
"Micel,adakan metting besok,saya akan menerima proyek surabaya " Kata Zahfran dalam sambungan telfon.
"Benarkan tuan?" Micel membelalakan matanya saat mendengar Zahfran menerima proyek itu,pasalnya dia juga akan mendapatkan bonus besar kalau sampai proyek itu bisa berlangsung.
"Ya,dan beri tahu pak Herlambang kalau kita akan segera mengurus semuanya."
"Baik tua,tapi...kenapa bukan anda sendiri yang bilang,kalian kan..."
"Satu rumah?" saut Zahfran.
"Ya tuan."
"Ikuti perintah saya,jangan banyak bertanya." Tegas Zahfran.
"Baik tuan.maaf."
"Ya sudah." Zahfran memutus sambungan telfon.
Setelah Zahfran menutup telfonnya,Micel menghubungi pak Herlambang guna menyampaikan perintah Zahfran tadi.
Tak butuh waktu lama,sambungan telfon pun terhubung dengan pak Herlambang. "Selamat malam tuan."
"Malam.ada apa Micel?"
"Tuan besar,tuan Zahfran menerima proyek pembangunan pabrik di surabaya." ucap Micel antusias.
Pak Herlambang yang sedang berbaring pun langsung bangkit dari tempat tidurnya. "Benarkah?" Senyum simpul nampak di bibirnya.
Bu Melisa yang berada di sampingnya pun terkejut dengan sikap suaminya yang begitu tiba-tiba "Ada apa sih pah? kagetin mamah aja." Ucap bu Melisa sedikit kesal karna kaget.
"Zahfran menerima proyek di Indonesia mah." Kata pak Herlambang pada bu Melisa.
Lalu kembali ia bicara dengan Micel.
Entah kenapa bu Melisa kurang setuju kalau sampai Zahfran kembali ke indonesia,khwatir akan menyakiti hati putranya lagi,karna banyak kenangan yang ia tinggalkan di sana.
"Papah yakin biarin putra kita kembali ke indonesia?" Tanya bu Melisa setelah pak Herlambang selesai bicara dengan Micel dalam sambungan telfon.
"Yakin mah." Ucapnya tanpa merasa beban samasekali.
"Pah,tolong fikirkan juga perasaan putra mu."
"Apa masalahnya?"
"Pah,bagaimana kalau mereka bertemu lagi?"
"Maksud mu istri ke dua Zahfran?"
"Ya." jawan bu Melisa singkat.
"Ini sudah lebih dari 5 tahun mah,gak mungkin Zahfran masih mencintai wanita itu."
"Itu menurut pandangan mu pah,kamu kan tidak tau bagaimana isi hatinya."
"Mah,kalaupun mereka bertemu,mereka sudah bercerai,tidak perlu ada yang kita khawatirkan lagi."
"Papah betul-betul keras kepala,gak salah kalau dulu Zahfran punya sifat kejam,ya seperti mu ini." Ucap bu Melisa menatap jengah.
"Sudah lah mah,kita doakan saja yang terbaik buat anak-anak kita."
"Terserah papah,kalau sampai ada apa-apa dengan anak-anak kita,mamah tidak akan memafkan kamu pah."
__ADS_1
"Papah jamin,tidak akan ada apa-apa."
Bu Melisa menggeleng-ngelengkan kepala. "Lebih baik aku tidur." Mematikan lampu utama,lalu menyalakan lampu tidur yang berada di atas nakas.
Pak Herlambang beranjak dari tempat tidurnya mengenakan sandal yang berada di bawah tempat tidurnya.
Bu Melisa memutar tubuhnya. "Mau ke mana pah?"
"Aku mau menemui putri ku."
"Shafiah mungkin sudah tidur pah."
"Papah mau lihat dulu."
"Terserah lah,mamah tidur duluan."
Kembali bu Melisa menarik selimut lalu tidur.
Baru menuruni beberapa anak tangga,pak Herlambang melihat Shafiah sedang berada di dapur.
"Nak." Panggil pak Herlambang dari kejauhan.
Shafiah menoleh ke arahnya. "Pah? papah belum tidur?"
"Belum." pak Herlambang melangkah mendekat sambil tersenyum.
"Ada apa?kayaknya papah lagi senang ya?" Tanya Shafiah sambil menuangkan air ke dalam gelas.
"Ya nak,papah lagi seneng. Terimakasi ya nak,berkat kamu,Zahfran menyetujui proyek Surabaya." Ucap pak Herlambang sangat antusias.
"Benarkah?" nampak kebahagiaan di raut wajah Shafiah.
"Benar,tadi sekertaris Micel telfon ayah."
"Ini semua berkat kamu nak,terimaksi banyak,papah banyak berhutang pada mu." Ucap pak Herlambang sambil memeluk Shafiah sebentar.
"Ya pah."
"Katakan,kamu mau hadiah apa dari papah?"
"Hadiah?"
"Ya,hadiah."
Shafiah menggelegkan kepalanya. "Gak ada pah."
"Masa gak ada,ayo katakan lah. Perhiasan? mobil mewah? apartemen? ."
"Untuk sekarang gak ada pah,tapi boleh kan permintaan hadiahnya di tunda untuk nanti?"
"Kenapa nanti?" Pak Herlambang menatap heran.
"Sekarang aku tidak membutuhkan apapun pah,tapi...mungkin suatu hari nanti aku punya permintaan." Kata Shafiah dengan tersenyum.
Pak Herlambang mengangguk. "Baiklah,apapun untuk putri ayah tersayang."
"Ya udah,aku ke kamar lagi ya pah,mas Zahfran menunggu ku bawa minum."
"Ya..ya..silakhan." Pak Herlambang memberikan jalan untuk Shafiah.
"Aku tidak salah memilih kamu menjadi menantu ku nak. Kamu betul-betul membawa keberuntungan,itu lah sebabnya aku sangat melindungi mu." Ucap pak Herlambang sambil menatap punggung Shafiah yang melangkah semakin jauh meniki tangga.
__ADS_1
"Jglek.. Shafiah membuka pintu kamarnya,nampak Zahfran sedang sibuk dengan berkas-berkasnya duduk di atas sofa.
"Ini minumnya mas." Shafiah meletakan nampan yang berisi teko kecil dan gelas di atas meja.
"Terimakasi sayang." Ucap Zahfran tanpa menoleh ke arahnya.
Lama terdiam sambil menatap wajah suami yang sedang serius membaca berkas,sang pemilik pun menoleh ke arahnya. "Kenapa?" Tanya Zahfran sambil meraih gelas di atas meja.
"Gak apa-apa mas." Shafiah menundukan wajahnya sambil tersenyum.
"Iih...Senyum senyum lagi." Sambil tersenyum,Zahfran sedikit menundukan wajahnya menatap wajah Shafiah.
"Tadi papah menemui ku di bawah."
"Mau ngapain?" Setelah habis air minum di dalam gelasnya,Zahfran menyimpan kembali gelas itu di atas meja.
"Papah bilang kamu menerima proyek itu?"
"Oh.." Zahfran kembali fokus lagi memeriksa berkas-berkas.
"Ko Oh sih mas?"
"Lalu mas harus apa?"
"Aku fikir kamu cuma mau antar aku ke rumah kak Rafa,ternyata kamu menerima proyek itu juga."
"Mas Rafa kan tinggal di Surabaya,jadi aku fikir kenapa tidak aku terima saja proyek itu,lokasinya juga kan tidak terlalu jauh dari rumah mas Rafa." Saut Zahfran.
"Ya mas. Mangkannya tadi papah nemuin aku,papah sangat berterimakasi,kamu mau menerima proyek itu."
"Jangan terlalu mendengarkan keinginan papah,kalau semua keinginan dia kita penuhi,kamu yang akan kerepotan sendiri nanti." Ucap Zahfran mencoba memeperingati.
"Ya mas,lagian kan mereka orangtua kita,bagaimana mungkin kita tidak patuh padanya."
"Tapi banyak keinginan papah yang bertentangan dengan keinginan kita." Saut Zahfran melirik sekilas.
Shafiah menunduk. "Ya,kamu benar mas,hanya karna keegoisan papah,membuat kamu harus berbuat kejam terhadap Azky. karna keegoisan papah kalian pun terpisah. Azky,bagaimana keadaan mu saat ini? apa kamu sudah hidup bahagia?" Batin Shafiah bergumam.
"Sayang." Zahfran menyadarkan Shafiah dalam lamunannya.
"Ya mas.."
"Kenapa bengong?" Zahfran meraih dagu Shafiah mendekatkan wajahnya lalu menci*m bibirnya sekilas.
"Gak apa-apa mas." Ucap Shafiah dengan senyum.
Zahfran membawa Shafiah bersandar di bahunya. "Temani mas dulu ya,sebentar lagi selesai ko." Ucapnya sambil mengusap bahu Shafiah sangat lembut,lalu mencium keningnya.
Next Bab.mereka sudah ada di Indonesia.
Siap-siap,siap-siap 🤫
Author sedih..yang like,komen dan Votenya semakin sedikit 😭😭
__ADS_1
Boleh dong Author minta lagi 🤗🙏