
"Aa jangan pergi!"
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Rani terus menangis terisak dalam pelukan cowok yang tidak pernah ia anggap keberadaannya, namun seketika ia merasa sangat kehilangan saat cowok itu akan pergi.
"Terima kasih ya, Ran. kamu mau nemuin Aa," ucap Panji seraya membalas pelukan anak dari majikannya itu.
Fatih, Azky, juga Aisyah berjalan menghampiri Rani, begitupun dengan Pak Broto keluar dari mobil menghampiri putranya.
"Ayo, Ji. Nanti terlambat!" ajak Pak Broto sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan satu jam lagi kereta akan berangkat.
Bukan Panji yang tidak mu melepaskan pelukan, tapi Rani lah yang menahannya, karena kalau sudah ia lepaskan, Panji pasti akan pergi.
Terpaksa Fatih harus turun tangan, rasanya sudah cukup untuk mereka berpamitan. Fatih menghampiri Rani membujuk ia agar mau melepaskan pelukannya.
"Ayo, Nak. Panji harus pergi, nanti dia ketinggalan kereta.
"Nggak mau, Abi. Aa gak boleh pergi."
Rani menggelengkan kepalanya tanpa melepaskan pelukannya.
"Ran. Aku harus pergi sekarang," kata Panji coba melepaskan diri dari pelukan Maharani.
Akan tetap ia tidak mau melepaskannya.
"Rani, Sayang. Ayo lepasin, Nak!" kali ini Azky yang meminta.
"Nggak, Umi."
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Pak Broto, Fatih, Azky, bahkan Panji sendiri sudah berusaha melepaskan diri dari pelukan Rani. Namun, ia tetap tidak mau, dan malah mengeratkan pelukannya. Tidak ada pilihan lain selain memaksa dengan menariknya.
"Nggak Abi," Rani berteriak saat Fatih berhasil menariknya, tanpa berfikir panjang lagi Panji pun masuk ke dalam mobil.
"Aa... Jangan pergi!"
Bukan lagi memegang bahunya, kali ini Fatih memeluk Rani yang semakin berontak ingin menghampiri Panji.
"Tuan. Bagaimana ini?" tanya Pak Broto kebingungan.
"Gak apa-apa, Pak. Rani biar saya yang urus."
"Nggak. Lepasin aku, Abi!" Rani terus berteriak berusaha melepaskan diri.
"Rani, cukup."
Pak Broto sudah menyalakan mesin mobil membuat tangis Rani semakin menjadi.
"Aa..."
"Jangan pergi...!"
Setelah mobil yang ditumpangi oleh Panji keluar, Fatih meminta satpam menutup pintu gerbang dan menguncinya dari dalam. Sedang Rani terus meronta dalam pelukan Fatih, sampai ia merasa lelah, tubuhnya merosot ke lantai.
"Aa..."
__ADS_1
Hiks.
Hiks.
Hiks.
"Panji bukan mau pergi selamanya, Nak. Dia pasti kembali, dan saat dia kembali, kamu akan melihat dia sukses. Apa kamu gak senang?" tutur Fatih seraya memberi pengertian.
Dia tidak bisa berkata-kata lagi selain menangis menahan kesedihan. Setelah puas menangis, Azky membawa Rani masuk ke dalam rumah untuk lebih menenangkan.
Satu minggu setelah kepergian Panji, Rani sempat mogok makan, bahkan mogok sekolah selama beberapa hari karena terus teringat Panji dengan segala kegiatannya di rumah.
Rasanya belum cukup waktu satu minggu ia menginap di rumah sang Ayah, sampai tidak terasa lebih dari satu bulan ia berada di sana, membuat Azky harus memaksa Rani untuk pulang karena Aisyah mulai bosan sendiri di rumah.
"Lagian. Habisnya kakak gak mau ikut aku tinggal sama Ayah," ucap Rani duduk manis di jok penumpang bersama sang kakak
"Bukan gak mau. Kalau aku ikut nginep di rumah ayah, siapa yang bantuin Umi di rumah," saut Aisyah.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian kota menuju kediamam mereka.
Sesampainya di rumah, belum sempat pak satpam menutup kembali pintu gerbang, terdengar teriakan dari luar memanggil nama Rani, dan Rani pun menoleh.
"Kak Gilang?"
Gilang berlari menghampiri Rani yang baru saja turun dari mobil bersama Azky juga Aisyah.
"Ada apa, Kak?" tanya Rani.
Gilang tersenyum. Melihat Azky juga ad si sana, Gulang pun menyapa.
"Tante."
Azky merespon sapaan Gilang dengan senyum.
"Boleh. Tapi jangan lama-lama ya!" setelahnya Azky pun masuk ke dalam, sedangkan Aisyah menemani sang adik bicara dengan Gilang.
"Ada apa?" Rani mengulang lagi pertanyaan.
"Lo kemana aja sih, Ran? Gue telepon gak pernah diangkat, WA juga gak pernah dibales."
"Iya. Sampe aku yang jadi perantara kalian," protes Aisyah karena selama Rani tinggal bersama Zahfran, Gilang selalu menanyakan kabar Rani kepada Aisyah.
"Maaf ya, Kak," kata Rani.
"Kamu sih gak apa-apa, Ran. Cuma yang ngeselin itu, Kak Gilang. Udah ku bilang kalau kamu itu baik-baik aja, tapi tetep aja nanyain kabar kamu setiap hari, bahkan sampai sehari tiga kali. Kayak pola makan?" gerutu Aisyah membuat Rani juga Gilang tersenyum. Gilang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal karena malu.
"Maaf ya!"
"Ya udah, sekarang kita udah ketemu. Mau ngapain lagi?" kata Rani.
"Pengennya sih ngajak lo jalan. Tapi, gak ada Panji susah, umi lo gak akan Kasih izin ya?" tanya Gilang.
"Gak tau, biasanya Kakak suka banyak ide biar kita bisa jalan, sekarang kemana idenya?"
"Sekarang gak punya ide, lagi buntu," saut Gilang.
"Tumben?" sela Aisyah.
"Habis, gak ketemu adek lo itu, buat gue gak tenang, dan gak bisa mikir," ucap Gilang.
"Gombal banget," kata Aisyah.
Gilang tersenyum.
"Ya udah deh lo istirahat aja. Gue cuma mau liat wajah lo doang ko."
__ADS_1
Rani tersipu malu mendengarnya, setelah itu Gilang pun pergi, Rani dan Aisyah masuk ke dalam rumah.
Malam pun tiba.
Saat Rani dengan Aisyah sedang bermain dengan Daffa, Azky mengajak mereka ke rumah Gilang. Rani dan Aisyah pun terkejut.
"Mau ngapain, Umi?" tanya Rani.
"Mamihnya Gilang ngundang Umi kumpul sama ibu-ibu arisan, padahal arisannya besok," saut Azky sambil mengulurkan tangan pada Daffa.
"Ayo!"
Daffa berdiri meraih tangan Azky. "Mau kemana mommy?" tanya Dafaa sambil mendongakan kepalanya.
"Umi, Sayang."
"No. Mommy," protes Daffa.
"Ok. Terserah kamu aja." Mencubit gemas pipi putranya.
Rani dengan Aisyah masih duduk menyaksikan acara televisi.
"Ayo, Nak," ajak Azky pada kedua putri kembarnya.
"Kita juga ikut?" tanya Aisyah.
"Mamihnya Gilang suruh ajak kalian," saut Azky.
"Mau ngapain?"
"Umi gak tau , Sayang. Kita dateng dulu aja. Ayo!"
Aisyah dengan Rani saling berpandangan, memberikan isyarat dengan tatapan matanya.
"Ngerti kan kakak?" kata Rani.
Aisyah mengangguk. "Ngerti banget."
"Gila ya, Kak. Akalnya banyak banget."
"Anak-anak, ayo!"
"Iya, umi."
Rani dan Aisyah pun pergi mengikuti langkah Azky dari belakang menuju kediaman Gilang.
Belum sempat masuk ke dalam, baju Rani terkena cipratan air dari mobil yang melintas dan ia harus kembali ke rumah untuk berganti pakaian diantar oleh Azky, sedang Aisyah masuk duluan ke dalam bersama Gilang yang kebetulan sudah ada di depan pintu gerbang sedang menunggu.
"Nanti di depan pintu gerbang itu, aku bakalan jalan berdua sama seorang cewek, dan Mamih gak perlu nanya lagi cewek mana yang aku sukain. Ok."
Mamih Gilang sangat mengingat perkataan putranya tadi siang, dan benar Gilang masuk ke dalam berdua dengan seorang cewek, dan itu Aisyah, bukan Rani.
"Calon menantu ku."
Ayo dong.. jejaknya.
LIKE
KOMEN
Selalu 🥰
__ADS_1