih, dan terakhir Aisyah.


"Non. Maaf ya kalau selama ini saya ngerepotin, Non. saya bikin Non Isya marah, atau mungkin bikin Non kesel."


Bukan tidak sedih Aisyah pun merasa sedih saat Panji akan pergi. Ia menangis sambil menunduk.


"Aisyah juga minta maaf, A. Aisyah sama Rani sering nyusahin Aa."


Azky merasa kasihan melihat Aisyah menangis, lalu membawa Aisyah ke dalam pelukannya.


"Nanti kalian pasti ketemu lagi. kalian bisa main bareng lagi kalau udah sama-sama dewasa, sama-sama sukses. Iya kan?"


"Iya," lanjut Fatih.


"Kapan-kapan juga kita bisa ko ke Surabaya nemuin Panji. Iya kan Pak Broto?"

__ADS_1


"Iya, Tuan. Pasti," saut Pak Broto.


"Titip salam buat Non Rani, Tuan," Kata Panji.


"Nanti saya sampein."


"Tadi udah saya ajak turun, tapi dianya gak mau." Kata Fatih bicara pada Panji.


"Gak apa-apa, Tuan. mungkin non Rani pengen istirahat," saut Panji.


Setelah berpamitan, Panji pun masuk ke dalam mobil, dan mobil itu perlahan melaju keluar dari garasi. Saat mobil berada di depan gerbang utama yang sudah terbuka, tiba-tiba terdengar suara Rani berteriak memanggil namanya.


"Aa..."


Ia berlari tanpa mengenakan alas kaki mengejar mobil yang hampir saja pergi membawa sosok pria yang tanpa ia sadari ternyata sangat berarti dalam hidupnya selama ini.


"Rani. Pelan-pelan, Nak."


Azky hendak mengejar Maharani, namun Fatih mencegahnya.


"Biarin, Mii. Biarin mereka berdua bicara sebentar, kita ada di sini ko," kata Fatih. Ia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan putrinya saat ini.


"Aa, tunggu..."


Rani terus berteriak sambil berlari, lalu mobil pun berhenti. Panji tersenyum melihat Rani mau menemuinya dan langsung membuka pintu lalu keluar.


"Rani."


Tanpa memikirkan apa pun, bahkan ia mengesampingkan rasa malu juga gengsinya, Rani memeluk Panji sangat erat di hadapan semua orang.


"Aa. Jangan pergi."




Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak



LIKE



KOMEN

__ADS_1



Setelah membaca, biar semangat nulisnya.


__ADS_2