Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 28


__ADS_3

"Kakak mau ngomong apa?"


Rani terus berjalan mundur sambil tersenyum menatap wajah Gilang terlihat sedang serius.


"Kamu tau gak kenapa aku gak hubungin kamu pagi tadi?" kata Gilang terus berjalan mengikuti langlah Rani yang berjalan mundur.


"Karna aku lama hubungin kakak?" jawab Rani.


"Bukan."


"Lalu?"


"Karan kamu ngobrol sama Panji lama banget, aku kesel nungguinnya."


Rani tersenyum.


"Lama gitu? perasaan sebentar deh," ujar Rani.


Rani terus berjalan mundur, Gilang meraih tangan Maharani lalu menariknya dan hampir saja terjatuh dalam pelukan Gilang.


"Kak!"


"Aku serius. Aku gak suka kamu ngobrol sama Panji."


"Tapi aku kan gak macem-macem."


"Tapi kamu suka lupa waktu kalau teleponana sama dia."


"Kalau waktunya dipersingkat boleh?" tanya Rani coba bernegosiasi.


"Gak di depan aku, gak kalau kita lagi berdua."


Gilang sedikit memberikan kelonggaran.

__ADS_1


"Cemburu?" ledek Rani.


Gilang tersenyum menatap ke lain arah.


"Iya lah, kamu lebih banyak menghabiskan waktu sama Panji dari pada aku."


Kali ini Rani tertawa terbahak.


"Kakak aneh. A Panji kan gak ada di sini, gimana caranya aku banyak menghabiskan waktu sama dia?"


Mereka berdua kembali berjalan menyusuri bibir pantai sambil bergandengan.


"Tapi, setiap aku telepon kamu, selalu aja sibuk telepon si Panji. Apa gak kesel?"


"Wajar ya?"


"Ya iya lah. Pacar kamu itu Panji atau aku sih?"


"Jangan marah dong!"


Asik bermain di pinggir pantai, Gilang mengajak Rani duduk di bangku menikmati es kelapa hijau sambil makan jagung bakar.


Mereka berdua sangat menikmati waktu berdua berkencan seperti pasangan-pasangan lainnya tanpa adanya pengganggu.


Bukan hanya mereka saja yang menikmati suasana pantai di sore hari, banyak pasangan lainnya bersanti di bibir pantai saling bergandengan tangan, merangkul, bahkan ada juga yang tidak malu berciuman di depan umum.


Rani yang melihat hal itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. "Iih.. ganggu suasana aja," cetus Rani.


"Kenapa, Ran?" tanya Gilang sambil meraih tangan Rani.


"Pulang yuk, Kak!" rengek Rani.


"Ko pulang? jagungnya belum habis loh."

__ADS_1


Rani berdiri, lalu menarik tangan Gilang.


"Ayo, Kak!"


"Iya, iya."


Gilang pun mengalah lalu berdiri menuruti kemauan Rani yang memintanya untuk pulang.


Setelah saat itu, Rani mulai membatasi diri berinteraksi dengan Panji, sampai tidak terasa hubungan mereka berjalan empat tahun dan hari ini Panji akan kembali ke Jakarta dengan membawa gelar S1 sebagai mahasiswa terbaik pada tahun ini.


Bandara Soekarno Hatta. Rani, Aisyah, Pak Broto, juga Gilang saat ini berada di bandara menyambut kedatangan Panji dengan membawa buket bunga di tangan mereka.


Dengan gagahnya ia berjalan menghampiri mereka membawa koper besad berisi baju juga beberapa oleh-oleh untuk si kembar juga Fatih dan Azky.


Panji berdiri di depan Pak Broto, mencium punggung tangannya lalu berjalan menghampiri si kembar.


"Gimana kabarnya, A?" tanya Aisyah sangat antusis.


"Alhamdulillah baik, Non."


"Aa. Masih aja manggil aku Non, panggil nama aja."


Expresi wajah Aisyah antusias, bahagia, berbeda dengan Rani yang seperti lebih tenang, tidak seperti saat itu tanpa malu ia memeluk Panji di hadapan semua orang.


Panji tersenyum saat menghampiri Rani, dan pandangannya sempat teralihkan oleh tangan Gilang yang terus menggenggam tangan Rani.


Meskipun ada sedikit rasa cemburu, Panji berusaha biasa saja, karena Gilang adalah kekasih Rani sampai saat ini.


"Gimana kabar kamu?" tanya Panji dengan senyum.


"Aku_ baik," saut Rani sedikit gugup, ia terus tersenyum menatap wajah Panji.


"Aa, baik-baik aja?"

__ADS_1


"Alhamdulillah. Sekarang jauh lebih baik. Setelah menginjakan kaki di Jakarta, perasaan ku jauh lebih baik dan lebih tenang."


__ADS_2