Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 47


__ADS_3

"Panji? di penginapan? berdua?" tanya Gilang bertubi-tubi.


"Kakak tenang, Aja. Rani sama A Panji nggak akan ngelakuin hal yang nggak-nggak ko."


"Tapi mereka satu kamar kan?"


Satu sisi Gilang bahagia mendapat kabar kalau Rani sudah ditemukan, bahkan dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi di sisi lain, ia juga merasa cemas, takut, karena malam ini mereka akan melalui malam hanya berdua, di sebuah penginapan.


Gilang yang terus merasa cemas, meyambar ponsel milik Aisyah, lalu menghubungi Panji.


"Kakak mau ngapain?" tanya Aisyah terkejut.


"Gue mau telepon Panji. Awas aja kalau dia berani macam-macam," pekik Gilang seraya menghubungi Panji, tidak lama sambunganpun terhubung.


"Assalamualaikum," ucap salam Panji belum mengetahui kalau yang menghubungi dirinya adalah Gilang.


"Waalaikumsalam. Di mana lo?" Gilang langsung bertanya pada intinya, tanpa ingin berbasa-basi lagi.


"Gue di penginapan," saut Panji seraya mendudukan diri di atas kursi kayu yang terdapat di dalam ruangan itu. Ia bersandar, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.


"Jangan berani menyentuh Maharani, lo bakal berurusan sama gue. Ngerti lo?"


Tanpa menjawab, Panji langsung memutus sambungan telepon, lalu meletakkan ponselnya di atas meja, merasakan lelah dengan semua kejadian hari ini.


"Kampret. Ko malah dimatiin?" Gilang mendengus, hendak kembali menghubungi Panji, tetapi dicegah oleh Aisyah.

__ADS_1


"Udah lah, Kak. Aku yakin mereka nggak akan ngapa-ngapain ko. Percaya deh, A Panji nggak kayak gitu orangnya.


"Tapi kan..."


"Kakak, percaya." sela Aisyah memotong pembicaraan, lalu Gilang pun mencoba tenang.


Saat ini Rani sedang berada di dalam kamar mandi sedang berganti pakaian karena pakaian sebelumnya basah.


Tidak lama ia pun keluar dari kamar mandi sudah rapih mengenakan baju kaus putih sedikit kedodoroan, juga celana pendek yang mereka beli di pinggiran.


Untuk sejenak Panji tertegun melihat kancantikan Maharani, secepat Kilat juga ia segera menyadarkan diri lalu kembali meraih ponselnya berpura-pura sedang sibuk berbalas pesan.


"Aa!" panggil Maharani.


"Kenapa?" jawab Panji tanpa menoleh ke arahnya.


"Kamu tidur di kasur, Ran. Aa tidur di sofa."


Panji masih berpura-pura sibuk, mengalihkan pandangan dari pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat, lalu Rani naik ke atas kasur, berbaring menyelimuti dirinya, seraya berfikir, betapa ia sangat berdosa telah membuat sang Kakak menikah dengan Gilang.


"Maafkan aku, Kak."


Rani berkutat dengan pikirannya sampai ia pun tertidur, begitupun dengan Panji yang memilih tidur di atas sofa, tertidur karena kelelahan.


"Kak Isya. Maafkan aku, jangan membenciku, maafkan aku, Kak."

__ADS_1


Rani terus mengigau meminta maaf kepada Aisyah, sehingga suara itu membangunkan Panji yang sudah tertidur pulas.


Karena khawatir, ia pun beranjak dari sofa, menghampiri Maharani, duduk di tepian ranjang.


"Ran!"


Panji mebangunkan Rani dengan menepuk bahunya pelan-pelan, sehingga ia pun terbangun langsung menangis.


"Aa. Aku takut, A. aku takut semua orang marah." kata Rani dengan deraian air mata.


"Kamu gak usah takut, Ran. Mereka nggak akan marahin kamu," ucap Panji seraya menenangkan sambil mengusap air mata Maharani yang terus tumpah.


"Tapi mereka..?"


"Nggak, Ran. Mereka nggak akan marah."


"Sekarang kamu tidur ya, kita harus bangun pagi, segera pulang."


Tangisnya mulai mereda, perasannya sedikit tenang berada di samping Panji, lalu ia pun bangkit dari tidurnya, duduk di depan Panji.


"Aku cinta sama Aa, jangan paksa aku lagi untuk mencintai kak Gilang, aku nggak bisa."


Panji menatap lekat wajah itu, menangkup pipi Maharani dengan kedua tangannya.


"Itu hak kamu, aku cuma mau kita menyelesaikan masalah ini secara baik-baik, karena dengan kabur tidak akan menyelesaikan masalah," ujar Panji.

__ADS_1


"Tapi Aa mau kan memperjuangkan cinta kita? Aa mau kan bilang sama mereka kalau kita saling mencintai?"


"Aa masih memikirkan hal itu, kita lihat besok ya."


__ADS_2