
Lalu pesanan Ghani pun datang ke meja Cha nongkrong.
"Ini mas Ghani pesanannya. Kalau ada perlu yang lain, bisa panggil inem ya mas Ghani," ucap si inem dengan centilnya.
Ghani terkenal dengan cowok yang cuek dan pendiam. Dia adalah idola dikampus nya Cha. Ketika ospek berlangsung kemaren, Ghani selalu dipuja-puja kaum wanita. Tak jarang banyak yang mengirim makanan dan surat buat Ghani. Namun semua itu diserahkannya terhadap sahabatnya Imran.
Ghani dan Imran sudah bersahabat sejak mereka kecil. Imran selalu bermain bersama Ghani di rumah nya Ghani. Imran tetangga Ghani sebelum orang tuanya pindah tugas.
Ghani adalah anak dari seorang Pengusaha Furniture terkenal di Jakarta. Tidak hanya dalam negeri, bahkan sudah melanglang buana ke luar negeri. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya yang perempuan sedang sekolah tingkat menengah di Jakarta dan tinggal bersama kedua orang tuanya.
Sedangkan Imran berasal dari keluarga sederhana. Kehidupan Imran dan keluarganya tak luput mendapat bantuan dari keluarga Ghani. Sehingga Imran sangat menyayangi Ghani seperti saudaranya.
Kembali ke Cha dan Ghani. Saat ini pesanan makanan Ghani sudah datang. Lalu dari jauh Dewi berjalan ke arah meja mereka. Dewi melihat ada seorang laki-laki yang gabung bersama Cha. Namun Dewi tidak bisa melihat siapa laki-laki itu karena posisinya membelakangi Dewi.
"Cha nih pesanan kita," ucap Dewi sambil menoleh ke arah laki-laki yang sedang duduk dihadapan Cha.
Dan dia pun terkejut melihat sosok yang sangat populer dikampus ini.
"Kak Ghani..., OMG....!! teriak Dewi sambil menutup mulutnya. Dewi menatap Cha mencari jawaban dari Cha tentang keberadaan Ghani saat ini.
"Lo kenal Wi sama nih cowok?" tanya Cha sambil menatap Dewi.
"Dia cowok yang aku ceritakan Cha. Cowok populer dan menjadi pujaan bagi kaum kita waktu ospek kemaren," jelas Dewi dengan berbisik.
"Oh...," hanya itu jawaban dari Cha.
"Hai kak kenalkan saya Dewi sahabatnya Cha," ucap Dewi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"He'um," jawab Ghani acuh.
"Yeeee si kakak kulkas banget ya," celetuk Dewi kesal.
"Udah ayo makan, biar aja dia disini, asal jangan menggangu," ketus Cha sambil menatap Ghani.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, di meja lain ada sekumpulan perempuan-perempuan yang seangkatan dengan Cha dari berbagai jurusan.
"Eh, Lo kenal sama tuh cewek?" tanya temannya yang bernama Irma.
Lalu orang yang ditanya menoleh ke arah meja Cha. Dia melihat ada Cha dan Ghani.
"Oh...kenal. Dia kan maba jurusan Sastra Jepang dan satu kost sama gw," jawab temannya yang tak lain bernama Melda.
"Oh....gw gak suka dia dekat-dekat dengan Ghani," celetuk Irma.
"Ya biarin kali. Kenapa, apa Lo suka sama Ghani? Kalau iya biar gw bilangin. Dia kan ngekost di sebelah kost gw," ucap Melda yang membagi sedikit informasi.
"Wahhhh, mau-mau dong Mel...," bilangin dong ke dia salam dari gw ya, cewek tercantik seangkatan kita," ucap Irma penuh percaya diri.
"Huuuu, ada maunya baru baik. Kalau gak beuhhhh, gak tau mau bilang apa," ucap Melda sinis.
"Hahaha, udah biasa itu Mel. Dimana-mana, orang kalau ada maunya pasti baik-baik. Kalau gak ada maunya, baru menjauh," balas Irma ketus.
__ADS_1
"Iya kayak Lo kan," hardik Melda.
"Biarin," balas Irma.
Sedangkan di tempat Cha. Dewi masih tidak percaya dengan kehadiran sosok yang diidolakan di kampusnya. Dia sesekali mencuri pandang ke arah Ghani. Namun Ghani cuek dan menikmati makannya. Dan tanpa sepengetahuan Cha dan Dewi, Ghani memantau Cha yang sedang makan melalui handphonenya yang mengaktifkan kamera video. Cha tidak menyadarinya karena serius makan.
Ghani yang melihat kegiatan makan Cha melalui cameranya hanya bisa senyum-senyum sembari menikmati makannya.
Tiba-tiba Dewi berkata, "Kak Ghani kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Dewi ceplos.
Ghani mendongakkan kepalanya ke depan melihat kearah Dewi. Setelah itu dia kembali menikmati makanannya sambil melihat kearah kamera ponselnya.
"Kenapa Wi, kok malah bengong," tegur Cha.
"Ah, eh, nggak apa-apa Cha. Nih lagi ada kutub es pindah ke dekat kita jadi bawaannya dingin," sindir Dewi.
"Hahahaha, ah kamu bisa aja Wi. Sejak kapan kutub es bisa pindah, kalau gak orang yang seperti kutub es dekat dengan kamu," hardik Cha sambil tertawa memandang Dewi dan Ghani.
"Ya gitu deh," sambung Dewi.
Cha geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabat barunya itu. Lucu dan blak-blakan orangnya.
"Cha, nanti kita pulang bareng ya. Kost kamu kan sama dengan kost ku," ajak Ghani yang membuat Cha terkejut.
"What..! Kamu ngekost bareng dengan kost ku? Dimana?" tanya Cha penasaran.
"Masa kamu gak ngeh, kan disebelah kost mu itu ada kost laki-laki. Aku pernah lihat kamu," ucap Ghani sambil menatap Cha.
"Loh kenapa kamu gak panggil aku, kalau memang lihat," tanya Cha.
"Oh...kemaren ya. Kamu lagi dimana kok bisa ngelihat kami?" tanya Cha gugup.
"Aku sedang berada di depan kamar kost ku. Pas mau keluar nyari makan siang," jelas Ghani.
"Wah berarti kak Ghani satu kost sama kamu ya Cha. Bisa dong aku sering-sering ke kost kamu Cha," sambung Dewi.
"Idih main ke kost karena ada maunya," hardik Cha sambil tersenyum geli melihat Dewi.
"Hehehe, biarin," balas Dewi sambil ngekeh.
"Kamu udah selesai kuliahnya Cha?" tanya Ghani.
"Sudah, tapi nih mau nongkrong dulu disini," jawab Cha.
"Kak, kenapa Cha nya doang yang ditanya? Sesekali tanya aku dong. Kan pengen juga di perhatikan," sambung Dewi sambil memanyunkan bibirnya.
"Saya mau nanya cuma saya Cha doang," jawab Ghani cuek.
"Yeeee, atau jangan-jangan, kakak naksir ya sama Cha!" tebak Dewi sambil menatap Ghani dan Cha bergantian.
"Apaan sih Wi," ucap Cha yang protes ucapan Dewi.
__ADS_1
Ghani hanya diam saja dan tidak menjawab ucapan Dewi. Dia malah menatap ke arah Cha dengan lekat.
"Kalau Cha nya mau," jawab Ghani dengan jujur.
Cha tersedak mendengarkan jawaban Ghani yang menurutnya jujur.
"Waaaow....!! Cha Lo hebat bisa naklukin si kutub es ini," celetuk Dewi spontan.
Cha pun memplototin matanya menatap Dewi yang berbicara blak-blakan.
Dewi hanya cengengesan melihat sikap Cha yang mulai salah tingkah.
Sedangkan Ghani merasa senang karena perasaannya sudah diwakilkan untuk disampaikan oleh sahabat Cha.
"Udah yuk balik, katanya tadi mau ke perpus kan, lah ayo," ajak Cha yang sengaja menghindar dari Ghani.
"Loh bentar dong, kan blom kelar membahasnya," ledek Dewi sambil senyum-senyum.
"Udah kelar. Gak ada lagi yang perlu di bahas, ok," ucap Cha penuh penekanan.
"Iya-iya kita ke perpus. Daaaaa kakak ganteng..!" seru Dewi.
Cha meninggalkan Ghani begitu saja tanpa permisi. Sedangkan Ghani hanya tersenyum melihat Cha pergi dari hadapannya.
"Kamu sungguh menarik Cha," bathin Ghani.
Cha dan Dewi berjalan sepanjang ruangan kelas. Mereka memasuki perpustakaan. Disana gak sengaja Cha melihat Melda duduk bersama temannya yang perempuan sedang mencatat.
Tapi Cha tidak mau menyamperinnya. Dia mencari tempat duduk yang jarang dilewati mahasiswa. Karena dia gak mau Melda mendatanginya untuk bertanya tentang Zain.
Terrnyata Ghani juga keperpus mengikuti mereka dari belakang. Tapi Cha dan Dewi tidak mengetahuinya. Ghani pun ikut duduk bersama Cha. Dia tepat duduk dihadapan Cha.
Cha dan Dewi kaget melihat kehadiran Ghani yang tiba-tiba.
"Loh kak, ngekorin kita ya?" tanya Dewi ngasal.
"Hussst jangan berisik, nih perpus," jawab Ghani cuek. Namun dia melirik ke arah Cha yang bertepatan Cha juga melirik ke arah Ghani.
Cha menjadi makin salah tingkah. Bagaimana tidak, Ghani mengingatkan nya akan sosok Zain yang cool, cuek tapi romantis. Cha jadi teringat Zain.
"Bagaimana Zain ya, apakah dia jadi berangkat ke Paris ya?" bathin Cha bertanya.
"Cha, aku cari bukunya dulu ya. Kamu mau ikut gak?" tanah Dewi yang mengajak Cha.
Cha pun tersadar dan melihat Dewi sudah berdiri disampingnya.
"Ah, iya, kamu duluan aja. Nanti aku nyusul," jawab Cha sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Cha, kamu mau ngerjain tugas apa? Biar aku bantu," ucap Ghani yang menawarkan bantuannya.
"Tugas Pengantar Ilmu Komunikasi. Gak usah Ga. Aku bisa kok ngerjain tugasnya, makasih," balas Cha dengan senyuman.
__ADS_1
"Mana tau kamu butuh bantuan ku, bilang aja ya," ucap Ghani.
"Iya, gampang lah," sahut Cha.