
"Kenapa sih susah banget disuruh naik aja."
Kiran terus menatap kedepan sambil menurunkan rok mini yang semakin naik keatas saat duduk. Terlihat tidak nyaman, Adlan memberikan mantel yang ia kenakan pada Kiran.
"Pake ini. Tutup!"
"Gak perlu, Om."
"Kiran...!"
Karna Adlan memaksa, akhirnya Kiran menerima mantel yang diberikan Adlan untuk menutupi paha mulusnya yang terekspos bebas.
"Untung naik mobil, coba kamu bayangin naik ojek dengan pakaian mini kayak gitu? kamu mau mereka tergoda?"
"Kasian kan mereka harus berbuat dosa karna liat paha kamu."
"Ko aku sih yang disalahin?" keningnya mengerut tidak suka.
"Iya lah. Kamu umbar aurat."
"Ini kan peraturan yang Om buat," jawabnya kesal.
"Bukan Om yang buat. Managemen," sautnya mencari pembelaan.
"Alasan."
Kebetulan mobil mereka melewati pangkalan ojek yang Kiran maksud tadi, di sana terlihat ramai dengan sekumpulan pemuda tidak jelas, yang menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan.
"Lihat itu! itu yang kamu maksud ada ojek?"
Melewatinya saja memang mengerikan, apa lagi kalau tadi dia benar-benar naik ojek di sana, dengan pakaian mini seperti ini lagi. Pria normal saja bisa tergoda, apa lagi mereka yang sedang mabuk.
"Harusnya tadi kamu bilang sama Om, kalau mang Ucup gak bisa anter."
"Aku takut ganggu."
"Ganggu apa? tidur?"
Kiran menggelengkan kepalanya, "Bukan."
__ADS_1
"Terus? ganggu apa?"
"Ganggu hubungan Om sama pacar Om," jawabnya sambil memalingkan wajah.
"Pacar? pacar yang mana?" keningnya mengerut tidak mengerti.
"Yang tadi siang."
"Siang?" Adlan coba mengingat kegiatannya hari ini, da tidak ada kejadian apapun selain bertemu dengan Shifa.
"Ya ampun, maksud kamu Shifa?" sekilas Adlan melirik, melihat Kiran masih memalingkan wajahnya menatap keluar.
"Kiran!"
"Hhmm..." sautnya tanpa berkata.
"Kamu fikir Shifa itu pacar ku?"
Sikap diam Kiran saat ini, sedikit membuat hatinya berbunga. Ingin menganggap kalau Kiran sedang cemburu, rasanya terlalu cepat. Khawatir ia salah menduga, dan akan kecewa akhirnya.
Demi ingin mengetahui perasaan Kiran terhadap dirinya, Adlan meneruskan perkataannya sendiri dengan pernyataan yang mengejutkan.
"Terserah Om." jawabnya singkat.
Adlan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Kiran yang masih menumpang di rumah Nindy. 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang ia tumpangi sampai ke tempat tujun.
"Terimakasih, dan ini mantelnya," setelah memberikan mantel pada Adlan, ia pun langsung keluar dari mobil tanpa berkata apapun selain mengucapkan terima kasih.
"Kiran,"
Kiran yang baru saja membuka pintu gerbang, kembali menoleh ke belakang.
"Boleh Om minta pendapat kamu?"
"Apa?"
"Apa pendapat kamu tentang Shifa?"
"Kenapa minta pendapatku?"
__ADS_1
"Emangnya gak boleh?" timpal Adlan yang sengaja membuat Kiran kesal.
"Baik."
"Lalu?"
"Ya udah."
"Itu aja?"
"Cantik. Udah ah," ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam, dan tidak perduli lagi dengan suara Adlan yang terus memanggil namanya.
"Besok Om jemput."
"Gak usah," jawabnya dengn berteriak.
"Om masih butuh pendapat kamu tentang Shifa."
Karna Adlan terus berteriak, Security yang sedang berkeliling menegurnya.
"Heh. Berisik," ucap Security itu sambil berkacak pinggang di depannya.
"Iya pak. Maaf."
Kiran yang masih berada di depan pintu, tertawa melihat Adlan mendapat teguran dari Security setempat.
"Ya ampun Om Adlan."
Maaf ya baru sedikit.
Lagi ngurus yang sakit.
Mudah-mudahan sore bisa UP lagi.
__ADS_1
Minta jejaknya ya 🙏🥰