Dia Maduku

Dia Maduku
Bab 25


__ADS_3

Sang surya telah menampakan cahayanya,menerobos melaluin sela-sela jendela menerangi setiap sudut rumah sederha di sebuah pedesaan,Shafiah mengajarkan doa di pagi hari pada Abiyu.


Dengan sangat telaten Shafiah terus mengulang-ulang membacanya sampai Abiyu benar-benar hafal.



"Yeee..bunda aku hampir hafal." Ucap Abiyu kegirangan saat ia sudah menghafal doa pagi hari yang Shafiah ajarkan.


"Alhamdulillah..anak bunda sangat pintar." Ia mencium puncak rambut Abiyu,lalu memeluknya dengan sangat erat. "Kamu lah yang membuat bunda bertahan sampai sekarang nak,kamu hidup bunda,kamu nafas bunda,tumbuhlah menjadi anak yang pintar,taat pada agama,berbaktii pada orangtua,jadilah penyelamat bunda ayah mu nanti di akhirat." Air mata Shafiah mengalir begitu deras hingga Abiyu merasakan rambutnya terkena tetesan air mata sang bunda.


"Bunda...apa bunda menangis? sepertinya air mata bunda membasahi rambut ku." Ucap Abiyu yang masih tenggelam dalam pelukan Shafiah.


Shafiah pun melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah Abiyu sangat lekat. "Tuh kan bunda nangis." Abiyu menyeka air mata Shafiah dengan jari mungilnya.


"Bunda kenapa menangis?" Abiyu kembali bertanya penasaran.


"Bunda terharu Abiyu sudah menghafal doa-doa harian yang bunda ajarkan,kamu anak yang pintar nak."


"Aku mau menunjukan hafalan-hafalan ku sama ayah,bunda. Yee...yee..." Ucap Abiyu kegirangan sampai ia berlari-lari di dalam kamar.


"Semoga ayah mu sama senangnya seperti ku."


"Shafiah." Dewi memanggilnya dari luar.


"Ya mba."


"Sarapan dulu."


"Ya mba,sebentar."


"Sudah nak,jangan lari-larian. Ayo kita sarapan dulu." Shafiah beranjak dari tempat tidur,lalu menangkap Abiyu yang tak henti-hentinya berlari kesana kemari. "Kena.. ha..ha..ha..Abiyu dan Shafiah tertawa bersama. "Ayo sarapan dulu."


Abiyu mengangguk setuju. Lalu mereka berdua keluar dari kamarnya menuju meja makan dan langsung bergabung bersama Dewi dan putrinya Nizma.


"Assalamualaikum." Ucap salam Shafiah sambil duduk bergabung bersama mereka.


"Waalaikumsalam." Jawab Dewi dan Nizma bersamaan.


"Kemana mas Rafa mba?"


"Habis shalat subuh,mas Rafa langsung tidur lagi,jadi sekarang dia belum bangun." Dewi menyendokan nasi untuk Shafiah,namun sangat cepat ia meraih centong nasi dari kakak iparnya. "Biar aku ambilkan sendiri mba."


"Gak apa-apa. Mba gak keberatan ko."


"Jangan mba,aku kayak tamu aja di rumah ini." Ucap Shafiah sambil tersenyum lalu ia menyendokan sendiri nasiya,dan menyendokan untuk Abiyu.


"Tante. om Zahfran gak ikut?" Dengan polosnya Nizma bertanya yang tak mengerti apa-apa.


Shafiah dan Dewi saling bertatapan.lalu menjawab pertanyaan Nizma. "Om Zahfran lagi sibuk sama kerjaannya,jadi dia gak ikut deh.." Jawab Shafiah setenang mungkin.


Mereka menghabiskan sarapan tanpa banyak bicara,karna kalau Rafael tau,banyak dalil yang keluar dari mulutnya.


Pagi berganti siang,Shafiah nampak sedang asik bermain dengan Abiiyu di depan TV.


pukul 09.00 Rafael terbangun dari tidurnya.setelah mencuci muka,ia keluar dari kamar guna mencari keberadaan Dewi.


"Sha.. Kemana dewi?" Tanya Rafael sambil menuangkan air ke dalam gelasnya.


"Mba Dewi kayaknya ke warung kak."


"Oh,kamu udah sarapan?" Rafael duduk di samping Shafiah. "Heii jagoan.." Rafael mengacak puncak rambut Abiyu sambil tersenyum. "Udah sarapan?"


"Sudah om." Jawab Abiyu sambil memainkan padnya.


"Shafiah,bagaimana kabar kamu?" Rafael memulai pembicaraan.


"Alhamdulillah baik kak."


"Kamu pasti tau apa yang akan kakak tanyakan pada mu kan?"


Shafiah memalingkan pandangannya.


"Shafiah?"


"Jangan sekarang kak,aku belum siap."


Rafael menghela nafas panjang. "Baiklah."


"Tapi kabar suami mu baik-baik saja kan?"


"Baik kak."


"Syukurlah."


"Kakak mau mandi dulu ya." nanti kita ngobrol lagi.


"Ya kak." Shafiah menatap punggung sang kakak dari kejauhan sampai ia masuk ke dalam kamarnya.




"Tuan..anda.."



"Heii..kenapa kamu selalu memanggilku tuan?" Tanya zahfran saat Azky menuangkan air ke dalam gelasnya.

__ADS_1



"Lalu aku harus panggil apa?" Azky masih berdiri di samping Zahfran sambil memegang teko beling di tangannya.



Dengan sangat mudah Zahfran menarik tangan Azky hingga ia terduduk di pangkuan Zahfran. karna tidak nyaman,Azky berusaha bangkit,namun tangan zahfran melingkar di perutnya dan menyandarkan kepalanya di atas dada Azky.agar ia tidak bisa menghindarinya.



"Panggil aku dengan nama yang lain."



"Apa?"



"Terserah,yang penting bukan tuan atau anda."



Seperti mendapatkan wangsit Azky langnsung mengutarakan apa yang ada di pikitannya. "Om..aku akan panggil anda om."



"Apa?setua itu kah aku?" Zahfran mendongakan kepalanya.menatap wajah Azky.



"Usia anda jauuuuhhhh di atas ku." Azky melayangkan tangan ke udara sebagai tanda betapa jauhnya perbedaan usia mereka.



"Tapi wajah ku tak jauh dari usia mu." Zahftan mengeratkan pelukannya. "Ganti yang lain."



"eehh...tuan..lepaskan aku.Aku tidak tau lagi harus memanggil anda apa."



"Panggil aku sama seperti Shafiah memanggilku."



"Mas..?" Ucapnya sambil mengernyitkan dahi..



"Memangnya kenapa?"




"Terserah,kamu harus memanggilku itu."



"Aku punya panggilan lain."



"Apa"



"Uncle. Haa..haa..haa." Ucapnya sambil tertawa terbahak.



Karna merasa gemas,Zahfran langsung membekam mulut Azky dengan mulutnya. "Cup.. Kali ini Azky tidak menolak namun tidak juga membalasnya.Azky diam merasakan manisnya ciu\*an yang di berikan Zahfran untuknya. Dia kembali teringat Shafiah, "***Mba Shafiah,maaf aku mencintai suami mu,suami kita***." Batin Azky.



Setelah beberapa detik,Zahfran melepaskan ciu\*annya.menyeka bibir Azky dengan jarinya. "Terimakasi sayang,kamu mau memberiku kesempatan."



Tak menjawab dengan kata-kata.ia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.



"Sekarang turunkan aku."



"Baiklah."



Setelah Zahfran melepaskan pelukanny,Azky langsung berpindah duduk ke kursi sebelahnya.



"Apa ponsel mba Shafiah tidak aktif?" Azky bertanya sambil mengisi piring dengan nasi.

__ADS_1



"Tidak,kalau aktif aku pasti sudah menghubunginya dari kemarin."



"Mulai lah mencari mba Shafiah."



"Nanti pulang kerja aku pulang ke rumah dulu,siapa tau dia sudah pulang."



"Ya,mudah-mudahan. Tapi kalau belum pulang?"



"Aku akan memikirkannya lagi nanti. Sudah,jangan banyak bertanya,ayo cepat habiskan makan mu."



"Ya Uncle."



Mendengar dirinya di panggil Uncle,Zahfran langsung berhenti mengunyah dan langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Azky seperti ingin menciumnya lagi. "No...no.."



"Memanggil ku Uncle,aku akan menghukum mu."



"Ok..mas Zahfran Malik."



"Hem...itu bagus." Ucapnya sambil tersenyum.



Sarapan pagi ini berlangsung sangat manis,ciu\*an,dekapan,kemesraan terjadi di pagi ini.



Setelah selesai sarapan,Zahfran langsung berangkat ke kantor bersama Bram.



"Bram,kamu tau di mana rumah Rafael?" Tanya Zahfran saat dalam perjalann menuju kantor.



"Tidak tuan."



"Cari tau alamat rumahnya,aku yakin Shafiah ada di sana."



"Memangnya anda belum pernah ke rumahnya?"



"Aku pernah kerumahnya sat mereka masih tinggal di kota ini,tapi beberapa tahun yang lalu,mereka pindah lagi entah ke mana." Jawabnya sambil bersandar dan memijat pangkal hidungnya merasakan penat.



"***Mereka pindah ke kampung halamanya tuan,tapi maaf aku tidak akan memberitahumu,aku yang akan menemuka Shafiah lebih dulu***.". Bram.



~


~


~



"Dia meninggalkan ku saat kita akan melakukan hubungan suami istri kak,kita sudah berada dalam satu selimut. Tapi dia pergi begitu saja tanpa memikirkan perasaan ku,aku merasa terhina." ia menangis terisak-isak dalam pelukan sang kakak.



Lanjut gak nih?


Tapi aku mau **Like** dulu.


**Komentar** sebanyak-banyaknya.



Author akan CrezyUP kalau sudah memenuhi target.


Ayoo..ajak yang lain untuk mampir ke cerita ku ini.😘

__ADS_1



Terimakasi 🤗


__ADS_2