
Karna penasaran dengan sosok yang menolong dirinya, Rani membuka topi milik siswa itu, dan langsung terkejut saat melihat sosok yang da di depannya adalah.
"Kak Gilang? Kakak ko?"
Suutt... Gilang menempelkan jarinya di bibir Rani.
"Jangan berisik. Nanti kalau warga tau, habis kita," kata Gilang yang saat ini jongkok di depan Rani. Mereka masih di belakang perkebunan milik warga yang luas perkebunanya cuma 200 meter.
"Lo gak apa-apa kan?" tanya Gilang sedikit khawatir.
"Kaki aku sakit Kak," ucapnya sambil menangis menahan sakit, sekaligus takut pada Gilang, karna dia melihat ada rante motor yang Gilang masukan ke dalam baju seragamnya.
"Masih bisa jalan gak?"
Rani menggelengkan kepalanya dengan tangis terisak. Mau tidak mau, Gilangpun menggendong Rani di belakang punggungnya sampai bisa keluar dari area perkebunan itu.
Gilng tidak bisa lagi berlari, dia berjalan pelan menahan sakit pada lengannya yang terluka dan banyak mengeluarkan darah. Di tambah lagi dia harus menggendong Rani, membuat Gilang semakin sulit berjalan.
Tak lama mereka pun sampai di penghujung jalan. Gilang mendudukan Rani di bangku halte bis, sementara dia mencari taksi.
Ponsel Rani bergetar. Sebetulnya sejak ia tersandung tadi, ponselnya sudah bergetar beberapa kali, karna tadi dia sibuk melarikan diri, Rani sampai tidak tau kalau ada panggilan masuk ke ponselnya dari pak Broto.
"Dari siapa?" tanya Gilang.
"Pak Broto. Supir aku," saut Rani lirih menahan sakit karna terkilir.
"Angkat deh cepetana teleponnya!"
"Kenapa?"
"Ko kenapa? ya minta di jemput lah. Dari pada lo pulang pake taksi."
Rani yang polos itu pun menuruti perintah Gilang. Menggeser icone berwarna hijau pada layar ponselnya, lalu meletalan ponsel itu ke telinga.
"Hallo.."
"Neng. Neng di mana?" tanya pak Broto panik, setelah mendengar kabar dari pak satpam perihal kejadian tauran tadi, yang mana Rani berada di tengah-tengah mereka.
"Aku... Kita di mana kak?" bertanya pada Gilang. Karna Rani tidak tau lokasinya saat ini berada di mana.
"Bilang aja halte 16," saut Gilang sambil melilitkan kain pada lengannya untuk menahan darah supaya tidak mengalir lebih banyak lagi.
"Halte 16?"
"Iya. Kalau nggak sharelok aja. Supir lo pasti ngerti."
"Halte 16 pak," kata Rani bicara pada pak Broto.
__ADS_1
"Bapak tau. Tunggu bapak jemput. Neng jangan kemana-mana ya!"
"Iya pak."
Selesai bicara dengan pak Broto, Rani memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia melihat Gilang sedang kesulitan mengikat tali pada lengannya. Rani berdiri menawarkan diri untuk membantu, tapi Gilang menolak.
"Gak bakal bisa," ujarnya.
"Bisa ko. Sepatu ku aja, aku ikat sendiri. sama aja kan cara ngiketnya?"
Karna usahanya tak kunjung berhasil, mau tidak mau akhirnya Gilang membiarkan Rani membantu mengikat, dan ternyata dia benar-benar bisa. malah terlalu kuat.
"Longgarin dikit," pintanya.
"Iya, Kak," Rani melonggarkan ikatannya, dan selesai.
Tak lama pak Broto pun datang, menepikan mobilnya tepat di depan mereka, lalu keluar menghampiri Rani, dan langsung menanyakan keadaannya.
"Neng baik-baik aja kan?" tanya pak Broto khawatir sambil memegang bahu Rani.
"Aku baik-baik aja pak, cuma kaki aja terkilir. Tapi temen aku terluka."
"Temen?"
Pak Broto melihat Gilang terduduk lemas di atas kursi karna terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Iya pak. Ayo bantu dia berdiri, kita bawa Kak Gilang ke klinik."
Pak Broto pun membantu Gilang untuk berdiri, lalu membawa dia masuk ke dalam mobil, untuk di antar ke klinik terdekat.
"Gue gak apa-apa. Mendingan lo pulang!" kata Gilang setelah duduk di jok penumpang, sedang Rani duduk di depan samping kemudi.
"Udah. Kakak diem aja. Aku bawa Kakak ke klinik," saut Rani yang terus memandangi Gilang dari spion kecil yang menggantung di depan. Rani melihat wajah Gilang semakin pucat, darahnya semakin banyak mengalir membasahi kain yang ia ikatkan tadi.
"Itu gara-gara aku. Kalau tadi dia gak nolongin aku, pasti tangan Kak Gilang gak akan kenapa-napa," ucapnya dalam hati, terus menatap penuh kehawatira.
Tibanya di klinik terdekat, pak Broto menggendong Gilang keluar dari mobil, lalu membawanya masuk ke dalam suatu ruang tindakan.
"Ini ada apa pak?" tanya salah satu dokter yang sedang berjaga di sana.
"Kena sabetan golok Dok. Tolong dia," kata Pak Broto setelah membaringkan Gilang di atas ranjang. Pak Broto dan Rani pun melangkah mundur ke belakang, memberikan ruang untuk Dokter dan Suster menangani luka Gilang.
"Neng tenang aja ya. Temen neng pasti baik-baik aja ko," kata Pak Broto sambil mengusap bahu Rani, seraya menenangkan. Rani pun mengangguk.
"Mudah-mudahan ya pak.'
Luka sepanjang 10cm itu kembali rapat setelah mendapat beberapa jahitan. Dokter membantu Gilang untuk duduk setelah semuanya selesai.
__ADS_1
"Jangan dulu kena air untuk tiga hari kedepan," kata dokter itu sambil menulis resep obat yang harus Gilang tebus.
"Ini," dokter menyerahkan kertas resep pada Gilang. Gilang meraihnya lalu membaca nama obat yang harus ia tebus di apotek.
"Langsung bayar di kasir aja."
Gilangpun turun dari ranjang, lalu keluar dari ruang tindakan berjalan menuju loket kasir. Menyerahkan resep tadi ke penjaga kasir.
Sementara menunggu, Gilang sempat celingak-celinguk mencari keberadaan sosok Rani.
"Di mama dia?" batinya bergumam.
"Tunggu ya," cewek penjaga kasir itu mulai menghitung jumlah uang yang harus di bayar.
"Semuanya 500.000," kata penjaga kasir.
Gilang merogoh sakunya, mengeluarkan kartu ATM untuk pembayaran menggunakan debit. Setelah selesai membayar, lalu menebus obat di apotek. Setelah menerima obat dari apoteker Gilang pun berjalan meninggalkan apotek.
Belum terlalu jauh. Penjaga kasir tadi memanggil namanya.
"Maaf mas. Mas Gilang wira ya?"
Gilang menoleh ke belakang.
"Iya. Ada apa mba?"
"Ini," penjaga kasir menyerahkan selembar kertas pada Gilang.
"Apa ini mba?" tanya Gilang, sambil membolak-balikan surat yang ia terima.
"Surat dari anak kecil. Kalau gak salah namanya Rani."
"Rani?" keningnya mengerut tidak mengerti, "mau ngapain dia ngasih surat segala?" batinnya bergumam, setelah mengucapkan terima kasih pada penjaga kasir, Gilang pun keluar lalu membaca surat dari Rani sambil duduk di kursi depan Klinik.
Untuk Kak Gilang.
Dari Asiyah Maharani.
Maaf aku pulang duluan kak. Umi sama Abi tau kejadian tauran tadi. Mereka panik, minta aku untuk segera pulang.
Aku cuma bisa bawa kakak ke klinik, maaf ya kakak bayar sendiri biayanya, aku gak punya uang buat bayarnya kak, pak Broto juga sama. Kakak jangan marah ya? kalau Kakak mau uangnya aku ganti, nanti aku ganti. Tapi di cicil ya kak. Kasih Rani keringanan.
Oh iya. Terima kasih juga atas bantuan kakak. Nanti kapan-kapan Rani traktir kakak makan bakso yang lewat depan rumah deh.
Bay kak Gilang. semoga lekas sembuh.
Gilang tertawa setelah membaca surat dari Rani. Anak SD kelas 5 itu membuat Gilang terkagum. Ko bisa kepikiran buat surat? Gilang menggelengkan kepalanya. Menyimpan surat itu ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Ok. Gua pasti nagih janji dari Lo, Asiyah Maharani."