
"Cukup, Kak. Jangan berlebihan." Aisyah merebut gelas berisi wine dari tangan Gilang, lalu meletekkannya di atas meja.
"Ayolah, Isya. Nggak banyak ko, dikit lagi ya."
Aisyah kembali meraih gelas tadi saat Gilang hendak mengambilnya kembali.
"Jangan harap," ucapnya sambil berdiri, mengambil semua botol yang ada di atas meja, lalu membuang isinya ke dalam kloset. Gilang menyaksikan itu.
"Loe apa-apaan sih, Isya?" Gilang mendengus.
"Tadi Kakak janji cuma dikit, sekarang kenapa jadi kayak gini, Kakak mabuk berat," protes Aisyah.
"Gue nggak mabuk Isya, gue masih sadar."
"Pokoknya nggak."
Aisyah keluar dari kamar mandi, meninggalkan Gilang sendiri di dalam sana, lalu ponsel yang ia letakkan di atas nakas berdering, tertera jelas nama Rani pada layar ponselnya, ia pun menjawab panggilan itu.
"Kakak..."
Suara Rani terdengar begitu bahagia, ia pun mendudukan diri di tepian ranjang, sambil bicara dengan Rani dalam sambungan telepon.
"Ada apa?" ketus Aisyah.
Sontak hal itu cukup membuat Rani terkejut, dengan respon dari sang Kakak.
"Kakak, kenapa?"
"Nggak apa-apa, ada apa kamu telepon Kakak?" tanya Aisyah.
"Kakak katanya mau ke rumah, ko sampe sekarang belum datang? ada Kakek loh di sini, ada Kak Abiyu juga," membujuk Aisyah agar mau datang bertemu dengan mereka untuk makan siang.
Aisyah langsung menjawab tidak.
"Kakak kenapa?" Rani semakin kebingungan.
"Aku nggak apa-apa, Ran. Gilang lagi kurang enak badan nggak mungkin kan kalau aku ninggalin dia," ungkap Aisyah berbohong,
"Kalau begitu Kakek yang akan ke sana," sambar pak Herlambang yang memang sedang mendengarkan perbincangan mereka di samping Rani.
"Tapi..."
Belum selesai satu kalimat, sambungan telepon pun terputus.
"Kakek mau ke sini, dia nggak boleh tau kalau Gilang sedang mabuk," batin Aissyah. Tidak lama Gilang pun keluar dari kamar mandi, dengan langkahnya yang gontai menghampiri Aisyah.
"Isya, apa gue terlihat menyedihkan?" tanya Gilang dengan kesadaran 60%.
Aisyah mengangguk. "Sangat," jawabnya ketus.
"Kalau begitu, peluk gue!"
Kening Aisyah mengerut. "Aku nggak mau," tolaknya.
__ADS_1
"Tolong, Isya. Gue butuh elo, gue butuh bahu elo, gue hancur, bantu gue lupain Rani!"
Keadannya sangat menyedihkan, cintanya kepada Rani begitu besar, tetapi dia menderita dengan cinta itu, karena merasa kasihan, Aisyah pun berdiri memeluk Gilang, mengusap bahunya seraya menenangkan.
"Terima kasih, Isya. Lo mau kan bantu gue lupain Rani?"
Aisyah mengangguk tanpa berkata.
"Gue akan belajar mencintai lo, Isya. Gue harap lo juga mau belajar mencintai gue."
Aisyah bergeming karena terkejut, lalu Gilang melonggarkan pelukannya. "Lo mau kan belajar mencintai gue?" mengulang pertanyaan yang sama karena Isya belum menjawabnya.
"Mau kan?"
Kali ini Aisyah mengangguk, Gilang tersenyum.
"Tapi jangan mabuk lagi, ya!" pinta Aisyah.
"Iya, gue janji."
Tidak lama pak Herlambang pun datang, lalu Aisyah menemuinya di ruang tamu, setelah dipanggil oleh salah satu asisten rumah tangganya.
"Kakek..."
Pak Herlambang yang sedang duduk pun langsung berdiri memeluk cucunya.
"Aisyah, kamu baik-baik aja?" tanya sang Kakek pada cucunya.
"Alhamdulillah baik, Kek. Kakek baik-baik aja? Kakek sehat kan?"
Setelah puas memeluk, mereka berdua pun duduk, untuk berbincang.
"Di mana suamimu?" tanya Pak Herlambang.
"Gilang tidur, Kek," jawabnya berbohong, karena tidak ingin tahu kalau saat ini suaminya sedang mabuk.
"Ouh. Tapi kalian baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah kami baik-baik aja, Kek."
Pak Herlambang menatap lekat wajah cucunya begitu pucat, terlihat lebih kurus, ia mengusap pipi Aisyah, sambil tersenyum penuh rasa iba.
"Kakek kenapa?"
"Maafkan adikmu!" pinta Pak Herlambang, yang tahu kalau ada sedikit rasa amarah untuk Rani.
Aisyah bergeming, menunduk.
"Maafkan dia ya, Kakek tau ini berat, tapi dia tetap adikmu."
Aisyah berusaha kuat memandang wajah Pak Herlambng dengan senyum. "Iya, Kek. Aisyah akan belajar untuk bersikap kembali seperti semula kepada Rani, dan memaafkannya.
Pak Herlambang tersenyum. "Terima kasih, Isya. Sekarang katakan kamu mau apa dari Kakek."
__ADS_1
"Hhmm, ntah aku nggak mau apa-apa," jawab Isya.
"Bulan madu mungkin?"
"Kakek..." protes Aisyah.
"Hei, kamu butuh liburan, Sayang. Kamu butuh waktu berdua."
"Tapi aku belum kepikiran."
"Maka dari itu, pikirkanlah dari sekarang."
Aisyah bergeming.
"Kalian butuh waktu berdua, Sayang. Percaya sama Kakek, setelah bulan madu, kalian akan menumbuhkan rasa cinta diantara kalian," ujar Pak Herlambang yang tidak tega melihat kondisi Aisyah terlihat murung dengan keadaannya sekarang.
Aisyah pun mengangguk setuju.
"Nah, gitu dong. Katakan kamu mau pergi ke mana? biar nanti sekertaris Kakek yang urus semuanya.
"Terserah Kakek aja."
"Ya sudah, besok Kakek kasih kamu kabar ya."
Aisyah mengagguk.
"Oh iya, mertua kamu ke mana? Kakek ko belum liat?"
"Tante Anna lagi kerja, ada rapat perusahaan di kantor Gilang, karna Gilang belum bisa masuk kerja."
"Ouh, ya sudah. Kalau begitu, salam buat suamimu, salam juga buat mertuamu."
"Iya, Kek."
Merka pun berdiri dari duduknya.
"Kakek pamit dulu, yang lain pada nunggu Kakek di rumahmu."
"Iya, Kek."
"Kamu baik-baik ya."
Aisyah tersenyum, lalu Pak Herlambang pun berpamitan. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah pak Herlambang pergi, Aiyah pun kembali ke kamarnya, mendapati Gilang sedang tertidur di atas kasur, lalu Aisyah memilih duduk di atas sofa sambil memainkan handphone-nya.
"Isya."
Suara Gilang sedikit mengejutkan, ia pikir Gilang sedang tidur.
"Kenapa?" saut Aisyah.
__ADS_1
"Kemarilah, berbaring di sebelah gue!" titah Gilang membuat Aisyah gemetar ketakutan mendengar perintahnya.
"Berbaring di samping dia? nggak mungkin," batin Aisyah.