
Sudah lebih dari satu bulan Kisya tidak masuk kuliah, disamping dia belum menemukan pengasuh baru, juga Kayla yang menolak diasuh oleh orang lain. membuat kuliahnya sedikit terbengkalai demi menuruti keinginan putrinya yang menginginkan bundanya selalu berada di rumah bersamanya.
"Kasih bunda waktu ya, Nak. Cuma satu bulan ko, habis itu bunda janji akan ambil cuti buat nemenin Kayla di rumah."
Kayla mengerucutkan bibirnya, keningnya mengerut tidak setuju.
"Kan ada Nekda sama Audy juga dirumah," saut Shafiah coba membujuk cucunya yang sedang merajuk.
"Bunda janji, cuma sebulan sayang."
Kayla yang tidak mengerti apa-apa terus menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Bun, gimana dong? Aku harus menyelesaikan tugas kemaren gak ikut tour. Gak lama ko, cuma sebulan."
"Gak bisa lebih cepat?"
"Bisa, tapi aku harus minta bantuan kak Radit. Aku harus melibatkan dia kalau mau lebih cepet."
"Tapi, Bunda tau sendiri kan kalau Abiyu cemburu banget sama kak Radit," sautnya dengan wajah kebingungan.
"Harus dia?"
"Karna dia asisten dosen ku. Dia bisa memberikan semua materi sama aku, Bun. Jadi sebelum materi turun dari dosen, aku udah tau duluan dari kaka Radit. Cepet kan jadinya?"
Shafiah mengangguk paham, "Ya udah, sekarang kamu berangkat dulu aja, nanti abiyu pulang, kamu bisa diskusiin lagi sama suami mu. Siapa tau nanti dia ngerti."
"Iya. Mudah-mudahan ya, Bun."
"Bunda berangkat ya Kay," ucapnya seraya mencium kening putrinya.
Kayla yang masih diselimuti rasa amarah, memilih berlari masuk ke dalam kamar, meninggalkan Kisya dalam kebingungan.
"Kay, siang Bunda pulang ko. Jangan marah ya?"
Tidak mau mendengarkan, Kayla terus berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Udah gak apa-apa. Nanti Bunda yang bujuk dia."
Berat hati meninggalkan Kayla dalam keadaan marah seperti ini. Tapi, bagaimana lagi. Kisya yang di haruskan menyelesaikan tugasnya, terpaksa harus kembali masuk kuliah, sampai tugas tour yang tidak ia ikuti selesai, setelah itu ia akan mengambil cuti selama dua semester.
Begitu sampai di kampus, Kisya memarkirkan mobilnya di dekat parkiran motor. Ia melihat ada motor Radit terparkir disebelahnya.
"Aku harus temuin dia," ucapnya sambil berjalan cepet hendak menemui radit di kantornya.
Baru memasuki area kampus, Nindy yang melihat sahabatnya kembali masuk kuliah, langsung berlari sambil berteriak memanggil namanya.
"Kisya..."
Kisya berhenti, dan Nindy langsung memeluknya erat, "Gue kangen tau, sya."
Kisya membalas pelukan Nindy. Tidak bisa dipungkiri, kalau ia juga merasakan hal yang sama, setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu, Kisya juga merindukan sosok Nindy yang sangat ceria, juga menyenangkan. Diluar dari niat buruk yang terselubung terhadapnya.
"Lo kuliah lagi?" tanya Nindy setelah melepaskan pelukan, namun tangannya masih menggenggam erat tangan sahabatnya.
"Iya, tapi cuma buat beresin tugas aja."
"Habis itu?"
"Gue ambil cuti dulu, Nin."
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Kayla gak mau gue tinggal."
__ADS_1
"Salah lo juga sih, si Kiran malah lo berhentiin kerja," kata Nindy asal, karna ia belum tau alasan yang sebenarnya apa.
"Gue gak pecat dia, dia yang ngundurin diri,"
"Oh... ke kantin dulu yuk, sarapan." ajaknya sambil menautkan tangannya.
"Nanti deh, gue harus ketemu kak Radit dulu."
"Ada apa?" penasaran.
"Ada perlu," jawabnya singkat.
"Mau gur anter?"
"agak usah, gue sendiri aja."
"Ya udah deh, nanti kita ketemu di kelas ya."
"Ok."
Nindy berlalu pergi ke kelasnya, sedang Kisya menemui Radit di kantor. Tempat berkumpulnya para dosen juga asistennya.
"tok...tok..tok.."
"Pagi kak."
Pemilik suara yang sudah tidak asing lagi ditelingga Radit, kembali terdengar setelah sekian lama. Tau kalau itu suara Kisya, Radit langsung menghentikan sejenak aktifitasnya di depan Laptoop.
"Hei..." sapanya dengan senyum semeringah.
"Kak..." Kisya menunduk malu, setelah kejadian saat itu, ini kali pertama mereka bertemu lagi.
"Duduk, Sya!" titahnya, mempersilahkan duduk di kursi yang ada di depannya. Kisya pun duduk sambil menaruh ranselnya ke atas pangkuan.
"Tumben. Ada apa ini? Kok kayak mimpi ya didatengin kamu," ucapnya dengan senyum.
"Serius, ada apa?"
"Aku butuh bantuan kamu, Kak."
"Bantuan? bantuan apa?"
"Bantu aku menyelesaikan tugas dari pak Ramon. Kakak punya semua materinya kan?"
Radit mengangguk, "Iya, aku kan asistennya."
"Kakak bisa kan bantu aku ngerjain tugas dari pak Ramon?"
"Memangnya kamu gak sanggup ngerjain sendiri? lagian materinya juga mudah ko, pak Ramon juga gak minta buru-buru. Santai aja."
"Aku yang mau buru-buru, Kak."
"Kenapa?" keningnya mengerut tidak mengerti.
"Bulan depan aku mau cuti kuliah. Tugas itu harus selesai sebelum aku ambil cuti."
"kenapa? ko tiba-tiba?"
"Kayla gak mau ditinggal, sekarang aja dia marah aku berangkat kuliah."
"Tolong dong Kak, bantu aku selesaikan tugas-tugas ku." Kisya melipat tanganny di dada, ia benar-benar memohon, meminta bantuan Radit, karna hanya dia yang bisa menolongnya.
"Aku sih mau aja, Sya. Cuma, suami kamu itu loh."
__ADS_1
"Kamu masih inget kejadian di Cafe tempo hari?"
Kisya mengangguk, "Aku inget."
"Tapi Nanti aku pasti bujuk Abiyu buat ngerti ko."
"Bisa dia ngertiin kamu?" tanya Radit sedikit ragu.
"Mudah-mudahn bisa. Dan harus bisa." sautnya antusias.
Nampak berfikir sejenak sebelum mengiyakan atau menolak permintaan Kisya. Wajah Kisya terlihat kebingungan, kalau menolak permintaannya, rasanya tidak mungkin. Dan kalaupun menerimanya, ia takut kejadian saat itu terulang lagi, saat Abiyu menghajar dirinya karna cemburu.
Namun, karna Kisya terus merengek meminta bantuan dirinya, mau tidak mau akhirnya Radit pun mengiyakan keinginan Kisya.
"Kapan kita mulai?" tanya Radit penuh kesiapan.
"Nanti aku kasih kabar kalau aku udah bilang sama Abiyu."
Raditya mengangguk setuju, "Baiklah..Secepatnya kamu hubungin aku."
"Iya Kak. Makasi ya," ucap Kisya tersenyum senang. Akhirnya ia berhasil meminta bantuan Radit untuk membantu kesulitanya. Dan kesulitan terberatnya adalah mendapatkan persetujuan dari suaminya.
Hari menjelang malam, Kisya menunggu kepulangan Abiyu di dalam kamarnya sambil beraktivitas di depan Laptoop. Tak lama tepat pukul 22.00 Abiyu sampai di rumah, dan langsung masuk kamar karna tau kalau istrinya sudah ada di dalam kamar.
"Yank, belum tidur?"
"Belum, Biy."
Setelah menggantung jasnnya, Abiyu berjalan menghampiri Kisya, lalu mencium keningnya dari belakang sofa sambil berdiri lalu ia pun ikut duduk bersama sang istri.
"Tugas?"
"Iya."
"Kayanknya banyak tuh?" ucapnya sambil melihat layar Laptoop di depannya.
"Tugas tour itu loh, yang aku gak ikut."
"Oh.."
"Ya udah, kamu terusin deh, aku mau mandi dulu."
"Abiy," Kisya memegang tangan Abiyu yang hendak berdiri.
"Kenapa, Yank?"
"Ada yang mau aku bicarain."
"Tentang?"
"Kak Radit." jawabnya ragu.
"Radit?" kening Abiyu langsung mengerut tidak suka.
"Ada apa sama dia?"
"Aku...
Aku minta jejaknya dong 😭😭.
LIKE
KOMEN
__ADS_1
BUNGA
juga VOTE nya supaya Abiyu gak marah, juga hubungan mereka baik-baik aja 😊🙏