Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 16


__ADS_3

Karna masalah ban mobil yang bocor, membuat Rani dan Aisyah terpaksa ikut bersama Gilang berangkat ke sekolah. Seandainya ada pilihan yang lain, mereka pasti tidak akan mau berangkat bersama Gilang.


Sepanjang perjalanan, Gilang terus tersenyum menatap wajah cantik Rani dari sepion kecil yang menggantung di depannya. Iya, itu karna mereka berdua duduk di belakang.


Sebetulnya Gilang sudah meminta Rani duduk di depan, jelas dia menolak, demi kenyamanan kekasihnya, Gilang pun mengalah, lalu membiarkan Rani duduk di belakang bersama Aisyah kakaknya.


Selama perjalanan, tidak ada percakapan apapun diantara Panji dengan Rani, karna Rani memilih diam saat Panji bertanya. Baiklah. Akhirnya Panji pun diam dan hanya obrolan ringan antara Rani dengan Aisyah yang ia dengar. Sampainya di depan sekolah, Aisyah pun turun lebih dulu, sedang Rani masih di dalam.


"Hati-hati ya Dek." ucapnya sedikit membungkuk karna mobil yang gilang gunakan adalah mobil sedan. Rani pun mengangguk.


"Nanti kabarin Kakak kalau udah nyampe."


lalu Aisyah mendekat, berbisik di telinga Rani, "Kalau Kak Gilang macem-macem, kamu jangan ragu tendang dia. Bila perlu di titik paling lemah."


"Siap Kak," ucap Rani dengan senyum. Setelah melambaikan tangan pada Rani, Aisyah pun masuk ke dalam sekolah. Gilang kembali melajukan mobilnya menuju sekolah Rani dengan kecepatan sedang, cenderung lebih pelan dari sebelumnya.


"Pindah dong ke depan," ucapnya sambil melirik sekilas ke belakang.


"Nggak," Rani menjawab sangat cepat, dan jelas itu sebuah penolakan. Tidak kehabisan akal, Gilang pun menepikan mobilnya di bahu jalan.


"Kenapa berhenti?" tanya Rani kesal.


"Gue pengen ngobrol sama lo," jawabnya datar.


"Kayak gini juga kan bisa ngobrol."


"Ran. Ayolah! gue gak akan ngapa-ngapain lo. Lo gak usah takut."


"Ayolah Maharani!" pintanya lagi.


Akhirnya kali ini Rani yang mengalah lalu duduk di depan disamping Gilang. Gilang pun tersenyum bahagia.


"Makasi ya, Ran."


"hhmm.." jawabnya tanpa berkata.


Gilang kembali melajukan mobilnya menuju sekolahan Rani. Tidak sampai 10 menit, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Saat Rani akan membuka pintu, Gilang mencegah dengan memegang tangannya.


"Kak. Jangan pegang tangan aku!" keningnya mengerut tidak suka.


"Ok. Tapi jangan dulu turun ya!"


"Mau ngapain lagi?"


"Ngobrol sebentar dong, Ran."


"Aku kesiangan, Kak."


Gilang melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Lo masih punya waktu 15 menit sampai bel masuk. Gue cuma minta waktu 5 menit aja."


"Mau ngomong apa sih Kak?"


"Gue cuma mau ngobrol sebentar."


"Ya mau ngobrolin apa? gak ada yang perlu di bahas juga kan?"


"Ya lo nanya apa ke. Emang lo gak penasaran kenapa tiba-tiba ban mobil lo bocor?"


"Aku udah tau jawabannya, ngapain nanya lagi?"

__ADS_1


Gilang menghela nafas dalam, berusaha sabar menghadapi sikap dingin Rani terhadap dirinya.


"Ya udah. Tapi tadi anggurnya dimakan kan?" tanya Gilang selembut mungkin.


"Dimakan," jawabnya singkat.


"Lagian ngasih anggur cuma tiga biji doang, gak modal banget sih."


"Beli anggurnya mah sekilo. Tapi kan gue kasih satpam rumah lo. Lagian mana bisa gue ngelempar anggur sekilo ke lantai dua, mana kamar lo lantai dua aja tinggi banget lagi," saut Gilang berusaha mencairkan suasana hati Rani yang dingin.


"Pak Asep, gampang banget lagian disogoknya," gumamnya pelan.


"Jangan nyalahin pak Asep! kan gue pake trik yang lain juga biar bisa masuk ke dalam rumah lo."


"Apa lagi?"


"Pinjem gunting rumput."


"Pantesan ada di taman. Banyak banget sih akalnya, Kak."


"Ya. Demi lo sih. Apa aja gue lakuin."


"Buat besok juga gue masih punya alesan biar bisa masuk ke rumah lo."


"Apa lagi?"


"Nganterin Gunting rumput."


"Isshh.." Rani mendesis sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Nah. Gitu dong senyum. Seneng banget gue ngeliatnya," saut Gilang yang sama-sama tersenyum.


Rani turun dari mobil, begitu pun dengan Gilang.


"Kenapa Kakak turun?"


"Nanti pulang sekolah, gue jemput."


"A Panji yang jemput."


"Gak bisa. Lo gak boleh deket-deket sama si Panji."


"Kenapa?"


"Karna lo cewek gue."


Rani memutar bola matanya malas, "Terserah Kakak. Kita liat aja nanti, siapa yang nyampe duluan jemput aku."


"Gue pasti nyampe duluan," saut Gilang sangat optimis.


"Ya, ya," setelahnya Rani pun pergi meninggalkan Gilang yang masih saja berdiri di sana.


"Gue gak akan kalah dari Panji. Liat aja," Bergumam, terus menatap Rani berjalan semakin jauh menaiki anak tangga menuju kelasnya yang terletak di lantai dua gedung sekolah.


Baru tiga jam yang lalu si kembar berangkat sekolah, tiba-tiba Azky yang sedang merapihkan tempat tidur mendapat telepon dari wali kelas Aisyah.


"Assalamualaikum."


"Waaliukumsalam."

__ADS_1


"Bunda Azky?"


"Iya bu. Ini saya. Ada apa ya bu?"


"Begini bu, Aisyah tadi pingsang saat mengikuti jam belajar."


"Pingsan?" saut Azky terkejut.


"Sekarang bagaimana keadaan anak saya bu?"


"Bunda tenang dulu. Aisyah sudah sadar sekarang, dan kondisinya baik-baik saja. Saya menyarankan lebih baik bunda jemput Aisyah ke sekolah, biar Aisyah istirahat dulu di rumah," kata wali kelas Aisyah di seberang sana.


"Baik bu. Nanti supir saya menjemput Aisyah ke sekolah, terima kasih."


"Sama-sama. Assalamualaikum."


"Waaikumsalam."


Setelah mengakhiri telepon dengan wali kelas Aisyah, Azky bergegas turun ke lantai bawah mencari keberadaan Panji kebun belakang.


"Panji."


Panggil Azky dari kejauhan. Panji yang mendengar namanya di panggil oleh sang majikan, berhenti sejenak dari aktivitasnya lalu berdiri menyahutinya.


"Saya di sini, Nyonya."


"Panji. Kamu jemput Aisyah di sekolah sekarang," ucap Azky sangat panik.


"Non Aisyah? kenapa Nyonya?"


"Aisyah pingsan di sekolah, ji."


"Oh. Iya nyonya, saya ambil dulu kunci mobil."


"Iya cepat."


Panji pun langsung mencuci tangannya. Setelah mengambil kunci mobil, ia bergegas pergi menjemput Rani.


Tibanya di tempat tujuan, Panji langsung berlari menuju klinik setelah sebelumnya menemui wali kelas Aisyah terlebih dahulu di kantornya. Ia melihat Aisyah sedang berbaring lemas sambil memejamkan mata di atas ranjang besi khas rumah sakit. Panjipun masuk menemui Aisyah.


"Non."


Aisyah membuka matanya.


"A Panji," Aisyah berusaha bangun lalu Panji membantunya.


"Hati-hati Non," kata Panji seraya memegang bahu Aisyah, khawatir ia jatuh.


"Non gak apa-apa?"


"Pusing sedikit A."


"Kita pulang ya Non."


Aisyah mengangguk. Setelahnya Panji pun membantu Aisyah berjalan menuju parkiran dengan memegang bahunya.


Sebetulnya dia merasa tidak enak sampai memegang bahu Aisyah, karna selama bertahun-tahun kerja dengan keluarga Fatih, ini kali pertama dia menyentuh Aisyah, walaupun hanya bahunya saja, itu pun tidak langsung menyentuh kulitnya.


"Maaf ya Non."

__ADS_1


"Gak apa-apa, A."


__ADS_2