
"Kak Isya. Sini cepetan," Rani memanggil sang kaka yang saat ini sedang memakai hijab mau berangkat sekolah.
"Ngapain?"
"Itu kak Gilang lagi pegang golok kak."
"Golok?" karna penasaran, Isya berjalan menghampiri sang adik yang sedang berdiri di samping jendela menatap ke bawah rumah Gilang.
Gilang wira. Anak berusia 16 tahun itu hidup dengan orangtua kandung yang kerap kali bertengkar hampir setiap pagi. Bahkan menurut tetangga sekitar, orangtua Gilang sedang mengurus perceraian karna sang Ayah kerap mabuk-mabukan, juga berselingkuh dengan sekertarisnya sendiri sampai memiliki seorang bayi perempuan.
Isya dan Rani berlari ke luar rumah menghampiri Gilang yang sudah mengacungkan golok ke arah sang ayah yang sedang memotong rumput di halaman rumahnya.
Mereka melakukan itu karna pernah melihat Gilang memukul ayahnya sendiri dengan balok saat ayahnya memukul ibunya dengan sabuk. Tidak Heran kalau saat melihat Gilang mengacungkan golok ke arah ayahnya, maka yang ada di pikiran Rani dan Isya adalah Gilang pasti sedang berencana membunuh ayahnya dengan golok secara diam-diam.
"Kak Gilaaang. Jangaaaan."
Isya dan Rani berteriak sambil berlari berniat mendorong tubuh Gilang, tapi yang ada malah mereka yang jatuh tersungkur ke tanah karna sangat cepat Gilang mengelak.
"Aaaaaaa... bruuk."
"Aaww... sakit."
Rani mengusap dengkulnya, sedang Isya mengusap lengannya yang terluka kena serpihan batu pinggiran tanaman hias milik Gilang.
Pak Darwin yang sedang memotong rumputpun menoleh ke belakang, melihat Isya juga Rani masih terduduk di tanah.
"Ada apa? Kalian kenapa?" tanya Pak Darwin menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Om?" sapa Rani dan Isya bersamaan.
"Tau mereka ngapain tiba-tiba lari ke sini. Kenapa?" tanya Gilang sambil mengernyitkan dahinya terheran.
Isya berdiri, sambil menarik tangan sang adik untuk berdiri juga.
"Kak Gilang mau ngapain megang Golok?" tanya Isya memberanikan diri untuk bertanya.
"Ini?" mengacungkan golok ke depan Rani dan Isya.
Isya dan Rani pun mengangguk bersamaan sambil mengkerut sedikit menjauh dri acungan golok milik Gilang.
"Ini gue mai nebang pohon.
"Nebang pohon? tapi ko jalannya ke arah ayah nya kak Gilang?" kata Rani.
"Ya karna pohonnya emang di sana. Kenapa emang?"
"Masa sih?"
__ADS_1
"Ko masa sih. Emang iya pohonnya di sana. Kalian gak lihat apa pohon segede itu di samping bokap gue?"
Rani dan Iaya menengok ke sebelahnya, memastikan benar ada pohon yang terlihat sudah tua di sana, daunnya pun sudah mulai kuning dan rontok.
"Kalian fikir, gue mau ngapain pegang golok? mau maen masak-masakan kayak yang kalian lakuin di depan rumah?"
"Aku fikir Kakak mau mem..." Isya yang tau sang adik akan mengatakan apa, dia buru-buru membungkam mulut Rani dengan tangannya.
"Kkhhmm..." Rani memaksa tangan Isya turun dari mulutnya, dan akhirnya berhasil.
"Kakak apa-apaan sih?" kata Rani mendengus kesal. Dia mengusap mulutnya karna tadi tangan Isya banyak tanahnya. Isya melotot memberikan isyarat pada sang adik.
"Apa?"
"Kalian kenapa sih?" Kening gilang semakin mengerut.
"Bawa masuk temennya Lang," kata Pak Darwin tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Mereka bukan temen aku ko. Anak kecil kayak gini," ucapnya seraya menatap Rani juga Isya dari ujung kaki sampai kepala.
"Anak kecil? Kakak anggap kita anak kecil?"
Gilang melipat tangannya di dada, "kalau bukan anak kecil apa coba?"
Rani geram karna di sebut anak kecil oleh cowok tetangganya.
"Kita bukan anak kecil Kak. kita udah kelas 5 SD tau gak," kata Rani melayangkan protes.
"Sono pulang, sono. Ganggu gue aja. Gue gak ada waktu main-main sama kalian."
"Rani ayo kita pulang," Isya menarik paksa tangan sang adik untuk meninggalakan halaman rumah Gilang. Rani menolak.
"Gak bisa Kak, Kak Gilang ini songong, seenaknya aja bilang kita anak kecil."
"Ran. dia lagi pegang golok. Kamu gak takut apa? dia gak jadi bunuh ayahnya, bisa-bisa kita yang di bunuh," kata Isya terus menarik tangan Rani.
Rani yang juga merasa takut dengan golok di tangan Gilang, langsung melangkah mundur menjauh. Berfikir yang di katakan sang Kakak ada benarnya juga.
"Iya kak. Ayo kita pulang."
"Hus... hus... sono pulang," kata Gilang sambil mengibaskan tangannya. Akhirnya Rani dan Isya pun kembali ke rumahnya sambil berlari.
"Non. Dari mana?" tanya Panji yang baru saja keluar dari dalam rumah sudah siap dengan seragam sekolah.
"Kita habis gagalin aksi pembunuhan berencana A" kata Rani asal jawab saja.
"Pembunuhan berencana? di mana?" tanya Panji penasaran.
__ADS_1
"Gak ada A, Rani asal aja kalau ngomong," saut Isya.
"Ayo masuk dulu Ran. umi sama abi pasti nungguin kita di meja makan," setelahnya mereka pun kembali berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Panji dalam kebingungan.
"Apa sih maksud mereka?"
Di tempat lain, Adlan saat ini sedang duduk di atas sofa depan TV dengan posisi Kiran duduk di depannya menyaksikan acara masak bersama.
"Emang kamu bisa masak?" tanya Adlan sambil menyusupkan wajahnya pada leher Kiran, lalu mengecupnya beberapa kali.
"Mas geli iihh," ucapnya sambil melipat lehernya.
"Geli itu kalau di kelitikin kayak gini nih," Adlan mencontohkan dengan menggelitik perut Kiran dengan jarinya. Kiran tertawa berusaha melepaskan tangan Adlan.
"Ampun Mas. Ampun," menyerah.
Adlan yang masih merasa gemas, bergantian mencium bibir Kiran sangat lembut, sangat dalam, sangat lama bahkan sampai harus menghela nafas dalam untuk meraup oksigen banyak-banyaknya untuk mengisi setiap rongga paru-paru yang kebahisan oksigen.
"Mas.." Kiran melayangkan protes karna Adlan tidak mau melepaskan cengkramannya.
"Kamu itu gemesin tau gak," kata Adlan sambil mengusap bibir Kiran dengan jarinya. Kiran tersenyum lalu memeluknya.
"I love U Om Adlan."
"Love you too Kirania Rossalie."
Kruuk...
Adlan langsung melepaskan pelukannya, "suara apa itu?"
"Itu suara perut ku Mas. Pura-pura aja gak tau iih.."
"Gimana gak tau. Orang kedengeran ko."
Kiran menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, karna malu.
"Iya gak sayang. Maaf. Kamu bilang dong kalau laper. Itu kan udah di siapain dari pihak hotel buat sarapan kita."
Adlan melepaskan tangan Kiran yang terus menutup wajahnya. lalu membawa semua makanan di atas meja.
"Wow.. sarapannya banyak banget mas?" ini kali pertaman dia menginap di hotel dengan sajian sarapan sebanyak ini, dan seenak ini.
Adlan membuka piringnya, lalu mengambil semua menu yang Kiran tunjuk.
"Cukup mas!"
Kiran mulai menikmati sarapan di suapi Adlan, dan rasanya sangat berbeda kalau makan dari tangan orang lain. Lebih nikmat.
__ADS_1
"Makan yang banyak, sayang. Habis ini kita akan tempur lagi."
"Mas Adlaaan..."