Dia Maduku

Dia Maduku
Bab 86


__ADS_3

Shafiah masih merasa kesal karna sikap Zahfran hari ini,begitu sampai di apartemen,Shafiah langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


"Sayang...buka dong pintunya." Zahfran mengetuk pintu kamar Shafiah sampai berkali-kali tapi tak kunjung mendapat repon dari sang pemilik.


"Kenapa sih mas,mba Shafiah sampai semarah itu sama mas Zahfran?" Tanya Khadijah berdiri di sampingnya.


"Anak kecil gak perlu tau." Tukas Zahfran pada adiknya.


"Iisshh.. Nyebelin..Rasain tuh mba Shafiah marah,dan siap-siap tidur di luar." Ucap Khadijah sambil menjulurkan lidah pada Kakanya,lalu ia pergi duduk di depan TV sambil menonton kebodohan kakaknya.


"Jangan di bukain kak,biar mas Zahfran tidur di luar." Teriak Khadijah dari kejauhan mengejek kakaknya.


"Jiaaa....." Zahfran mendengus kesal.



Azky sangat yakin kalau Fatih tidak mengetahui kalau pak Herlambang membayar tagihan rumahsakit,segera ia meraih ponsel di dalam tasnya lalu menghubungi Fatih.



Karna saat ini Fatih sedang sibuk dengan pengacaranya,panggilan Azky tak kunjung mendapat jawaban. "Mas Fatih ke mana?"



"Kenapa Azky?" Tanya Dewi saat melihat wajah Azky nampak kebingungan.



"Aku telfon mas Fatih tapi gak di angkat-angkat mba."



"Mungkin Fatih masih metting. Soalnya tadi dia bilang gak bisa antar kamu pulang karna harus metting sama pengacaranya."



Sejenak Azky terdiam,ia kembali duduk di tepi ranjang sambil memeluk ponselnya.Dewi mendekat. "Kenapa sih? Ko mukanya kayak bingung gitu?" Tanya Dewi.



"Pak Herlambang membayar tagihan rumahsakit mba."



"Kamu serius?"



Azky menganggukan kepalanya. "Iya mba."



"Ko bisa sih?"



"Aku juga gak tau mba?mangkanya aku mau tanya sama mas Fatih."



"Coba aja kamu kirim pesan sama dia,suruh telfon kalau udah selesai metting nya."



"Iya benar mba..aku kirim pesan aja sama mas Fatih."



Azky mulai mengetik pesan untuk Fatih. "Assalamualikum... mas,kalau ada waktu,tolong hubungi aku ya mas,ada yang mau aku bicarakan." Pesan terkirim



Azky menghela nafas panjang lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. "Sudah?" Tanya Dewi.



"Sudah mba,ayo..sekarang kita pulang." Azky berdiri menenteng tas miliknya dan mereka pun keluar meninggalkan rumahsakit dengan menggunakan Taksi sebagai kendaraannya.



Fatih belum menemukan titik terang atas masalah yang menimpa perusahaannya saat ini,ia menyandarkan tubuhnya di atas sofa sambil memijat pangkal hidungnya.



"Fatih.. Bagaimana kalau kita laporkan saja mereka ke kantor polisi." Usul pak Herlambang.



Fatih menggelengkan kepala. "Jangan dulu om,aku takutnya mereka malah menyerang balik perusahaan kita." Kata Fatih.



"Lalu..?"


__ADS_1


Belum sempat menjawab,Fatih melihat lampu notifikasi di ponselnya menyala. Ia meraih benda pipih hitam itu di atas meja dan mulai membukanya. "Azky..?" Ucapnya sambil menatap nama di dalam layar ponsel.



Setelah membaca pesan dari Azky,ia langsung membukanya dan langsung menelfonnya.



Tak butuh waktu lama,Azky pun langsung mengangkat telfon dari Fatih.



"Assalamualaikum." Ucap Fatih di sebrang sana.



"Waalaikumsalam." Saut Azky.



"Azky,ada apa?" Tanya Fatih khawatir,karna tidak biasanya Azky meminta dirinya untuk telfon.



Mendengar Fatih menyebut nama Azky,Pak Herlambang langsung melirik ke arah Fatih. "***Azky? sepertinya Azky akan menanyakan masalah biaya rumahsakit pada Fatih***." Batin pak Herlambang.



"Mas,apa kamu tau kalau pak Herlambang membayar biaya rumahsakit?"



"Apa?" Ucap Fatih sambil mengernyitkan dahinya.ia melirik ke arah pak Herlambang yang sedang sibuk dengan Laptoopnya.



"Iya mas,di sana jelas tertera nama Herlambang malique beseeta yandatangannya."



"***Om..apa yang kamu lakukan***?***apa maksud dari semua ini***." Tanya Fatih dalam hati.



"Mas..mas Fatih..?" Panggil Azky berkali-kali.



"I..iya Azky..?"




"Ngga ko,metting nya baru selesai."



"Ya udah deh..aku cuma mau bilang itu,dan tolong tanyakan sama pak Herlambang."



"Iya Azky,nanti aku tanyakan." Sempat menjeda sebelum kembali bicara. "Maaf aku tidak bisa mengantar kamu pulang dari rumahsakit." Ucap Fatih sedikit menyesal.



"Gak apa-apa mas,lagian...kan ada mba Dewi juga."



"Terimakasi Azky,kamu mau mengerti."



"Iya mas,sama-sama."



"Nanti aku telfon kamu lagi Assalamualaikum."



"Waalaikumsalam."



Fatih menyimpan kembali ponselnya ke atas meja,lalu ia berdiri menghampiri pak Herlambang dan duduk di sebelahnya. "Om.."



"Hhmm..." jawabnya tanpa berkata.



"Om yang membayar biaya rawat inap Azky?"

__ADS_1



"Iya." Jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.



"Kenapa?"



"Memamgnya harus ada alasan untuk berbuat baik.?" pak Herlambang menurunkan kacamatanya sampai batas hidung dan menatap Fatih.



"Nggak perlu sih om..cuma....aneh aja sama sikap om yang seperti ini,om gak punya maksud apa-apa kan?"



Pak Herlambang menghentikan sejenak aktifitasnya kembali ia melihat Fatih. "Memangnya kamu fikir om akan melakukan apa?"



Fatih terdiam masih menatap aneh.



"Sudah lah Fatih,hanya uang 30 juta..Sekarang lebih baik kamu fokus kerja lagi,jangan memikirkan hal yang tidak penting."



Mencoba biasa saja,Fatih kembali duduk di kursi kebesarannya.



Jakarta pukul 20.00


Sepanjang hari Shafiah terus berada di dalam kamar,tak ingin keluar untuk melihat suaminya,makan bahkan Shalat pun ia lakukan di dalam kamar.


Zahfran memutar otaknya untuk dapat masuk ke dalam kamar itu dan tidur dengan istri tercinta. "Berfikir....berfikir" Ucapnya sambil terus memandangi pintu kamar Shafiah dari kejauhan.


Sepertinya ia sudah mendapatkan wangsit,Zahfran berdiri mendekat ke pintu dengan senyum di bibirnya. "Kali ini aku pasti berhasil." Ucapnya pelan sambil berjalan.


Kebetulan saat itu Khadijah lewat di depan dia. "Jia...kamu ketuk pintu Shafiah dan bilang kalau aku demam."


Khadijah langsung memegang kening kakaknya. "Ngga tuh,mas Zahfran gak demam."


"Ayolah jia..supaya kakak mu mau membukakan pintu untuk aku."


"Iiisshh..lagiaj bikin kesalahan apa sih sampai mba Shafiah semarah itu."


"Udah. pokonya cepat bilang Shafiah kalau aku demam,nanti aku kasih kamu uang saku untuk besok."


"Berapa?"


"lima juta."


"Nggak..sepuluh juta."


"Kamu mau memeras kakak mu?"


"Mau sepuluh juta,atau tidur di luar malam ini?" Khadijah menaik turunkan kedua alisnya.


"Ya sudah lah..nanti aku transfer."


"Ok..awas ya kalau bohong."


Khadijah mengetuk pintu kamar "tok..tok.. mba,ini aku.."


"Ada apa Jia?" saut Shafiah dari dalam.


"Mas Zahfran demam mba."


Shafiah terdiam.


"Udah minum obat penurun demam tapi gak ada reaksi."


Tiba-tiba Cklek.. Shafiah membukakan pintu sambil membawa obat dan langsung menyerahkan obat itu pada Khadijah. "ini obatnya."


Dan Shafiah kembali menutup pintu,namun karna gerakan tangan Zahfran sangat cepat,ia berhasil menghadang pintu itu. "Sayang tolong.. mas butuh kamu,bukan obat itu."


"Jia kamu sekongkol?" Ucap Shafiah menatap tajam.


Zahfran langsung memeluk Shafiah dan membawanya masuk ke dalam kamar dan ia menguncinya dari dalam.




Author minta tanda cinta kalian dong...


Jangan lupa selalu tinggalkan like Vote dan komen setelah membaca ya,biar Author tambah semangat. 🙏🙏😘😘



Jangan lupa untuk Follow juga ya.🙏

__ADS_1


__ADS_2