
"Aa nggak punya hak untuk bertanya mengenai cincin itu. Itu hak kamu."
"Tapi, emangnya Aa nggak penasaran kenapa Kak Gilang kasih aku cincin?" tanya Rani.
"Nggak. Lagian kan tadi Gilang udah bilang, dia ngelamar kamu, dan kamu menerima lamaran dia kan?" ujar Panji.
"Terus Aa diem aja?"
Keningnya mengerut tidak mengerti. "Terus Aa harus gimana?"
"Aa nggak akan ngelakuin apa gitu?"
"Emangnya kamu mau Aa ngelakuin apa?" tanya Panji seolah tidak mengerti maksud dan arah tujuan pembicaraan Maharani, sehingga Rani pun kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan Panji di halaman belakang, dengan perasaan marah.
Malam hari. Rani yang sedang mengerjakan tugas, menolak perintah Azky saat ia meminta putrinya Maharani untuk mengantarkan kue kering pesanan bu Anna selaku ibu dari Gilang.
Beruntung di sana ada Aisyah yang sedang membaca sebuah buku, sehingga Azky pun meminta bantuan Aisyah yang mengantarkan kue ke rumah bu Anna.
Belum sempat menekan bel, terdengar seseorang memanggil namanya dari belakang. "Isya..?" Aisyah pun menoleh.
"Kak..!"
Gilang yang baru saja turun dari mobilnya, langsung menyapa Aisyah, lalu menghampirinya.
"Ada apa, Isya?" tanya Gilang berdiri di depannya.
"Ini, Kak. Kue pesanan Mommy, Kakak," saut Aisyah menunjukan kantung berisi beberapa toples kue kering di dalamnya.
"Oh. Udah dipanggil belum?"
__ADS_1
Aisyah menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Ya udah, ayo masuk!"
Gilang membuka pintu, ia melepaskan sepatu, lalu masuk ke dalam bersama Aisyah mencari keberadaan sang ibu.
"Mom."
Sementara Gilang mencari keberadaan mommynya, Aisyah memilih duduk di sofa untuk menunggu, tidak lama Gilang pun kembali bersama sang ibu.
"Eeh... calon mantu." sapa Bu Anna kepada Aisyah, membuat Aisyah sedikit tidak nyaman mendengarnya.
"Buka, Bu. Saya Aisyah, bukan Rani," ujar Aisyah membetulkan, ia pun berdiri sambil menenteng kantung berisi kue.
"Tau, Mommy. Salah terus, udah tau Rani nggak pake kerudung," sela Gilang.
"Ini pesanan, Tante." Aisyah menyerahkan langsung kantung itu kepada Bu Anna.
"Berapa semuanya?" tanya Bu Anna.
"Isya nggak tau, Tante."
"Hhmm.. kebiasaan umi kamu itu suka nggak mau dibayar."
Aisyah tersenyum.
Bu Anna mengeluarkan uang sebanyak lima lembar pecahan seratus ribu kepada Aisyah. "Bilang umi kamu, terima kasih ya!" ucapnya sambil mengusap bahu Aisyah.
"Ini, Apa nggak kebanyakan, Tante?"
__ADS_1
"Nggak. Kalau kurang nanati kasih tau Gilang ya."
"Loh, ko Gilang? kan bisa langsung kasih tau Mommy."
"Maksudnya, kasih tau Mommy melalui Gilang," ujarnya terus tersenyum senang melihat wajah cantik Aisyah yang begitu teduh.
"Iya, Tante. Nanti Isya tanya lagi sama umi."
Setelah menyerahkan apa yang diperintahkan oleh sang ibu, Aisyah pun berpamitan pulang, lalu Gilang mengantar Aisyah sampai ke depan gerbang pintu.
"Isya..." panggil Gilang sambil berjalan perlahan menuju gerbang utama.
"Iya, Kak?" saut Aisyah.
"Gue habis ngelamar adek, Lo."
"Ngelamar?" tanya Aisyah terkejut, dia bahkan sampai menghentikan langkahnya.
"Iya."
"Rani nerima lamaran, Kakak?"
"Gue kasih dia cincin, itu artinya dia nerima gue dong, iya nggak sih?" ucapnya sangat bahagia.
Rani bergeming. "Apa Rani benar-benar menerima lamaran Kak Gilang?" batin Aisyah bergumam.
"Gue bahagia banget, Isya. Gue nggak sabar ngajak orang tua gue dateng ke rumah lo buat ngelamar Rani secara resmi."
Aisyah tersenyum, tetapi hatinya merasa was-was, khawatir Rani tidak ingin menerima lamaran itu. "Aku harus memastikannya, aku harus bertanya langsung sama, Rani."
__ADS_1