
"Kisya..?" Abiyu menatap tak percaya dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba. "Mau ngapain dia?" Seketika ia merubah raut wajahnya biasa saja. Ia meletakan bolpoin yang baru saja di gunakan,lalu mengambil bolpoin berwarna,untuk memberi tanda pada laman penting pada berkas yang sedang ia periksa.
"Di cuekin kan?" Ujar Kisya.
Merasa belum di persilahkan masuk,Kisya terus berdiri di ambang pintu. "Kalu gak niat masuk,tutup lagi aja pintunya." Kata Abiyu ketus. Ia melihat apa yang di tenteng sang istri,namun memilih acuh dan kembali dengan aktifitasnya.
"Benar kan apa dugaan ku? Dia semakin besarkepala." Ucapnya mencibir kesal.
"Aku bawa makan siang." Singkat,tanpa embel-embel sayang,atau suami ku di akhir kata.
"Terus.. mau berdiri di situ aja? Mau aku makan di situ? Sambil berdiri?" Suara Abiyu terdengar masih Ketus,namun kali ini ia melihat ke arah Kisya.
"Biasa aja dong." Kisya memutar bola matanya malas. "Kalau gak suka aku dateng,bilang."
Abiyu bersandar di kursi kebesarannya. "Yang bilang gak suka siapa?"
"Dari tadi ngomongnya ngeselin."
"Lagian,siap suruh terus berdiri di situ? Mau masuk atau nggak?"
Kisya menghentakan kakinya,melangkah masuk ke dalam. "Kalau bukan bunda yang nyuruh,aku gak mau dateng ke sini?" ia duduk di atas sofa,meletakan tas di sampingnya,lalu meletakan rantang berisi makanan di atas meja.
Belum lapar memang,tapi ia penasaran dengan apa yang Kisya bawa,ia menghampiri Kisya lalu duduk di sebelahnya. "Ada angin apa tiba-tiba ke sini,apa lagi hilang kesadaran?" Ia berkata sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang.
Kisya diam tak bergeming. Ia membuka susunan rantang paling atas yang berisi Nasi lalu meletakannya di depan sang suami.
Susunan kedua berisi peda bakar. "Kesukaan kamu tuh."
"Masih inget?"
Lagi-lagi Kisya memutar bola matanya jengah,sambil menggelengkan kepalanya. "Terserah."
__ADS_1
Membuka susunan yang ke tiga yang berisi Sayur rebung. "Pake santen kan?"
"Iya lah." Sautnya.
usunan terakhir,kali ini Kisya menutup hidungnya. "Nih sambel terasi,goreng tempe,sama tahu."
Kali ini Abiyu duduk tegap,melihat apa benar Kisya membuatkannya sambal terasi? "Sejak kapan bikin sambal terasi buat aku? Baru cium segini aja kamu udah gak bisa nafas."
"Kebanyakan protes deh,tinggal makan aja." Kisya menuangkan nasi ke atas piring.
"Gak perlu repot-repot,aku udah biasa makan sendiri." Abiyu merebut piring itu dari tangan sang istri.
Kisya mendengus kesal. "Bener-bener ya kamu gak ngehargain keberadaan aku? Kalau gitu ngapain aku di sini?"
Abiyu tetap acuh,dengan santainya ia menuangakan semua menu ke atas piringnya,dan melahapnya tanpa bicara.
"Abiy..." Panggil Kisya sedikit membentak.
Kesal,Kisya pun berdiri. "Percuma ngomong sama kamu,sama sekali gak ngehargain aku." Ia melangkah pergi,namun langkahnya terhenti saat Abiyu memegang tangannya. "Ngapain sih?"
"Duduk. Jangan pergi sebelum aku selesai makan."
"Nggak." Jawabnya cepat.
"Kisya..duduk." Kali ini Abiyu sedikit melembutkan suaranya. Kisya pun duduk kembali di samping Abiyu,walau dengan wajah masam.
"Lain kali kalau mau ke sini,masak sendiri,jagan bawa masakan bunda."
Tiba-tiba Abiyu mengatakan itu,Kisya langsung menatap Abiyu dengan perasaan was-was. "Jangan-jangan dia tau."
"Iya kan?" Ucapnya sambil melihat ke arah Kisya,Kisya langsung menatap ke arah lain.
__ADS_1
"Enak aja,siapa bilang ini masakan bunda?"
"Aku.."
"Ini masakan ku."
"Gak usah bohong,aku tau rasa masakan kamu,sama bunda." Sesekali ia melihat ke arah Kisya,namun yang di lihat malah membuang muka ke arah lain.
"Sok tau."
"Aku tau semua tentang kamu,kamu yang gak tau apa-apa tentang aku,Kisya."
Maaf baru sedikit,nanti siang UP satu bab lagi.
Tapi kasih Author semangat dong.
LIKE
KOMEN
BUNGA
VOTE
Terimakasih 🤗😘🙏
__ADS_1