Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 63


__ADS_3

"Gak usah aneh-aneh deh. Ya gak lah. Gimana ceritanya aku suka sama Kiran."


Kisya tersenyum lega mendengarnya. dan Abiyu mulai menggosok punggung Kisya sampai bersih menggunakan washlap, ritual mandi bersama bisa mereka lalui tanpa gontok-gontokan, apa lagi berdebat. Mandi bersama pagi ini sangat romantis, di selingi candan Abiyu yang berhasil membuat hati Kisya kembali berbunga dan senang.


Keesokan harinya. Tepat pukul 07.00, Adlan yang sudah lebih dari setengah jam berdiri di depan kontrakan, akhirnya mengetuk pintu saat tau kalau Kiran sudah bangun.


"Assalamualikum," saut Adlan di depan pintu.


"Waalaikumsalam," Kiran yang tau kalau itu suara Adlan, buru-buru memakai baju, lalu membuka pintu dengan senyum semeringah.


"Pagi tuan putri!" kata Adlan sangat manis, membuat senyum Kiran semakin merekah.


"Pagi juga Om."


Adlan mengerutkan keningnya, "Ko manggilnya masih Om sih? semalem kan udah sepakat manggil apa coba?"


Hi.. hi.. hi.. "Maaf lupa Om."


"Tuh. Tuh kan, Om lagi?"


Kiran langsung menutup mulutnya rapat-rapat, "Maaf lupa. Mas Adlan."


Sangat indah di dengar, Adlan mengusap puncak rambut Kiran.


"Udah sarapan?"


Kiran menggelengkan kepalanya, "belum."


"Nyari sarapan yuk?"


"Aku ganti baju dulu ya?"


"Gak usah. Cuma nyari sarapan aja ko. Yang penting kamu udah mandi kan?"


"Udah lah, udah siang juga."


"Ya udah. Ayo!" Adlan mengulurkan tangannya, Kiran meraih tangan itu, berjalan sambil bergandengan menuju mobil yang terparkir di halaman.


Nasi uduk Ibu Tati yang terkenal dengan rasanya yang sangat enak. Mereka sarapan di sana, setelah berjuang antri belasan orang ke belakang.


"Wow.. demi sarapan di sini, rela antri sepanjang itu?" cek.. cek.. cek.. Kiran menggelengkan kepalanya menatap tak percaya. Sedang Adlan terus menyantap nasi uduk sangat lahap.


"Kalau orang udah kelaparan, bisa keburu mati Mas," kata Kiran sambil menyendokan nasi ke dalam mulutnya.


"Ya, kalau kelaparan jangan makan di sini lah," saut Adlan.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kata kamu takut mati."


"Iisshh... mas Adlan," selorohnya, membuat Adlan tertawa sambil meraih tangan Kiran yang sudah siap memukulnya.


"Iya maaf. Udah cepet habisin sarapannya, nanti siang kita fiting baju pengantin."


"Berdua?"


"hhmm.." mengangguk tanpa berkata, karna mulutnya yang penuh dengan nasi.


Waktu terus berjalan. Persiapan pernikahan sudah siap 99% dan akad akan dilaksanakan besok pagi di salah satu hotel ternama kota Jakarta.


Masih berias. Kiran masih berada di kamar hotel untuk berias. Dia sendiri yang meminta pada tukang rias, untuk tidak terlalu tebal, khawatir makeup nya jadi kayak topeng kebanyakan pengantin di kampungnya.


"Tenang. Kita gak bakal buat wajah nona kayak topeng. Lagian non udah cantik ko, tinggal poles dikit biar gak pucet," kata tukang rias itu sangat pandai mengaplikasikan makeupnya.


Kiran memberikan kepercayaan penuh. Dia terus pasrah mau di apakan saja, yang penting hasilnya memuaskan. Dan wow... dia benar-benar puas. Saat ia di minta berputar di depan cermin, Shafiah masuk ke dalam kamar, untuk menjemput Kiran, karna acara ijab kabul akan segera di laksanakan.


"Sudah Ran?"


"Sudah bun."


"Ayo.. Adlan udah nunggu, udah gak sabar katanya pengen buru-buru ijab kabul," kata Shafiah, membuat Kiran tersenyum tersipu.


Adlan saat ini sudah siap di depan penghulu penuh kesiapan. Sedang Kiran duduk di atas pelaminan di dampingi ibunya, juga bu Melisa di samping kirinya sambil memegang lengan Kiran.


"Siap nak Adlan?" tanya pak penghulu sambil mengulurkan tangan. Adlan meraih tangan pak penghulu.


"Siap. saya sudah siap."


Penghulu : Saya nikahkan saudara Adlan Malique bin Herlambang Malique, dengan Kirania Rossalie binti Asep Hasan (alm) dengan mas kawin cicin berlian seberat tiga gram, dan seperangkat alat solat di bayar tunai.


Adlan : Saya terima nikahnya Kirania Rosslie binti Asep Hasan, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.


Penghulu : Bagaimana saksi. Sah?


Sah.


Sah.


Sah.


Ucap semua saksi secara bersamaan.

__ADS_1


Penghulu : Alhamdulillah.


Setelah mengucap ijab kabul, semua orang yang hadir di sana mengangkat kedua tangan untuk memanjatkan doa yang di pimpin bapak penghulu, dan di aminkan oleh semua orang, terutama pengantin baru.


Setelah selesai dengan ijab kabul, Adlan berjalan menghampiri Kiran di atas pelaminan dengan di temani pak Herlambang, juga Zahfran di sebelahnya.


"Istri mu itu sekarang," kata pak Herlambang pada putranya yang terus tersenyum memandangi wajah cantik Kiran yang terus menunduk tersenyum tersipu malu.


Adlan mengulurkan tangannya, Kiran meraih tangan itu lalu mencium punggung tangan Adlan yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. Sah di mata agama, juga di mata hukum.


Setelah mencium punggung tangan Adlan, Adlan membalas dengan mencium kening Kiran cukup lama karna ada sesi pemotretan juga untuk mendapat hasil yang maksimal.


Setelah beberapa rangkaian selesai di laksanakan, termasuk sungkeman, Kiran dan Adlan duduk di atas pelaminan untuk bersalaman dengan tamu undangan, sedangkan suasana jauh di sana, terlihat sedikit terjadi kepanikan.


"Kemana Rani ( Asiyah maharani. Meminta pada semua orang untuk memanggilnya dengan panggilan Rani )," tanya Fatih pada Azky yang saat ini sedang menggendong putranya yang paling kecil bernama Muhammad Daffa.


"Tuh kan. Kita kecolongan lagi mas. Dia pasti kabur lagi," Asiyah tak pernah betah lama-lama berada di sebuah pesta, terlebih di sana kebanyakan orangtua membuat Asiyah sedikit bosan berada di sana.


Fatih berdiri, mencari keberadaan putrinya yang ntah di mana. Dia kembali menghampiri Azky setelah berkeliling mencari, namun hasilnya nihil.


Zahfran yang melihat kepanikan Fatih, meminta Izin Shafiah untuk menghampiri Fatih dan bertanya, "Kenapa?" tanya Zahfran berdiri di samping Fatih.


"Biasa. Asiyah kabur lagi dari pesta," saut Fatih pada Zahfran.


"Isya gak liat adeknya ke mana?" Zahfran bertanya pada Aisyah yang sedang menikmati camilan di tangannya. Aisyah pun menggelengkan kepalanya.


"Nggak, aku sama umi dari tadi, kan mii?"


Azky mengangguk, "Iya mas. Dari tadi Isya sama aku, padahal tadi Rani di samping kamu loh mas," bicara pada Fatih.


"Iya, aku tadi sibuk nyapa temen-temen, sampe gak ngeh Rani gak ada."


Zahfran menepuk bahu Fatih, "gak apa-apa, nanti aku cari keluar."


"Saya tau Rani ada di mana tuan," kata anak kecil itu pada majikannya Fatih.


"Panji?" ( Panji Argani adalah anak dari supir pribadi Fatih, yang masih sekolah SMP tinggal bersama mereka dan bekerja sebagai tukang kebun, juga sering menemani Rani pergi, dan sering menemukan keberadan Rani kalau sedang kabur, seperti sekarang ini.


"Om minta tolong ya Ji, temuin Rani."


"Siap Om, Panji pasti bawa Rani pulang."



__ADS_1


Jangan lupa selalu tinggalakan jejak.


janji akan UP sehari dua kali dengan lebih dari 1000 kata.


__ADS_2