
Lombok.
Buka hanya karyawan yang ikut serta, semua keluarga besar Herlambang malique nampak menikmati acara hiburan di pantai dengan mengadakan dorprice untuk semua karyawan, juga keluarga besar yang ikut bergabung bersama mereka.
Acara berlangsung cukup meriah, semua bersorak gembir apa lagi saat Kiran memenangkan hadiah berupa TV LED empat puluh dua inci setelah berhasil menjawab pertanyaan MC dengan benar.
MC itu nampak canggung saat Kiran naik ke atas panggung, sebagai pemenang dorprice.
"Aduh, gemeteran nih satu panggung sama menantu pemilik perusahaan," ujar MC itu sambil menunduk hormat di depan Kiran.
Kiran tersenyum berdiri di tengah-tengah panggung, dengan penampilan yang begitu cantiknya, membuat MC itu menjadi salah tingkah bukan hanya karena cantik saja, melainkan karena Kiran adalah menantu dari pemilik semua perusahaan ternama yang dikelola oleh putra-putranya.
MC itu berdiri di sisi sebelah kanan Kiran, sedikit memberi jarak. "Nyonya Kirania putri?"
Kiran mengangguk ramah.
"Anda mendapatkan satu buah TV LED dengan ukuran empat puluh dua inci, apakah hadiah tersebut akan anda bawa pulang?" tanya MC itu.
Kiran menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Kenapa?" tanya MC itu.
__ADS_1
"Karna saya sudah punya," ujar Kiran.
MC itu pun tersenyum. "Iya lah. Jangankan TV empat puluh dua inci, pabriknya pun sanggup anda beli," seorohnya, membuat semua orang tertawa.
"Lalu kepada siapa hadiah itu akan anda berikan?"
"Kepada karyawan kebersihan yang memiliki kinerja bagus, juga absen yang tidak pernah bolong," tutur Kiran.
"Nah loh, secara halus ibu negara sudah mengingatkan kita untuk bekerja dengan giat, dan terutama absen tidak boleh banyak bolong," lanjut MC itu, lalu kembali bicara dengan Kiran.
"Baiklah, karena anda meminta hal demikian, tim kami akan meriset karyawan mana yang berhak mendapatkannya.
Kiran menganguk setuju, lalu ia kembali duduk di sebelah sang suami, Adlan merangkulnya dari samping seraya mencium keningnya.
"Iya, Mas," ucapnya dengan senyum termanis.
Pak Herlambang yang duduk disebelahnya pun turut mengungkapkan rasa bangganya terhadap sang menantu.
Acara berlangsung cukup meriah, Gilang yang juga ikut serta dalam acara itu, saat ini nampak sedang merencankan sesuatu dengan Fatih mengenai hubungan dirinya dengan Rani.
Ia meminta sedikit perhatian dari semua keluarga besar, karena ingin menyampaikan hal penting mengenai hubungannya dengan Rani yang bukan lagi rahasia di mata keluarga.
__ADS_1
"Maafkam saya sebelumnya kalau saya lancang, tapi sebelumnya saya sudah mendiskusikan hal ini dengan Om Fatih, dan Om Fatih setuju. Bukan begitu, Om?" tanya Gilang kepada Fatih yang saat ini duduk di sebelahnya.
Untuk sejenak mereka terdiam, memperhatikan Gilang bicara.
"Saya sangat mencintai Maharani, begitupun dengan Rani, kita saling mencintai."
Rani dengan Gilang saling menatap, melempar senyum bahagia.
"Lalu?" tanya Zahfran, menatap serius.
"Saya ingin menikahi Maharani, Om," ucapnya sangat mengejutkan semua orang, kecuali Fatih yang sudah tau sejak awal.
"Menikah?" saut Zahfran.
"Iya, Om. Rani menerima lamaran saya tempo hari, dan sekarag saya tinggal meminta restu dari keluarga besar Maharani."
"Kakak. Kenapa kakak nggak bilang dulu sama aku? kita kan udah bahas ini, jangan dulu bilang sama keluarga ku." protes Rani.
"Kamu melarang Kakak bawa keluarga, Ran. Ini kan nggak, cuma aku yang meminta restu mereka," ujar Gilang.
semua terkejut, Zahfran belum memberikan jawaban apa pun, walaupun Fatih sudah setuju. Panji yang mengetahui akan hal itu, memilih pergi dari pada mendengarkan hal yang akan menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Aku yang bodoh, aku yang tidak tau diri."