
Maaf ya baru UP. kemaren sibuk ngurus suami baru pulang dari luar kota.
Semoga masih pada suka.
HAPPY REDING.....
Satu minggu sudah mereka berada di rumah bersama Kayla, kini Abiyu mulai kembali bekerja, sedang Kisya masih ambil cuti kuliah sampai menemukan pengasuh yang cocok untuk putrinya.
Bukan tak menawarkan diri. Shafiah sering kali mengatakan pada Kisya kalau dia tidak keberatan mengasuh Kayla, namun Kisya selalu menolak karna tidak mau merepotkan mertuanya.
Hari terus berganti. Kayla semakin dekat dengan sang Bunda karna selama dua minggu terakhir ini semua waktunya di habiskan berdua. Namun ada sedikit beban saat Kayla menanyakan perihal sang Bunda mencarikan pengasuh lagi untuknya.
"Bunda mau kuliah lagi?" tanya Kayla sambil berbaring bersama sang Bunda di atas tempat tidur. Selalu ada drama sebelum tidur, mereka mengobrol sambil berbaring di bawah selimut berbulu, bergambarkan putri yang memiliki rambut panjang menjuntai.
"Iya, Nak." jawab Kisya sambil membawa Kayla ke dalam pelukannya.
"Kayla sama siapa?" tanyanya sambil mendongakan kepalanya ke atas menatap wajah sang Bunda dari dekat.
"Nanti Bunda cariin teman main mau?"
Kayla menggelengkan kepalanya sambil cemberut, "Kayla gak mau Bunda, Kayla gak mau main sama orang lain."
"Kay.. Kayla kan sebentar lagi sekolah. Bunda kan sendirian di rumah, jadi Bunda kuliah lagi ya?"
Lagi-lagi Kayla menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Ia kembali merajuk saat mendengar penjelasan panjang lebar dari sang Bunda. Kisya yang sudah tau bagaimana cara membujuk putrinya, akhirnya ia mengakhiri obrolan seputar sekolah, karna hanya akan membuatnya semakin marah, dan akhirnya Kayla bisa tidur setelah mendengar dongeng cerita rakyat dari sang Bunda.
Waktu terus berjalan. Saat ini jarum jam berada di angka sebelas, dan Abiyu baru saja sampai di apartemen setelah menyelesaikan beberapa urusan di Restaurannya.
Penat... begitu sampai di rumah, Abiyu langsung berbaring di atas tempat tidur sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Kisya yang baru saja masuk setelah menidurkan Kayla, langsung menghampiri Abiyu lalu duduk di sebelahnya.
"Udah pulang?"
"Hhmm..."
"Gak nyariin aku?" masih duduk di sana menatap wajah Abiyu yang terlihat capek.
"Kamu di kamar Kayla kan?"
"Iya."
"Aku gak mau ganggu tidur putri kita, jadi langsung ke kamar aja."
"Ya udah. Aku siapin air anget dulu buat kamu mandi."
"Hhmm..."
Abiyu masih berbaring di atas ranjang sambil memejamkan matanya walau tidak tidur. Sedang Kisya pergi ke kamar mandi menyiapkan air hangat dalam Buth up.
Setelah Abiyu masuk ke dalam kamar mandi, Kisya kembali teringat dengan obrolan dengan putrinya tadi. Ketidaksetujuan Kayla terhadap rencana sang Bunda yang akan kembali Kuliah, cukup membuat hatinya tidak tenang.
"Apa yang harus aku lakuin?" Kisya duduk di depan cermin rias menatap wajahnya dalam pantulan cermin.
Tak lama Abiyu pun keluar dari kamar mandi mengenakan handuk sebatas pinggangnya. Ia melihat sang istri sedang duduk melamun di depan meja rias.
"Yank.." suara abiyu menyadarkannya dalam lamunan.
"Iya Biy..?" ia pun berdiri, mengambilkan baju tidur suaminya di dalam lemari.
"Kenapa ngelamun?" Abiyu melepaskan handuk di depan Kisya.
"Kebiasaan buka handuk di depan aku, belum pake apa-apa lagi. minta ya?" ucapnya sambil menyerahkan baju tidur berwarna dongker pada sang suami.
"Yee.. itu mah pikiran kamu aja yang belok, aku gak minta ko."
"Beneran?"
"Ya..kalau mau ngasih sih gak apa-apa."
"Yee..." Kisya kembali duduk di depan meja rias menghadap Abiyu yang sedang memakai baju.
__ADS_1
"Kenapa bengong?" ia kembali bertanya.
"Aku bingung Biy..."
"Bingung kenapa?"
"Kayla gak mau aku tinggal, dia gak mau di asuh orang lain."
"Maunya?" selesai memakai baju, Abiyu menyisir rambutnya sambil berdiri, sedang Kisya masih duduk di depannya.
"Dia maunya sama aku."
"Ya udah, kalau maunya sama kamu."
"Iisshh.. gampang banget jawabnya," Kisya berdiri lalu naik ke atas ranjang, menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Terus aku mesti jawab apa?" Abiyu memutar tubuhnya menghadap Kisya.
"Ya masa iya aku mesti berhenti kuliah?"
"Kalu itu terserah kamu,"
"Keputusan ada di tangan kamu, aku gak minta kamu berhenti, atau nyuruh kamu nerusin kuliah."
"Gak tau Biy, aku bingung."
Pagi sekali Kiran sedang bersiap-siap berangkat kerja menemui kepala HRD sebelum mulai bekerja, setelah semalam ia mendapat kabar, kalau dirinya di terima bekerja sebagai kasir di supermarket salah satu mall ternama kota Jakarta utara.
"Langsung kerja hari ini Ran?" tanya sang ibu sesaat sebelum Kiran berangkat.
"Iya, Bu. Sekalian tanda tangan kontrak juga. Katanya sih aku di kontrak enam bulan. Lumayan kan Bu?" selesai memasukan semua keperluan ke dalam tas, Kiran pun langsung berpamitan.
"Siap ibu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Demi mengejar waktu, Kiran berangkat kerja lebih awal, karna pastilah jalanan ibu kota selalu padat dengan kendaraan, terutama kendaraan bermotor.
Tepat pukul 07.30 ia sampai di tempat tujuan, dan langsung menemui kepala HRD di ruangannya.
"Ini berkas kontrak kamu," Seorang pria parubaya berusia 40 tahun itu menyerahkan beberapa lembar kertas untuk di tandatangani.
"Poin-poin penting juga sudah saya beri stabilo hijau, kamu tinggal baca saja."
"Baik pak." saut Kiran tanpa menaruh curiga apapun. Ia terus membaca poin-poin penting di dalam surat, sedang kepala HRD itu terus menatap wajah Kiran penuh nasfsu birahi.
__ADS_1
Selesai menandatangani berkas, Kiran di perintahkan oleh pria itu untuk berdiri bersandar pada dinding tembok sambil merentangakan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri.
"Ini.. mau ngapain pak?" Kiran mulai curiga, tapi sejauh ini pria itu masih menatapnya dari kejauhan.
"Rok kamu kurang pendek."
"Ini sudah berada di atas lutut pak," saut Kiran khawatir.
"Tapi ini kurang pendek," pria parubaya itu melangkah mendekat, "Ini," satpam itu menyentuh rok Kiran dan mengukurnya dengan tangannya. "pendekan lagi sepuluh centi."
Kiran terkejut, ia membulatkan matanya, "Sepuluh centi?"
"Baju kamu. Kurang pendek, potong lagi lima centi."
Kiran mengerutkan keningnya. Ini sudah di luar batas, bahkan pria parubaya itu berani menyentuh pa\*\*daranya. Secepat Kilat Kiran mendorong pria itu hingga ia jatuh tersungkur ke bawah.
"Anda kurang ajar pak, berani sekali menyentuh saya?"
Pria itu langsung berdiri lalu mencengkram kerah kemaja yang Kiran pakai, sampai ia kesukitan untuk bernafas. "Berani kamu sama saya?"
"Le..paskan..saya.."
Pria parubaya itu merobek baju Kiran, mengkoyaknya hingga semua terlepas hikss..hikss.. Kiran menangis sejadi-jadinya, menjerit, berontak, namun tangannya sudah terkunci ke belakang.
"Tolooong.. sekuat tenaga ia menjerit, berharap ada seseorang yang bisa menolongnya. Namun suaranya di rasa percuma, terus menjerit tapi tak ada satupun seseorang yang datang.
"Tolooong..." terus dan terus ia menjerit. Pria paru baya itu mulai melepaskan roknya, namun belum sempat terlepas, tiba-tiba seseorang masuk dengan mendobrak pintu itu sangat kuat. "Brugg..."
Pria parubaya itu menoleh ke arah pintu. "Tuan..?"
Ayooooo mana niiiih jempolnya.
LIKE
KOMEN
BUNGA
VOTE
__ADS_1
Biar lebih semangat lagi nih nulisnya 🥰🙏