
"Pokoknya aku gak mau, aku gak setuju," bentak Rani dengan berteriak.
Keributan mereka terdengar sampai ruang kerja Fatih, kebetulan Azky ada di sana sedang menemani suaminya menyelesaikan tugas.
"Suara siapa, Mii?"
"Kayaknya suara Rani deh Bii, Aisyah gak mungkin teriak-teriak kayak gini.
Azky melipat majalah yang sedang ia baca, Fatih pun menutup laptoopnya lalu mengajak Azky menemui putri kembarnya.
"Jangan nangis, Ran. Nanti umi sama abi denger gimana?" ucap Aisyah seraya mengusap air mata sang adik.
"Pokoknya aku mau bilang sama abi, abi gak akan izinin Aa berhenti kerja.
"Kenapa, Ran? ada apa ini?" tanya Fatih tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Melihat Fatih ada di sana, Rani langsung berlari menghampiri Fatih, lalu menangis dalam pelukannya.
"Abi..."
Hiks.
Hiks.
Hiks.
"Kenapa, Nak?" tanya Fatih seraya mengusap puncak rambut Maharani.
"A Panji, Abi. Dia mau pergi ninggalin aku sama Aisyah," Terus ia menangis dalam pelukan Abi nya.
__ADS_1
"Pergi ke mana?" Fatih yang tidak tau duduk permasalahannya kembali bertanya.
"Ini loh, Abi. A Panji kan mau kuliah di surabaya, Rani marah, gak setuju kalau A Panji kuliah di sana."
"Kakak juga gak masalah ko A Panji kuliah di sana," saut Aisyah.
"Ya ampun, Ran. Cuma masalah kuliah?" kata Azky.
Rani masih menangis terisak dalam pelukan Fatih.
"Panji itu mau menuntut ilmu, kamu aja kalau udah lulus SMA emang gak kepengen kuliah?" kata Azky.
"Tau ih. Kasian kan A Panji," saut Aisyah.
"Semangat ya, A. Pokoknya Aa harus jadi orang yang sukses setelah lulus kuliah nanti."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rani pun berlalu pergi meninggalkan mereka. Dia bahkan mengabaikan panggilan dari Umi juga Abi nya.
Karena tidak tega, Azky mengikuti Rani ke kamarnya, sedang Fatih bersama Aisyah ke ruang kerja Abinya untuk menyelesaikan tugas yang ia tidak mengerti.
"Abi. Udah selesai tugas kantornya?" tanya Aisyah mendudukan diri di atas sofa bersama Fatih.
"Udah, Nak. Sini Abi liat tugasnya."
Di dalam kamar Maharani.
Azky masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu. Ia melihat putrinya berbaring di atas ranjang dengan posisi tengkurap memeluk bantal sambil menangis.
"Rani," panggil Azky sangat lembut seraya mengusap puncak rambutnya.
__ADS_1
"Aku gak mau A Panji kuliah jauh-jauh, Umi. Di Jakarta juga kan banyak universitas negeri yang bagus, kenapa mesti ke Surabaya?"
"Di sana lebih mudah, Sayang. Kalau di sini agak ribet buat ngurus-ngurus surat kayak gitu, kamu kan tau sendiri di sini kota bisnis, semua mahal, semua bayar, semua serba dipersulit," kata Azky berusaha memberikan pengertian.
Rani merubah posisinya, bangun duduk di depan Azky.
"Umi bilang, mau bantu biaya kuliah A Panji, kenapa gak jadi?" tanya Rani masih terisak.
"Bukan gak jadi. Pak Broto sama Panji nolak bantuan dari kita, Nak."
"Paksa aja."
"Ya gak bisa gitu dong, Sayang."
"Lagian kamu itu aneh. Panji itu mau menuntut ilmu, dia punya cita-cita, punya harapan, punya potensi untuk sukses, kenapa kamu malah menghalangi langkah dia? betul kata Panji. Katanya teman, teman itu harusnya saling dukung kan?"
"iihh.. Umi mah sama kayak yang lain, Gak ada yang dukung aku."
"Bukan gitu, Sayang."
"Tau ah.."
Tak lama, ponsel milik Rani pun berdering.
"Siapa?" tanya Azky.
"Tetangga kita yang selalu Umi izinin jemput aku sekolah."
"Gilang?"
__ADS_1