Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 4


__ADS_3

Setelah acara selesai, semua keluarga pulang ke rumahnya masing-masing. Azky yang sekarang tidak tinggal lagi di apartemen, juga memilih pulang ke rumahnya.


Karna kelelahan, Isya dan Rani langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan sandalnya di sembarang tempat. Panji yang cekatan, dan tau harus berbuat apa, langsung mengambil sandal milik Rani, lalu menyimpan sandalnya di rak sepatu yang sudah tersedia di dekat pintu masuk.


"Selamat malam anak-anak," kata Azky dari lantai bawah, sambil berjalan menuju kamarnya juga, karna Daffa sudah tidur di atas gendongan Fatih.


"Malam juga Umi," saut mereka bersamaan. Dengan langkah gontainya, mereka menaiki anak tangga menuju kamar.


"Aku gak mau mandi kak, mau langsung tidur aja," kata Rani setelah membuka pintu dan dia langsung berbaring di atas tempat tidur, sedang Isya mengambil handuk hendak mandi.


"Jorok kamu dek iih.." ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Bodo ah.. Aku cape banget."


Bahkan tanpa berganti baju lebih dulu, Rani langsung berbaring di atas tempat tidur tertidur pulas, "Gerrrrr......


Bagaimana dengan malam pertama Adlan? Kiran masih malu sekaligus gugup kalau berhadapan langsung dengan Adlan. bahkan saat mandi saja, Kiran sengaja lama-lama di dalam kamar mandi, berharap Adlan tidur duluan sebelum dia selesai mandi.


"Maaf mas, gak tau kenapa aku tiba-tiba gemeteran terus. Aku malu sebenernya."


Di depan cermin ia memutar tubuhnya, melihat bentuk dadanya dari samping, juga lekuk tubuhnya dari pantulan cermin.


"Aku kurang menarik, aku takut tidak bisa memuaskan mas Adlan."


Meletakan telapak tangannya di atas gunung kembar miliknya, "apa mas Adlan akan puas dengan ukuran segini?"


Terus ia menatap bentuk tubuhnya di depan cermin, sampai tidak terasa kalau sudah lebih dari 30 menit dia berada di dalam kamar mandi. Adlan yang masih menunggu akhirnya mengetuk pintu kamar mandi, khawatir terjadi sesuatu pada istri kecilnya.


"Kiran. Kamu lagi ngapain?"


Kiran terkejut, degupan jantungnya semakin berdetak sangat cepat. ia bahkan sampai memegangi dadanya demi menetralkan kegugupannya.


"M-mas. Aku..."


"Kenapa Kiran? aku buka pintunya ya?" tangan Adlan sudah siap memegangi hendel pintu.


"Jangan!" sangat cepat Kiran menolak.


"Kenapa?"


"Aku malu mas," Kiran menunduk menghadap pintu sudah mengenakan handuk menutupi sebagian tubuh bagian atas.


"Malu kenapa Ran?"


"Tubuh ku kecil, pendek, dada ku rata," bergumam sangat pelan. Adlan tidak mendengar dengan jelas apa yang Kiran katakan.


"Kamu takut sama aku?"


"Nggak ko Mas."


"Kiran sayang. Aku gak akan minta malam ini ko kalau kamu takut, masih banyak hari-hari esok sampai kamu siap," kata Adlan berusaha meyakinkan sang istri.

__ADS_1


Kalau terus mengumpat adalah jalan keluar, mungkin akan sampai pagi dia terus berada di dalam sana. Tapi ia tau kalau itu bukan solusi, sampai akhirnya Kiran keluar dari kamar mandi sambil menunduk malu.


"Mas.." ucapnya di depan pintu.


"Sayang. Kamu pasti kedinginan. Aku ambilin baju tidur ya?"


Adlan menarik tangan Kiran, lalu mendudukan dirinya di depan meja rias.


"Mas.."


"Kenapa?"


"Aku udah bawa baju tadi ke dalam kamar mandi, tapi belum sempet aku pake."


"Oh ya? sekarang mana bajunya?" tanya Adlan setenang mungkin, karna saat ini dia sedang berusaha menahan hasrat untuk tidak menggauli istrinya malam ini.


"Di gantung di dalam."


"Tunggu di sini ya, Mas ambilin bajunya."


Kiran menunggu, sementara Adlan mengambil baju di dalam kamar mandi.


"Ini?" baju berwarna merah yang kekurangan bahan itu terpaksa harus Kiran pakai, karna tidak ada lagi yang lebih tertutup dari itu.


"Aku pake baju dulu, mas Adlan menghadap jendela ya!" pintanya.


"Ok Kiran."


Adlan berdiri menghadap jendela, sementara Kiran memakai baju. Setelah selesai, Kiran duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya memakai hair dryer.


"Udah enakan?"


Kiran mengangguk sambil tersenyum.


"Mau Mas bantu?"


"Gak usah mas. Aku bisa sendiri. Mas kalau udah ngantuk, duluan aja."


Kiran tidak tau kalau saat ini suaminya sedang menaham sesuatu yang sesak di dalam sana, Adlan menelan ludahnya kasar saat melihat tubuh Kiran terbungkus kain tipis, juga sesuatu yang menonjol seolah sedang melambai ke arahnya, meminta segera di sentuh.


"Mas ko bengong?"


Adlan meresponnya dengan senyum. Melihat Kiran sudah selesai mengeringkan rambutnya, ia membawa Kiran berdiri lalu tangannya ia letakan di atas bahu Kiran.


"Sayang."


"Kenapa mas?" Kiran menatap lekat-lekat wajah suaminya.


"Udah lega sekarang?" tanya Adlan sambil menautkan rambut panjang Kiran ke belakang telinganya. Kiran pun mengangguk pelan.


"Kalau cuma tidur seranjang gak apa-apa kan?"

__ADS_1


Kiran mengangguk.


"Tenang. Mas gak akan macem-macem sampa kumu benar-bemar sudah siap."


Kali ini bukan perasaan gugup lagi, tapi rasa iba, kasihan, sudah membiarkan Adlan tersiksa sendiri melawan hasratnya. Mereka naik ke atas ranjang, Kiran membelakangi Adlan, sedang Adlan berbaring terlentang di sebelahnya.


"Mas."


"Iya sayang?"


"Sebetulnya aku mau melayani kamu. Tapi..." ucapannya mengambang saat teringat betapa kecilnya bentuk tubuhnya juga gunung kembar miliknya.


"Tapi kenapa?" Adlan memutar tubuhnya menghadap Kiran, yang masih membelakanginya.


"Badan aku kecil, dada ku juga rata," dengan susah payah Kiran mengatakan itu kepada Adlan. Adlan terkejut, lalu ia memutar tubuh Kiran menghadap ke arahnya.


"Hei... sejak kapan kamu berfikir kayak gitu?" dia benar-benar terkejut dengan pengakuan Kiran.


"Sejak tadi aku melihat tubuh ku di cermin."


"Jadi. Kamu gak PD sama diri kamu sendiri?"


Kiran mengangguk.


"Sayang. bagaimanapun bentuk tubuh kamu, kamu tetap istri aku. Aku siap menerima semuanya," Adlan mengusap pipi Kiran dengan punggung tangannya, lalu menyusup masuk memegang tengkuk lehernya yang jenjang, lalu tertawa.


"Ko ketawa sih?" tanya Kiran mengerutkan keningnya.


"Habis kamu lucu. Ko bisa kepikiran sampai ke situ. Aku jadi penasaran sama bentuk dada kamu. Sebesar ini?" Adlan mengepalkan tangannya di depan Kiran.


"Iih...mas."


"Coba mas liat."


"Jangan!" Kiran menahan selimutnya kuat-kuat, tapi karna tangan Adlan sudah ada di dalam selimut, juga baju tidur yang kekurangan bahan, sangat memudahkan Adlan mengepal milik Kiran dengan tangannya.


"Mas Adlan," tangannya semakin kencang meremas selimutnya menahan getaran hebat di tubuhnya.


"Wow.. dengan ukuran sebesar ini kamu masih gak PD? tangan aku gak cukup loh Ran, besar banget. Boleh nyicip gak?"


"Mas Adlaaaan...."


Kiran berteriak, lama kelamaan teriakannya berubah menjadi desahan hebat saat mengetahui kenikmatan dalam bercinta bersama pasangan halal.


"Mau lagi?"


Jejaknya dulu 🤭.


LIKE


KOMEN

__ADS_1


VOTE


BUNGA 🙏🙏


__ADS_2