Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 60


__ADS_3

"Kak Gilang?" Rani terkejut saat mendengar suara Gilang yang menjawab teleponnya.


"Iya, ini saya. Ada apa?" Gilang menjawab datar.


"Aku mau bicara sama kak Isya."


"Dia sedang di lantai bawah."


"Kalau begitu, nanti aku hubungi lagi."


"Rani ..." panggil Gilang sesaat sebelum wanita di seberang sana mengakhiri panggilan.


Rani bergeming, lalu Gilang kembali bicara. "Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Aku? aku baik. Kenapa?"


"Kamu merasa baik-baik saja?" tanyanya lagi.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Tidak sedikit pun merasa bersalah?"


Pertanyaan itu sontak membuat Rani terkejut, tidak tahu harus menjawab apa, Rani hanya bisa diam.


"Kenapa diam? kamu bahagia sudah menyakiti perasaanku? bahagia melihat aku menderita?"


"Cukup, Kak," sela Rani memotong ucapan Gilang. "Katakan kepada kal Isya kalau aku menghubunginya." Tanpa aba-aba lagi, Rani pun langsung memutus sambungan telepon.


Rasanya ingin sekali ia melempar handphone yang sedang ia genggam. Namun, ia tahan seraya menghela napas dalam demi menetralkan perasaannya. Gilang menyimpan kembali ponsel itu di tempat semula, lalu mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa?" tanya Aisyah setelah membuka pintu kamar, sambil berjalan masuk, membawa nampan berisi dua gelas teh manis panas. Dia mendudukkan diri di samping Gilang, meletakkan kedua gelas itu di atas meja.


"Rani," ucap Gilang.


Kening Aisyah mengerut. "Kenapa Rani?"


"Tadi dia telepon kamu," jawab Gilang seraya meriah satu gelas teh manis yang dibuat Aisyah, lalu menyeruputnya pelan-pelan.


Aisyah meriah benda pipih itu di atas meja, lalu memeriksa panggilan terbaru. "Kakak angkat telepon dari Rani?" tanya Aisyah melihat ke arah Gilang dari samping.


"Iya. Aku yang menjawabnya."


"Rese ih," gerutu Aisyah seraya bangkit dari duduknya, hendak menghubungi kembali sang adik, sambil berdiri di atas balkon. Sementara Gilang masih duduk di atas sofa, menikmati teh hangat buatan sang istri.


Di tempat lain, Shafiah saat ini tengah duduk di atas balkon sambil memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong. Zahfran yang baru saj masuk ke dalam kamar, melihat sang istri di sana, menghampirinya, memeluk dari belakang.

__ADS_1


"Sedang apa, Sayang?"


Shafiah yang terkejut hanya melirik sekilas dari samping, mengacunhkan tangan sang suami yang melingkar pada pinggangnya, menautkan dagunya di atas bahu sang istri.


"Kamu masih marah?"


Shafiah bergeming.


"Katakan sesuatu," pintanya.


"Apa yang harus aku katakan? tidak ada bahan pembicaraan."


"Tentang kita," ucapnya lagi.


"Tentang kita? rasanya tidak penting," jawab Shafiah tersenyum sinis.


Mengetahui kemarahan sang istri, Zahfran memutar tubuhnya, menatap wajah Shafiah dari depan, sedangkan yang ditatap, memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku tau kamu masih marah. Aku minta maaf."


"Marah kenapa?" kini Shafiah memberanikan diri menatap wajah Zahfran.


"Azky," jawab Zahfran.


"Ada apa dengan Azky? apa kamu pikir saat ini aku sedang memikirkan dia?"


"Sudahlah, di dalam pikiranmu hanya ada Azky," ucap Shafiah seraya menurunkan tangan sang suami dari bahunya.


Ia berlalu masuk, Zahfran mengikutinya dari belakang. "Aku pikir kamu masih marah dengan pembahasan kita tempo hari."


"Tidak. Aku sudah tidak perduli." Shafiah membuka hijab, menggantungnya di samping lemari, sedang Zahfran beringsut naik ke atas tempat tidur, seraya merapihkan bantal sisi sebelahnya.


"Kalau begitu, cepatlah berbaring di sampingku! aku merindukan sentuhan tanganmu saat memijat kepalaku."


Shafiah bergeming, menatap Zahfran dengan tatapan berbeda.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zahfran.


Belum sempat menjawab, pintu kamar diketuk oleh seseorang, Shafiah mempersilahkannya untuk masuk.


"Bunda," panggil Audy di depan pintu.


"Kenapa, Nak?"


"Minggu depan sekolah akan mengadakan study tour ke Yogya. Apa aku boleh ikut?"

__ADS_1


"Ada surat persetujuannya?"


"Ada, Bun. Di dalam tasku."


"Kalau begitu, ayo kita ke kamarmu."


"Jangan!' cegah Zahfran saat Shafiah hendak melangkah pergi.


"Kenapa, Ayah?" tanya Audi.


"Besok saja bunda kamu menandatanganinya."


"Kenapa harus besok? sekarang juga bisa," saut Shafiah dengan menautkan kedua alisnya ke atas.


"Sekarang sudah malam, Sayang."


"Mas, cuma tanda tangan aja."


"Besok bunda tangan tangan ya, Nak," ucap Zahfran kepada putrinya.


"Tidak. Sekarang saja."


"Ayo, Audi," ajak Shafiah, lalu mereka pun pergi.


Zahfran menghela napas, merasakan betapa dinginnya sikap Shafiah terhadap dirinya. Setelah sang istri pergi. Ponsel milik Zahfran berdering, tertera jelas dalam layar ponselnya nama Fatih.


"Ada apa dia?" tanyanya seraya menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum," ucap salam Zahfran.


"Waalaikumsalam," saut Fatih di seberang sana.


"Ada apa, Fatih?"


"Besok ada acara?"


"Tidak. Kenapa?"


"Bisa besok menemuiku di kafe?"


"Untuk?"


"Ada sesuatu hal yang harus kita bicarakan?"


"Mengenai?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Kita, dan anak-anak kita."


__ADS_2