
"Maaf, Kak!"
Tanpa berkata, Gilang langsung menutup teleponnya, lalu kembali masuk ke dalam. Tiba-tiba Rani datang memeluk Aisyah dari belakang.
"Hayo... ngapain di sini?"
Hanya memeluk sebentar, lalu berdiri di samping Aisyah.
"Udah telepon A Panjinya?" cetus Aisyah.
Membuat kening Rani mengerut. "Ko sewot sih? kenapa?"
"Sekarang kamu hubungin Kak Gilang. Cepet!" titah Aisyah.
"Mau ngapain?"
"Ko mau ngapain, dia nungguin kamu dari tadi loh, Ran."
"Oh iya. Aku hampir aja lupa."
Ia kembali masuk ke dalam mengambil ponselnya, lalu menghubungi Gilang.
tu...t
tu...t
"Di angkat?" tanya Aisyah berdiri di depan Rani.
Rani menggelengkan kepalanya. "Belum. Apa dia udah tidur ya?" ucapnya terus coba menghubungi Gilang tanpa henti.
"Belum," kata Aisyah.
Aisyah melirik ke arah balkon, terlihat lampu kamar Gilang masih menyala menandakan kalau Gilang masih bangun.
Benar. Gilang masih bangun, saat ini ia sedang duduk di atas sofa sambil memandangi ponselnya yang terus menyala. Tujuh kali sudah Rani coba menghubungi Gilang, dan Gilang tetap pada pendiriannya tidak mau mengangkat telepon dari Maharani masih kesal.
__ADS_1
Karena Gilang tak kunjung mengangkat teleponnya, Rani berhenti menghubungi Gilang dan memilih berbaring lalu tidur. Tak lama setelah itu lampu kamar Gilang pun mati, Aisyah menghela nafas dalam lalu menutup pintu balkon masuk ke dalam.
Pagi hari. Rani terlihat gelisah berdiri di atas balkon terus menatap jauh ke depan sambil menggenggam ponsel di tangan kanannya.
Entah apa yang sedang ia pikirkan, Aisyah berjalan perlaham menghampiri Rani berdiri di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Aisyah.
"Kak Gilang kenapa ya, Kak? dari semalem aku hubungin sampai pagi ini ko gak ada jawaban?"
Terus Rani menatap jauh ke depan memperhatikan kamar Gilang dari kejauhan.
"Belum bangun kali, Ran," saut Aisyah
"Lampunya udah dimatiin, Kak."
Aisyah diam memperhatikan raut wajah Rani semakin gelisah.
"Biasanya, setiap aku membuka mata, selalu ada pesan dari Kak Gilang." Ujar Rani.
Rani menoleh ke arah Aisyah menggelengkan kepalanya cemberut. "Gak ada."
"Udah biarin. Ayo berangkat! nanti kesiangan lagi."
Aisyah menarik tangan Rani membawanya turun ke bawah segera sarapan, setelah itu pergi berangkat ke sekolah, diantara oleh Pak Broto.
Sedang Gilang, terus tersenyum berdiri di balik gorden pintu balkon setelah memperhatikan wajah Rani yang cemberut karena dirinya.
"Akhirnya lo nyariin gua juga. Gue fikir lo gak perduli sama perhatian yang gue kasih."
Waktu terus berjalan, tepat pukul 14.00 WIB Gilang sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Rani yang baru saja keluar dari kelasnya, melihat Gilang ada halaman sekolah, langsung berlari menghampiri Gilang, lalu memukul dadanya.
"Aduuh..."
"Nyebelin," kata Rani cemberut.
__ADS_1
"Ko nyebelin sih?"
Rani terus mengerucutkan mulutnya membuat Gilang gemas mencubit pipi sang kekasih.
"Kakak kemana aja?"
"Ada," jawabnya singkat.
"Kenapa gak hubungin aku?"
"Sengaja," ucapnya sambil meraih tangan Rani mengayun seperti menggandeng anak kecil.
"Iihh..."
"Emang nungguin gitu?"
"Nggak."
Gilang melajukan mobilnya perlahan meninggalkan sekolah, tidak langsung membawa Rani pulang, Gilang membawa Rani ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu, dan pantailah yang menjadi tempat pilihan Gilang.
"Wow... indah banget, Kak."
Rani merentangkan kedua tangannya berjalan mundur menyusuri bibir pantai.
"Suka?" tanya Gilang dengan senyum.
Rani mengangguk cepat. "Sangat suka."
"Rani. Ada yang mau aku bicarakan."
Kira-kira hal apa yang akan Gilang bicarakan dengan Rani?"
__ADS_1
Jangan lupa selalu meninggalkan jejak LIKE KOMEN 🥰