
"Apa benar itu, Maharani?" tanya Zahfran.
Rani yang saat itu memang menerima ajakan Gilang untuk menikah, menganggukan kepalanya. "Iya."
Gilang tersenyum bahagia mendengar pengakuan sang kekasih.
"Bagaimana, Om? Om setuju?" tanya Gilang penuh harapan mendapat restu dari ayah kandung Maharani.
"Sebenarnya Om kurang setuju, karna Rani masih kuliah. Apa nggak bisa nunggu sampai Rani lulus, baru kita bahas ini lagi?" saut Zahfran.
"Itu kelamaan, Mas. Putri kita perempuan, lebih baik nikah muda, dari pada pacaran lama," sambar Shafiah yang saat ini duduk di sebelah sang suami, menatap intens wajah Gilang juga maharani secara bergantian.
"Aku setuju sama Mbak Shafiah," tutur Azky sebagai ibu kandungnya.
Bukan hanya Azky, Shafiah, Fatih, juga anggota keluarga lainnya menyetujui niat baik Gilang yang ingin menikahi Maharani.
Pernikahan merupakan bentuk suatu ibadah, yang menjadikan pasangan halal, mencegah terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan, sehingga pernikahan hukumnya menjadi wajib bagi yang mampu menjalaninya, menghindari fitnah yang kapan saja bisa menerpa mereka.
__ADS_1
Westin Jakarta.
Gilang mempersiapkan sedemikian rupa untuk menggelar pesta pernikahannya dengan Maharani yang akan di gelar esok hari tepat pukul sembilan mereka akan melaksanakan ijab kabul.
Semua persiapan sudah seratus persen rampung, sehingga hari yang dinanti-nanti pun tiba, di mana Gilang yang saat ini sudah duduk di depan penghulu dengan penuh kesiapan, masih menunggu mempelai wanita yang saat ini berada di kamar hotel, menatap dirinya di depan cermin, dengan berurai air mata.
"Maaf."
Hanya satu kalimat yang terucap, ia pun bangkit dari duduknya, membuka pintu kamar hotel.
Sudah lebih dari satu jam Gilang menunggu dengan penuh kesabaran, tiba-tiba terkejut saat mendapat kabar kalau Maharani tidak ada di kamarnya.
"Rani."
Semua pintu ruangan ia buka satu persatu, ia bahkan sampai masuk ke semua kamar yang mereka sewa untuk bermalam keluarga. Bukan hanya Gilang, semua orang mencari keberadaan Maharani dan hasilnya tetap tidak ada.
"Tega kamu, Ran," batin Aisyah menggeruti seraya menghubungi sang adik melalui sambungan telepon, bahkan nomer ponselnya pun ia matikan.
__ADS_1
Aisyah menggelengkan kepalanya, kalau Rani tidak bisa dihubungi, lalu Bu Anna yang tidak terima sudah diperlakukan seperti ini, meminta pertanggungjawaban dari keluarga Fatih.
"Saya tidak mau tau, saya tidak terima putra saya diperlakukan seperti ini, mana tanggung jawab kalian?" hardik Bu Anna yang emosinya benar-benar sudah berada di luar batas kendali.
"Kami tidak tau kalau ini akan terjadi, Bu. Kalau kami tau, kami pasti akan mencegahnya." ungkap Azky penuh penyesalan atas perbuatan yang putrinya lakukan. Semua bergeming kebingungan, membuat Anna semakin marah.
"Tapi kalian keluarganya, dan saya meminta pertanggungjawaban kalian, saya tidak terima putra saya diperlakukan seperti ini."
"Kami akan bertanggung jawab, kami akan menghadapi para tamu undangan, mengatakan kepada mereka kalau pernikahan akan di undur sampai Maharani ditemukan," ujar Zahfran coba memberi solusi.
"Cih..." Bu Anna mendesis, senyumnya menyeringai.
"Setelah kejadian ini, kalian fikir saya masih bersedia menikahkan putra saya dengan Rani?"
Semua kembali terdiam, termasuk Azky dengan Zahfran yang saat ini berdiri di depan Bu Anna coba membela sang putri, mencari jalan keluar terbaik, yang jelas ditolak olehnya.
"Saya tidak mau menunggu Maharani, saya mau pesta pernikahan ini harus tetap berlangsung malam ini juga," geram Bu Anna memaksa.
__ADS_1
"Bu Anna, Rani tidak ada, kita akan menikahkan siapa?" saut Azky.
"Aisyah. Saya mau Aisyah yang menggantikan Rani."